Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Klakat bagi Umat Hindu di Bali Adalah Simbol Panca Mahabutha hingga Kemahakuasaan Tuhan

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 6 Oktober 2022 | 21:47 WIB
KLAKAT :  Penggunaan Klakat sebagai sarana ritual dalam berbagai upacara Panca Yadnya. I Putu Mardika/Bali Express.
KLAKAT :  Penggunaan Klakat sebagai sarana ritual dalam berbagai upacara Panca Yadnya. I Putu Mardika/Bali Express.

BULELENG, BALI EXPRESS - Klakat menjadi salah satu sarana yang sering digunakan dalam berbagai upacara yadnya umat Hindu di Bali.

Bagi umat Hindu di Bali, klakat yang berupa anyaman bambu berbentuk segi empat (bujur sangkar) ini sebagai simbol Panca Mahabutha hingga konsep Asta Aiswarya atau delapan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Murniti mengatakan ukuran Klakat memang bervariasi, sesuai dengan kebutuhan upacara bagi umat Hindu di Bali.

Di dalamnya terdapat lubang-lubang berbentuk segi empat.  Adapun jumlah lubang Klakat Pancak yaitu 25 buah, secara vertikal lima buah dan secara horizontal lima buah.

Photo
Photo
Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Murniti Ist

Pancak berasal dari kata panca yang dalam istilah Bali berarti lima. Lima ini merupakan jumlah lubang secara vertikal dan horizontal.

Kata panca, lanjutnya, merupakan simbol Panca Mahabutha. Panca Mahabutha adalah lima unsur elemen atau zat dasar yang membentuk lapisan makhluk hidup.

Baik di bhuwana agung atau alam semesta maupun bhuwana alit (tubuh manusia).

Murniti mengatakan, Klakat Pancak ini digunakan sebagai alas suatu upakara atau banten. Baik sebagai alas upakara caru, sebagai alas upakara saji, dan sebagai komponen dasar pembuatan Sanggah Cucuk.

“Selain Klakat Pancak, dalam sarana upakara Hindu juga dikenal yang namanya Klakat Sudhamala. Klakat ini juga terbuat dari bambu dan berbentuk segi empat bujur sangkar,” ujarnya.

Bila dilihat secara seksama, Klakat Sudhamala pada bagian tengahnya tidak seperti Pancak yang berbentuk kotak-kotak dan memakai tangkai.

Ukuran bambu yang digunakan untuk membuat Klakat Sudhamala adalah 10 hingga 15 cm dan dengan bahan tiying kuning atau bambu yang sudah tua dan kuning.

Klakat Sudhamala dibuat dengan konsep Purusa dan Pradana atau Prakerti, sehingga terdiri atas dua jenis, yaitu lanang (laki-laki) dan istri (perempuan).

Klakat Sudhamala yang laki-laki, pada lubang tengahnya terdapat tanda silang. Tanda silang tersebut mengandung simbol Swastika yang berarti empat kemahakuasaan Sang Hyang Widi yang disebut Cadhu Sakti.

Yakni empat kesaktian atau kekuatan atau kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi.

Empat kesaktian atau kekuatan tersebut adalah Wibhu Sakti, yaitu Sang Hyang Widi Maha Besar. Sadu Sakti, yaitu Sang Hyang Widi Maha Ada. Jnana Sakti atau Sang Hyang Widi Maha Tahu, dan Krya Sakti, yakni Sang Hyang Widi Maha Kerja.

Sedangkan untuk Klakat Sudhamala perempuan hanya terdapat lubang dengan tepian delapan sudut (segi delapan).

Sudut delapan merupakan simbol delapan kemaha muliaan Sang Hyang Widi atau Asta Aiswarya.

Delapan kemahamuliaan Sang Hyang Widi terdiri atas, Anima, yaitu Sang Hyang Widi bersifat kecil, sekecil-kecilnya. Laghima, Sang Hyang Widi bersifat ringan, seringan-ringannya. Mahima, Sang Hyang Widi Maha Besar.

Prapti, Sang Hyang Widi dapat mencapai segala-galanya. Prakamnya, Sang Hyang Widi dapat mencapai segala yang dikehendaki. Kemudian Istiwa, Sang Hyang Widi merajai segalanya, dan Yatrakamawasayitwa, Sang Hyang Widi memiliki sifat Wyapiwyapaka.

“Klatkat Sudhamala biasanya digunakan sebagai pelengkap upakara. Biasanya diletakkan pada Sanggah Surya. Selain itu, klakat ini juga digunakan sebagai pelengkap pada Upacara Nyekah Neseng,” imbuhnya.

Baca Juga: Upacara Umat Hindu di Telun Wayah, Bakti Sarin Wujud Syukur Hasil Pertanian

Berdasarkan berbagai referensi, Klakat Pancak maupun Sudhamala merupakan sarana upakara yang dibuat berdasarkan konsep Purusa dan Prakerti dengan kemahakuasaan sebagai Cadhu Sakti dan Asta Aiswarya.

Kedua jenis Klakat ini banyak digunakan pada perlengkapan upacara Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya.

“Sarana ini juga digunakan sebagai perlengkapan dalam banten untuk upacara menimbun sumur, klakat Sudhamala yang digunakan sebagai alas nasi sasah 5 warna. Dan sebagai klakat dalam upacara ngaben atau atiwa-tiwa,” katanya.

Secara umum Klakat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yakni Klakat Agung, Sudhamala Lanang dan Sudhamala Istri. Ketiganya difungsikan untuk berbagai upacara, baik besar maupun upacara kecil.

Dijelaskan Wayan Murniti, Klakat Agung secara fisik berbentuk persegi empat memiliki pamepet dan memiliki tanda silang yang berada di tengahnya.

Tanda silang ini berfungsi menopang bebantenan agar tidak jatuh. “Biasanya digunakan untuk upacara besar seperti piodalan, melasti, melaspas,” ungkapnya.

Selanjutnya klakat Sudhmala, biasa digunakan sebagai sarana upasaksi. Klakat ini tidak lepas dari konsep Purusa dan Pradana. Purusa adalah jiwa dan  pradana artinya badan material.

Purusa juga disimbolkan sebagai benih laki-laki dan Pradana atau prakerti sebagai benih perempuan. Sehingga dengan adanya pertemuan antara purusa dan pradana inilah disebutkan melahirkan kehidupan yang harmoni di alam ini.

“Klakat Sudhamala Lanang ini terdapat lubang tengah memakai tanda silang, mengandung simbol Swastika. Klakat Sudhamala Istri memiliki lubang bersudut delapan. Dibuat lubang bersudut delapan mengandung makna delapan kemahamulian Sang Hyang Widhi,” pungkasnya.

 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Simbol Panca Mahabutha #balinese #upacara #adat #hindu #Kemahakuasaan Tuhan #tradisi #Klakat