Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Panglukatan di Desa Pancasari Dipercaya Tempat Memohon Kesembuhan

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 29 Oktober 2022 | 03:00 WIB
MASAM: Jro Mangku Wayan laba saat menunjukkan Tirta Yeh Masem yang rasanya masam. I Putu Mardika/Bali Express
MASAM: Jro Mangku Wayan laba saat menunjukkan Tirta Yeh Masem yang rasanya masam. I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS -Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng sebagai kawasan penyangga Bali Utara memiliki sumber mata air yang berlimpah. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air minum, mata air di kawasan itu kerap dijadikan sebagai tempat malukat (ritual membersihkan diri)

Salah satu sumber mata air yang ada di Pancasari adalah Muara Puncak Sangkur. Sumber mata air ini bisa diakses melalui jalur Bali Handara. Untuk menjangkaunya bisa diakses dengan sepeda motor. Namun, karena kondisi jalan terjal, maka lebih aman jalan kaki. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit dari jalan raya.

Suasana yang asri dan dipenuhi dengan pepohonan membuat sumber mata air Muara Puncak Sangkur ini sangat terjaga. Airnya juga jernih. Ada lima titik mata air yang bisa digunakan sebagai sarana untuk malukat.

Jro Mangku Nyoman Pening, pamangku Pura Subak di Pancasari mengatakan, posisi Desa Pancasari yang berada di hulunya Buleleng dan perbukitan, sehingga banyak sumber mata air.

Oleh masyarakat, sumber mata air ini juga digunakan untuk minum dan mengairi lahan pertanian. Selain itu, masyarakat meyakini sumber mata air bertuah untuk malukat dan menghilangkan berbagai penyakit.

Dikatakan Mangku Pening, konon, sebelum Desa Pancasari dihuni penduduk, sejumlah masyarakat berusaha mencari sumber air sekitar tahun 1908. Kalau memungkinkan ada sumber air, maka bisa dihuni oleh masyarakat. Inilah menjadi cikal bakal yang melakukan penelusuran terkait sumber air.

“Awalnya datang dengan empat kepala keluarga untuk mengecek keberadaan di areal Benyah dan Banjar Lalanglinggah. Saat itu dipimpin oleh Dane Gusti Agung Ketut Jen. Beliau sebagai pemimpin pertama dan diikuti oleh tiga orang, diantaranya Wayan Sudarma, I Gusti Ketut Suteja dan I Gusti Made Murka,” jelasnya.

Setelah melakukan pencarian yang cukup melelahkan, akhirnya empat orang tersebut berhasil menemukan mata air di Madyaning Pucak Mangu. Lambat laun, akhirnya dibuatlah perkumpulan untuk mengurusi jalur air.

Karena sudah ditemukan mata air, masyarakat terus berdatangan. Jumlahnya semakin bertambah, yakni sebanyak 12 orang. Mereka membentuk perkumpulan seperti adanya kelian sekaa yeh, Kemudian membuat sekaa subak abian di kawasan Benyah.

Setelah menemukan titik sumber air, barulah dipasang pipa bambu sepanjang 2 kilometer. Air tersebut dipakai memenuhi kebutuhan masyarakat di Pancasari. Karena sumber air sudah ada, barulah membangun Desa Pancasari yang diawali dengan membentuk subak abian untuk mengairi tanaman.

“Kurang lebih tahun 1916, setelah air bisa dinikmati, barulah dibangun Pura Subak. Dipimpin oleh Ida I Gusti Agung Ketut Jen. Ini cikal bakalnya,” paparnya.

Lalu apa keunikan dari sumber air di Muara Pucak Sangkur ini? Dikatakan Jro Mangku Pening, saat ini ada lima titik mata air yang digunakan sebagai panglukatan. Bahkan, mata air ini juga kerap dijadikan untuk pengobatan berbagai penyakit.

“Inilah keunikan dari mata air Madyaning Pucak Mangu. Sampai sekarang sudah ada yang ke sini untuk malukat dan untuk berobat. Beragam testimoni muncul dari masyarakat yang berobat. Sebelumnya kondisinya saat datang banyak yang sakit, dan sekarang sudah sembuh seperti sediakala,” katanya lagi.

Banten yang harus dihaturkan diantaranya pekeling peras pejati, panglukatan. Di areal panglukatan ini diyakini berstana adalah Dewa Bagus Dewi Gangga dan Ida Bhatara Wisnu.

“Mata air ini sumbernya dari beberapa titik. Kalau yang datangnya mata air dari timur, ini sumbernya dari Pucak Tirta Mampeh. Dan ada juga dari Puncak Tirta Mangu. Kalau malukat disarankan di bawah palinggih. Biar tidak mengganggu, karena airnya diminum oleh masyarakat,” sarannya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #Pura Taman Beji #Panglukatan di Desa Pancasari #hindu #pura #Rasa Air Unik #Tempat Memohon Kesembuhan