Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nyangket dan Stanakan Nini Pantun sebelum Panen Padi

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 16 Desember 2022 | 00:17 WIB
NYANGKET : Ritual Nyangket diawali dengan mengambil padi di sawah yang akan dipanen sebanyak 1 ikat kecil, kemudian padi tersebut dihiasi dengan kain putih kuning, bunga dan hiasan lainnya layaknya pretima, dan selanjutnya dibawa ke rumah dan di-linggih-k
NYANGKET : Ritual Nyangket diawali dengan mengambil padi di sawah yang akan dipanen sebanyak 1 ikat kecil, kemudian padi tersebut dihiasi dengan kain putih kuning, bunga dan hiasan lainnya layaknya pretima, dan selanjutnya dibawa ke rumah dan di-linggih-k
BULELENG, BALI EXPRESS -Sebagai manifestasi dari Dewi Sri, maka Cili memegang peranan yang sangat penting dalam upacara agraris di Bali. Ada sejumlah ritual yang dilaksanakan saat ngadegang Batara Sri di jineng dan erat kaitanya dengan Cili.

Seperti Upacara Nyangket. Upacara ini dilaksanakan sebelum petani melakukan panen padi di sawah. Upacara ini bertujuan memohon izin dan penghormatan pada Dewi Sri sebagai Dewi kesuburan dan kemakmuran, karena akan melaksanakan kegiatan panen padi.

Dikatakan Dosen Upakara, UNHI Denpasar, Gusti Ayu Artati, ritual Nyangket diawali dengan mengambil padi di sawah yang akan dipanen sebanyak 1 ikat kecil, kemudian padi tersebut dihiasi dengan kain putih kuning, bunga dan hiasan lainnya layaknya pretima, dan selanjutnya dibawa ke rumah dan di-linggih-kan di jineng.

Padi yang distanakan tersebut biasa disebut Nini Pantun. Dalam tradisi agama Hindu di Bali kata pantun adalah sebutan lain dari padi atau padi yag masih memiliki batang (katik padi). Nini Pantun dipercayai sebagai simbolisasi dari Dewi Sri.

Setelah Nini Pantun distanakan di jineng barulah petani dapat melaksanakan kegiatan panen di sawah. Adapun upakara yang digunakan pada upacara ini pajati, canang gantal, canang lenge wangi, dan segehan putih kuning, Berbagai sarana upacara Nyangket tersebut digunakan dalam pelaksanaannya dengan hati yang tulus iklas.

Mretenin Pantun, dalam lontar Ciwa Gama disebutkan bahwa Ida Batara Sri adalah Dewinya Padi dan disimbolkan sebagai wadu (istri/wanita), itu sebabnya Beliau disebut Dewinya Padi. Upacara ini dilakukan pada saat padi yang sudah dipanen di sawah dibawa pulang ke rumah dan akan ditaruh di jineng belum dikonsumsi.

“Upacara mretenin pantun ini tujuanya adalah sebagai ucapan syukur akan hasil panen yang berhasil dan memohon izin kepada Dewi Sri yang malinggih di jineng agar menjaga padi secara niskala di jineng tersebut,” ungkapnya.

Kemudian Nedunang Pantun, merupakan salah satu upacara menurunkan padi dari lumbung (jineng) yang akan dipakai, diolah maupun dikonsumsi oleh pemilik padi dari jineng yang akan dipakai, diolah maupun dikonsumsi oleh pemilik padi.

“Cili ini sebagai lambang dari dewi sri sangat penting digunakan dalam ritual pertanian, sebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi atas hasil panen dan kesejahteraan,” tutupnya.

 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#sawah #UNHI Denpasar #bali #Cili #balinese #Dosen Upakara #Gusti Ayu Artati #hindu #Simbol Dewi Sri #Ritual Agraris #tradisi