Beragam tari-tarian mengiringi jalannya upacara yang terakhir kali digelar pada tahun 1953 silam. Klian Adat Banjar Tampak Gangsul AA Ketut Ekayadnya, Rabu (12/10) mengatakan, pelaksanaan karya ini merupakan upacara Dewa Yadnya. Di mana karya ini pada umumnya diadakan setiap 30 tahun sekali.
Dalam upacara ini, semua palinggih yang ada di parahyangan banjar melaspas dan mendem pedagingan. “Semua palinggih yang ada di merajan Banjar Tampak Gangsul, termasuk bale kulkul,” kata Ekayadnya.
Dijelaskannya, sebelum puncak karya, diawali dengan tarian seperti Rejang Dewa, Wayang Lemah, Topeng Keras, Topeng Tua, Topeng Penasar, Topeng Arsa Wijaya, dan Topeng Sidakarya serta Tari Baris.
“Ini adalah salah satu bentuk untuk meningkatkan sradha bhakti yang ada di setiap umat. Apalagi di komunitas masyarakat seperti banjar, perlu diapresiasi bagaimana membangun sradha bhakti masyarakat melalui upacara yang dilaksanakan,” jelasnya.
Tiga sulinggih muput upacara itu, yakni Ida Pedanda Gede Made Karang dari Griya Karang Tampak Gangsul, Ida Pedanda Gede Oka Karang dari Griya Lumintang dan Ida Pedanda Gede Oka Mas dari Griya Satria.
Selaku Yajamana karya, yakni Ida Pedanda Made Karang. Pihaknya berharap upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralkan hal-hal negatif di lingkungan desa maupun banjar setempat.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya