Tradisi Nyeret merupakan rangkaian dari aci Pangayu-ayu Purnama Kapat di Desa Adat Ababi, dan sebagai bentuk kesiapan krama desa menyambut tedunnya Ida Bhatara Ngurah Sakti menuju Pura Puseh. Dalam pelaksaannya melibatkan ratusan krama lanang (laki-laki), baik anak-anak, remaja hingga orang tua.
Klian Desa Adat Ababi I Gede Pasek Ariana menerangkan, mereka yang mengikuti tradisi Nyeret dimulai dari Pura Laga, Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang.
Sebelum menuju Pura Laga, para pangayah berkumpul di Pura Puseh Ababi untuk melakukan persembahyangan bersama. “Setelah selesai sembahyang, kami angkut menggunakan mobil menuju Pura Laga,” jelasnya.
Mulai dari Pura Laga, mereka berjalan kaki menuju Pura Pasucian Cenana, yang jaraknya sekitar 6 km dari Pura Laga. Setelah dari Pasucian Cenana, Ida Bhatara yang tedun dari Pura Laga akan menuju Pasucian Jepun bersamaan dengan Ida Bhatara yang berstana di Pura Puseh.
Pasek Ariana menambahkan, krama yang mengikuti tradisi itu tidak boleh pakai baju. Mereka diharapkan mengenakan udeng warna merah agar seragam. Selain itu, juga kompak memakai saput poleng (kotak-kotak hitam-putih).
Dalam perjalanan dari Pura Laga, semuanya menghunus keris, lalu dinaikkan. Kata Pasek Ariana, pangayah tidak diperbolehkan menurunkan keris yang dipegangnya itu, supaya lebih sakral dan demi keselamatan pangayah.
“Kalau capek, bisa dimasukkan ke sarungnya. Tidak ada sanksi terkait itu, karena ini murni ngayah. Dalam perjalanan juga pangayah tidak boleh berkata kasar,” paparnya.
Tradisi ini diakuinya dilaksanakan setiap dua tahun sekali, dilaksanakan dua hari setelah puncak aci Pangayu-ayu. “Puncak aci dilaksanakan pada kajeng nemoning Purnama Kapat. Kebetulan tahun ini kajeng bertepatan dengan Purnama Kapat,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya