Tidak ada catatan tertulis sejak kapan Pura Siwa Manik Dalang berdiri. Namun, sejarah panjang yang ditorehkan diyakini bahwa pura ini sudah dipugar pada abad ke-15 ketika Raja Panji Sakti memimpin Buleleng.
Sekretaris Pangempon Pura Siwa Manik Dalang Nyoman Sudiarta menjelaskan, sejarah pura itu tidak terlepas dari sosok I Dewa Bagus Manik Dalang. Sosok asal Klungkung ini diyakini sebagai orang pertama mementaskan kesenian wayang kulit di Bali.
Konon, dalam beberapa penuturan para pendahulunya, disebutkan bahwa I Dewa Bagus Manik Dalang melakukan perjalanan dari Klungkung menuju Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng untuk mencari keluarganya terlebih dulu berada di Desa Gobleg.
Orang tuanya menetap di Desa Gobleg sampai meninggal di sana, sedangkan I Dewa Bagus Manik Dalang melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat tinggal yang lebih dekat ke pusat pemerintahan, yaitu Buleleng.
Sempat tinggal di Dusun Munduk Piseng, Desa Anturan. Tidak terlalu lama tinggal di sana, akhirnya menuju Desa Pemaron.
Tujuannya ke Pemaron adalah ingin mencari tempat yang lebih representatif antara Buleleng ke arah timur dan arah barat.
Di Desa Pemaron ketika itu ada yang kesurupan oleh panembahan atau sesuhunan yang disungsung oleh I Dewa Manik Dalang. Termasuk juga memerintahkannya supaya menetap dan bertempat tinggal selamanya di Desa Pemaron serta melaksanakan kewajiban sebagai dalang sampai pada keturunannya untuk selama-lamanya.
“Sejak itulah beliau terus menetap di Desa Pemaron dan tempat tinggal beliau dijadikan sebagai lokasi Pura Siwa Manik Dalang,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini.
Sejak pemerintahan Raja Gendis abad XV, Pura Siwa Manik Dalang ditata dan dipugar kembali sampai pada zaman Raja Panji Sakti tahun 1584. Kemudian pada tahun 1657 para dalang yang akan menyucikan diri atau mawinten dilaksanakan di Pura Siwa Manik Dalang. Bahkan, diyakini para dalang tersebut akan bertambah terkenal seperti dalang yang ada di Desa Tejakula, Patemon, Sukasada, Padangbulia, Penglatan, dan Banjar.
“Memang banyak yang sudah membuktikan hal tersebut. Sehingga para dalang sering nangkil ngayah ke Pura Siwa Manik Dalang,” imbuh pria asal Mengwi, Badung ini. Pamangku di Pura Siwa Manik Dalang adalah keturunan (totosan) dari panglingsir terdahulu.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya