Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pancaka Tirta Wajib Saat Upacara Bhuta Yadnya

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 29 September 2022 | 03:21 WIB
Akademisi UNHI Denpasar Ida Bagus Suatama. Dok Bali Express
Akademisi UNHI Denpasar Ida Bagus Suatama. Dok Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS-Selain Tabur Rah, saat upacara Bhuta Yadnya, secara umum masyarakat Bali juga menggunakan tirta sebagai sarana penyucian. Bahkan, masyarakat kerap menggunakan pancaka tirta dalam berbagai ritual.

Akademisi UNHI Denpasar Ida Bagus Suatama menjelaskan, pancaka tirta adalah tirta yang digunakan oleh masyarakat Hindu, terutama di Bali saat ini, ketika melaksanakan Bhuta Yadnya.

Pancaka tirta terdiri dari tirta putih arak (purwa), tirta barak/getih/darah (daksina), tirta kuning (pascima) tuak, tirta hitam (utara) berem, dan tirta netral di tengah yang disimbolkan dengan air putih.

Berbagai nyanyian kidung mengiringi pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya itu. Mulai dari kidung Wargasari misalnya, Tirta Saking Luhur, Tirta Panca Dewatane, Wisnu Tirta Kamandalu, Hyang Iswara Sanjiwani, Mahadewa Kundalini, Hyang Brahma Tirta Pawitra dan Hyang Siwa Pamuput.

Konsepsi pangider-ider juga bisa disimak dalam kidung berikut: “Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara dewatanya, ring papusuh prenah ira, alinggih sira kalihan. Artinya, di timur teratai putih, dewatanya ialah Hyang Iswara, pada jantung tempatnya, duduk berdua.

“Ring daksina tunjunge mirah, Sang Hyang Brahma dewatanya, ring ati prenah nira, alinggih sira kalihan”. Artinya, di sebelah selatan teratai merah, dewatannya ialah Sang Hyang Brahma, pada hati tempatnya, duduk berdua.

“Ring pascima tunjung jenar, mahadewa dewatanya, ring ungsilan prenahira, alinggih sira kalihan." Artinya, di sebelah barat teratai kuning, dewanya ialah Mahadewa, pada ungsilan tempatnya, duduk berdua.

“Ring uttara tunjung ireng, Sang Hyang Wisnu dewatanya, ring hampru prenah nira, alinggih sira kalihan”, artinya, di sebelah utara teratai hitam, dewatanya ialah Sang Hyang Wisnu, pada empedu tempatnya, duduk berdua.

“Bhatara Siwa pinuju, teleng ing Gangga wimala, tumuta watek dewata, king pinuju ring manusa...”. Artinya, Bhatara Siwa dipuja, di tengah-tengah Gangga yang suci, para dewata ikut serta, yang dipuja oleh manusia.

Ketika masyarakat melaksanakan upacara, khususnya Bhuta Yadnya, penggunaan tirta atau pancaka tirta ini wajib digunakan. “Salah satu sarana yang harus ada dalam proses Bhuta Yadnya adalah penamburan darah binatang dalam rangka memohon keseimbangan kepada penguasa alam, agar manusia hidup dengan rahayu dan damai,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#UNHI Denpasar #Tabuh Rah #bali #balinese #Tabur Rah #adat #hindu #pura #Pancaka Tirta #Bhuta Yadnya #Warisan Sekte Bhairawa