Bagi masyarakat setempat, Ngerebeg menjadi aktivitas ritual yang harus dilakukan. Jika tidak, diyakini bakal mengundang bencana atau mendatangkan wabah.
Panglingsir Puri Kediri Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta ditemui beberapa waktu lalu mengatakan, tradisi Ngerebeg ini sangat erat kaitannya dengan kedatangan Rsi Markandeya ke Pulau Bali yang dimulai dari ujung barat Pulau Bali, yakni di Pura Purancak.
“Prosesi Ngerebeg sendiri adalah proses mengusung keris Ki Baru Gajah dilakukan dengan cara jalan kaki beramai-ramai sepanjang 14 kilometer (km) dan sudah dilaksanakan sejak tahun 1589,” jelasnya.
Dikatakan Sugiarta, hal unik ketika dilaksanakannya prosesi Ngerebeg ini, selain mengusung pusaka keris dari Puri Kediri menuju Pura Luhur Pekendungan yang diiringi dengan beragam atribut seperti kober dan tombak dan atribut persembahyangan lainnya, juga menggunakan pretima yang terbuat dari pelepah pohon enau.
Selain merupakan tradisi, pelepah pohon ini diyakini sebagai sarana mengusir wabah. Karena tujuan dari Ngerebeg ini sebagai ritual Nangluk Merana, khususnya wabah di lahan pertanian.
“Ritual ini adalah sebagai salah satu bentuk upacara pembersihan, khususnya untuk lahan pertanian yang ada di Tabanan. Hal ini tidak terlepas dari budaya agraris yang masih menjadi mata pencaharian utama masyarakat Tabanan,” tambahnya. Tradisi ini diikuti oleh enam banjar adat di Desa Kediri dan Beraban dengan sistem giliran, setiap enam bulan.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya