Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terampil Saja Tak Cukup Jadi Sangging dalam Upacara Matatah

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 3 Oktober 2022 | 13:40 WIB
SANGGING : Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara jadi sangging dalam upacara Matatah massal Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar, Jumat (29/7) lalu.
SANGGING : Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara jadi sangging dalam upacara Matatah massal Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar, Jumat (29/7) lalu.
BULELENG, BALI EXPRESS - Upacara Matatah atau potong gigi tidak terlepas dari peran sangging. Sangging adalah adalah seorang yang bertugas untuk 'memotong' gigi pada proses upacara Matatah. Selain bertugas mengasah dengan kikir kedua gigi taring dan empat buah gigi seri di rahang atas, sangging juga memberikan pangurip gigi yang dibuat dari kunyit, kapur sirih dan gosokan kayu cendana.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika, mengatakan upacara Matatah atau sering juga disebut dengan Mapandes termuat dalam berbagai lontar. Seperti Lontar Puja Kalapati, Lontar Kala Tattwa, Lontar Smarandhana dan lainnya.

Dalam Lontar Kalapati disebutkan bahwa potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati, yaitu manusia yang berbudi dan suci, sehingga kelak  bila meninggal dunia, sang roh dapat bertemu dengan para leluhur di Sorgaloka.

Lontar Kala tattwa menyebutkan bahwa Bathara Kala sebagai putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma tidak bisa bertemu dengan ayahnya di Surga sebelum taringnya dipotong. Oleh karena itu, manusia hendaknya menuruti jejak Bathara Kala agar rohnya dapat bertemu dengan roh leluhur di Surga.

Sedangkan dalam Lontar Semaradhana disebutkan, Bathara Gana sebagai putra Dewa Siwa yang lain dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka yang menyerang Sorgaloka dengan menggunakan potongan taringnya.

Dikatakan Suardika, prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Matatah memiliki tujuan untuk melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang anak yang menuju tingkat kedewasaan.

“Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat negatif yang digambarkan sebagai sifat bhuta, kala, pisaca, raksasa dan Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Sad Ripu meliputi Kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk), Moha (bingung), dan Matsarya (iri hati),” terang Suardika.

Dalam proses Matatah ini, gigi yang ada bukan dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan, termasuk gigi taring, semunya itu melambangkan Sad Ripu. Prosesnya hanya memakan waktu sekitar 10 sampai 15 menit. Dengan catatan yang melakukan haruslah seorang yang ahli yang disebut sangging.

Para sangging biasanya orang yang telah diinisiasi menjadi pinandita yang memang memiliki ketrampilan untuk itu. Mereka yang menjadi sangging sebelumnya sudah pernah mawinten. Baik dengan banten ayaban bebangkit maupun penyucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana yang berfungsi sebagai pelindung manusia. Jadi, menjadi seorang sangging tidak cukup hanya terampil dalam bidangnya saja.

Mantra-mantra harus diucapkan oleh sangging sebelum melakukan tugasnya supaya upacara berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga. “Sangging yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan Ongkara pada gigi dan dada,” imbuhnya.

Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka. Menariknya, tempat Matatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga. “Oleh karena itu upacara Matatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit. Termasuk juga menggunakan rerajahan Semara Ratih dengan tujuan untuk menangkal serangan magic seperti desti, teluh yang berniat menggagalkan acara,” ungkapnya.

Sebelum upacara dimulai, orang yang giginya akan dipotong terlebih dulu mulutnya diganjal dengan potongan dari kayu dadap atau tebu. Kemudian kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu diakhiri dengan menggigit daun sirih pertanda berakhirnya proses Matatah.

Air liur yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung. Setelah itu, mereka pun diperciki dengan air suci atau tirta pembersihan/penyucian oleh sangging. Lalu sembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widhi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka.

“Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan penggunaan sarana berupa Kewangen,” imbuhnya.
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Terampil Saja Tak Cukup #balinese #Upacara Matatah #Ketua PHDI Kecamatan Buleleng #hindu #pura #tradisi #Nyoman Suardika #Sarana Matatah #Jadi Sangging