Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sunari Simbol Panca Suara, Ada Tujuh Lubang Sarat Makna

Nyoman Suarna • Kamis, 20 Oktober 2022 | 17:36 WIB
Sunari yang terpasang di acara Ngenteg linggih di Singaraja. (I Putu Mardika/Bali Express)
Sunari yang terpasang di acara Ngenteg linggih di Singaraja. (I Putu Mardika/Bali Express)
BALI EXPRESS- Sunari menjadi salah satu uparengga atau sarana pelengkap upacara yadnya seperti Ngenteg Linggih, Ngusabha Nini, Mamukur, maupun mabiukukung di sawah. Sarana yang terbuat dari bambu ini wajib dilubangi dengan beragam bentuk simetris bertujuan agar para widyadara-widyadari atau para dewa-dewi turun dari kahyangan menyaksikan dan menganugerahkan kesejahteraan saat upacara berlangsung.

Kelian Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna menjelaskan saat melaksanakan ritual, umat Hindu di Bali pada umumnya tidak terlepas dari panca suara, yakni suara kulkul/sunari, gamelan, kidung, genta, dan mantra.

Menurutnya, Panca Suara tidak lepas dari konsep estetika Hindu Satyam, Siwam, dan Sundaram. Setiap suara yang ditimbulkan memiliki makna pemujaan terhadap dewa tertentu dan memiliki kekuatan seperti Sang Hyang Smara ratih, Dewata Nawa Sanga, Panca Brahma, Panca Bhuta, dan Panca Dewata, Catur Loka Phala. Kesakralan suara ini ditunjukkan dengan adanya ritual khusus sebelum menggunakan suara-suara tersebut.

Salah satunya adalah Sunari. Secara arti kata, sunari berasal dari kata su dan nari. Su berarti baik atau taksu. Sedangkan nari berarti widyadara dan widyadari. “Ada juga yang memaknai sunari itu artinya sinar. Ada juga sunari itu kaitannya dengan sundari atau buluh perindu, maupun wanita cantik,” sebutnya.

Sunari lazimnya dipasang di parahyangan bersamaan dengan prosesi ngingsah galih maupun menstanakan Sang Hyang Dewi Tapeni dan Dewa Rare Angon. Ini menandakan jika ritual atau yadnya siap untuk dimulai dan dituntaskan pelaksanannya. Sunari biasanya dipasang agak tinggi pada arah timur laut dari halaman pamerajan atau pura.

Sutrisna yang juga kolektor puluhan lontar menyebutkan, dalam Lontar Dewa Tatwa, dijelaskan agar masyarakat yang menggelar upacara keagamaan, dan upacara besar lainnya diwajibkan untuk memasang Sunari.

Bahan utama pembuatan dari sunari adalah bambu gading (kuning) yang ruasnya rata-rata sama panjang. Selain itu, kulit bambu harus tipis agar menghasilkan suara yang nyaring saat ditempa angin.

Suara sunari dihasilkan dari lubang yang dibuat pada bambu. Cara kerjanya, Pada saat lubang tersebut terkena angin maka akan menghasilkan pola bunyi yang khas. Ada tujuh lubang yang dibuat dari atas ke bawah. Lubang paling atas berbentuk segitiga sama sisi yang melambangkan nada atau bintang. Kemudian lubang kedua berbentuk bulat atau nol melambangkan windu.

Selanjutnya pada lubang ketiga berbentuk bulan sabit yang melambangkan ardha candra. Lubang keempat berbentuk tegak lurus sebagai lambang purusa atau lingga. Lubang kelima berbentuk lesung yang melambangkan yoni atau pradana.

Lubang keenam berbentuk swastika yang merupakan simbol keseimbangan. Dan lubang ketujuh yang posisinya paling bawah itu berbentuk segi empat yang melambangkan bumi. “Ketika Sunari ditiup angin, maka ini akan mengeluarkan suara yang sangat merdu. Saking merdunya dianalogikan membuat para widyadara dan widyadari, dewa-dewi menjadi senang sebagai pertanda jika yadnya yang dilaksanakan juga mendapatkan anugerah,” sebutnya.

Bunyi sunari juga diyakini dapat memberikan harmonisasi, ketenangan lahir batin bagi masyarakat yang memiliki hajatan upacara. Bunyi Sunari memiliki pengaruh terhadap psikologi manusia. Disebutkan bahwa keharmonisan muncul karena bunyi Sunari yang tertiup oleh angin.

Suara harmoni tersebut secara tidak langsung memberikan efek kosmologis yang dapat mempengaruhi keseimbangan vibrasi tubuh manusia karena suaranya yang menenangkan. Menurutnya, Sunari adalah simbol manifestasi Tuhan yang menghantarkan manusia dalam melaksanakan yajna untuk mewujudkan rasa damai dan harmonis.

Sunari adalah untuk menangkap suara alam. umat Hindu di Bali meyakini bumi dan planet-planet lainnya memiliki suara tersendiri, jika suara itu dipadukan ditangkap melalui sunari akan terdengar indah dan menambah heningnya ritual.

Selain dilubangi, pada bambu juga dihiasi menyerupai wujud kera yang terbuat dari ijuk. “Kera dari ijuk ini sebagai simbol dari Sang Hyang Maruta atau Hanoman. Saat digunakan, ijuk berwujud kera ini bisa menjadi penanda arah mata angin,” ungkap mantan Kadis Kebudayaan Buleleng ini.(dik) Editor : Nyoman Suarna
#Tujuh Lubang Sarat Makna #Panca Suara #Suara Sunari