Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, teks Siwa Tattwa Purana dijadikan dasar atau refrensi dalam ritual kematian di Bali, khususnya dalam upacara Atiwa-tiwa, Nyekah, Mamukur, Ligya hingga Angluwer.
Dalam naskah disebutkan, upacara kematian dilakukan oleh para dewa sebagai 'anak' dari Sang Hyang Jagadpati. Secara tidak langsung, teks Siwa Tattwa Purana menyebutkan bahwa ritual upacara kematian umumnya dilakukan oleh anak.
Tidak ada penjelasan apakah yang meninggal belum atau tidak mempunyai anak. Tidak juga terdapat pernyataan implisit jika yang meninggal lebih dulu adalah anak.
Penjelasan yang ada adalah dua macam cara melakukan upacara kematian. Pertama adalah upacara kematian jika tidak ada jasad atau badan yang tersisa. Kedua adalah upacara jika ada jasad atau jenazah.
Disebutkan, upacara yang pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut. “Yan nora masawa pwa nghulun, akarya hulun reka lingganing taru mrik. Yatika ginawe padma, abhusana sarwa petak, magawe hulun panileman ri kala wwe hayu, kinyecel. Dharma Palguna sari lawan kajang sinurat kottamaning aksara. Kang sawa maturaken saji-saji ya. Lembu ireng lingganing padukangku. Irika pwa magawe setra genah amasmi sawa. Wus binasmi, irika duduk tahulan padukangku ginawaning dwegan niyuh, awastra pethak madaging kawangen, martha jepun. Teher manyut dhatang ing samudra. Cuntaka hulun panca heri. Tan wenang nyisya laksana ikang haraning atiwa-tiwa. Ingaranan ngaben, ngaben pwa ya nghulun. Wus mangkana wenang haraning atma olih lungguh amor ing suralaya. Saking irika ingaranan dewapitra.”
Jika tanpa jasad dirimu, hamba akan membuat reka lingga dengan kayu yang harum. Kemudian membuat padma, berbusana putih. Hamba membuat panileman pada saat hari baik. Ditaburi bunga dan kajang disuratkan dengan aksara utama. Jasad itu dihaturkan sesajian. Lembu hitam tempat paduka. Di sana membuat tanah lapang sebagai tempat membakar jasad.
Setelah dibakar, saat itu dikumpulkan kembali sisa pembakaran paduka dimasukkan dalam bungkak. Berkain putih berisi kawangen. Berharta kamboja. Lalu hanyut ke laut. Hamba cuntaka lima hari. Tidak boleh nyisia laksana itu disebut Atiwa-tiwa. Itu dinamakan Ngaben. Ngabenlah hamba. Setelah itu dapat disebut Atma mendapat tempat menyatu dengan alam dewa. Mulai saat itu disebut Dewa Pitra.
Dikatakan Suardika, jika upacara kematian tidak ada jasad yang ditemukan, maka caranya adalah dengan membuat Reka Lingga. Reka Lingga tersebut dibuat dengan sarana yang berasal dari kayu yang berbau harum.
Kayu harum itu, menurut teks Yama Purwa Tattwa, terbuat dari majagawu atau cendana . Reka Lingga itu kemudian dibakar di sebuah tanah lapang (setra) dengan membuatkan tempat berwujud lembu hitam.
Setelah dibakar, dihanyut ke laut dan terkena cuntaka selama lima hari. Itulah yang disebut Atiwa-tiwa atau Ngaben. Setelah upacara selesai, ruh yang diupacarai disebut Dewa Pitra. Ajaran ini disampaikan oleh Hyang Brahma dan Hyang Wisnu.
Sedangkan yang kedua, jika upacara dengan menyisakan badan, dibedakan berdasarkan kriteria raja, brahmana, dan sudra. Ketiga itulah yang disebut badan. Singkatnya, yang dimaksud dengan badan dalam teks Siwa Tattwa Purana adalah wangsa.
Upacara kematian ini memang dibedakan menurut kriteria raja, brahmana, dan sudra. Ucapan di atas muncul dari pertanyaan Jagadpati kepada anak-anaknya. Jika Jagadpati berwujud brahmana wangsa, sudra wangsa, bagaimana perlakuan dari anak-anaknya. Ritual kematian Ngaben ini juga dilengkapi dengan prosesi bernama amanjang.
Dalam Siwa Tattwa Purana disebutkan, “Hana amanjang, nga. mawa artha sinekar ura. Dhatang i catuspata. Midher tang badhe ping tiga. Dhatang pwa ring setra, mwah midher ping tiga. Iniring tatabuhan, haraning gong, gambang mwang angklung. Wus mangkana sadhatanging setra, ginawa kang sawa ring lembu. Irika binresihan dening tirtha, kottama awadhah paruk mesi pangeleb, simsim masoca mirah, miwah paripih padha sinuratan haraning tirtha panglepasan, miwah tirtha widhi widana.”
Terjemahannya : Ada namanya amanjang, membawa uang dicampur sekar ura. Datang ke perempatan. Berputar bade itu tiga kali. Sampai di setra, lagi berputar tiga kali. Diiringi gambelan, namanya gong, gambang dan angklung. Setelah demikian sesampainya di setra, jasad itu dibawa ke lembu. Di sana dibersihkan dengan tirtha, yang utama berwadah periuk berisi Pangeleb, yakni cincin berpermata mirah, juga pripih sama-sama bertuliskan nama tirtha Panglepasan dan tirtha Widhi Widana.
Setelah itu, bakarlah jasad itu dengan api. Sisa-sisanya dibersihkan, diletakkan dan disusun menyerupai kepala, badan, tangan, kaki, digilas dengan kayu dedap. Lalu dikumpulkan dalam bungkak nyuh gading. Berbusana putih. Dihanyut dalam air besar. Setelah itu, hamba cuntaka nista, madya dan utama. Sang wiku 5 hari, welaka 10 hari. Pamegat jasad itu tujuh hari, kotor itu. Jika belum boleh, tidak boleh melakukan Widhi Widhana
Jasad dibakar dengan api. Setelah api mati, sisanya dibentuk menyerupai tubuh dan digilas dengan kayu dedap. Hasil penggilasan itu dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading, lalu dihanyut. Setelah ritual pembakaran itu, upacara kematian belum selesai.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya