Pura Purohita yang terletak di Dusun Benyahe, Desa Unggahan, Kecamatan Seririt, Buleleng ini, tergolong unik. Salah satunya karena terdapat Palinggih Lingga Siwa setinggi 5,92 meter.
BULELENG, BALI EXPRESS - Pura Purohita yang berdiri di areal perkebunan ini posisinya agak masuk dari pusat desa. Suasana yang asri membuat pamedek yang nangkil semakin merasakan vibrasi kesucian dan ketenangan spiritual. Apalagi posisi pura juga berada di pinggir sungai, sehingga membuat suasana di area pura menjadi sangat hening dan sejuk, sehingga cocok menjadi tempat untuk meditasi atau yoga semadhi.
Lokasi Pura Purohita ini sendiri diyakini sebagai salah satu tempat beryoga atau bermeditasinya para purohita atau pendeta dahulu kala.
Saat kaki melangkah ke areal pura, akan disuguhkan dengan Palinggih Lingga yang tingginya hampir 6 meter. Ya, palinggih ini sekaligus ikon pura tersebut. Ketinggian palinggih ini masuk catatan Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2015.
Secara struktur mandala, Pura Purohita termasuk kedalam pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu jaba pisan yang berisikan bale wantilan, pawaregan, jineng dan genah malukat. Di jeroan terdapat Lingga Siwa, patung Dewi Kwan Im, Patung Lembu Nandini, arca-arca, palinggih dan gedong. Terdapat pula bangunan suci yang tersebar di beberapa sudut area pura yang memiliki arca atau pretima yang berbeda-beda.
Kalau ditelisik lebih mendalam, bangunan suci di area Pura Purohita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, seperti bebaturan, padmasana, gedong, dan lingga.
Bebaturan merupakan bangunan suci berupa tumpukan batu yang sangat sederhana. Tidak terdapat motif ukiran, geometri ataupun ornamen ukiran. Walau terlihat sederhana, namun memiliki fungsi serupa dengan bangunan suci Hindu lainnya.
Kesederhanan bentuk ini tidak pula mengurangi nilai simbolik dalam bebaturan. Sebagai bangunan suci, bebaturan memiliki fungsi yang sama dengan bangunan suci Hindu lainnya. Bahkan bebaturan di Pura Purohita dikatakan sebagai cikal bakal keberadaan tersebut, serta merupakan pusat pelaksanaan ritual saat hari-hari yang dianggap suci.
Posisi tugu di area Pura Purohita berada pada sudut pojok dekat dengan pancoran Asta Gangga sebagai tempat malukat. Gedong di Pura Purohita selain memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan, juga digunakan untuk menyimpan pralingga Ida Bhatara yang dipuja di pura tersebut.
Pralingga atau arca yang sebelumnya ada dan ditemukan di sekitar bebaturan ditempatkan di sini untuk memudahkan melakukan perawatan.
Mangku Gede Pura Purohita, Wayan Wirka mengatakan, pura dibangun pada tahun 2011 silam. Pamedek pun yang nangkil tidak cukup sekali. Tak sedikit yang datang berkali-kali. “Di area jeroan pura terdapat dua buah lingga. Satu lingga lainnya berukuran sangat tinggi, yaitu 5,92 meter dengan keliling lingkaran mencapai 8,70 meter, sehingga pada tanggal 10 April 2015 Museum Rekor Indonesia (MURI) menobatkan lingga ini sebagai Lingga Siwa tertinggi di dunia,” jelasnya.
Palinggih Lingga Siwa ini diyakini memiliki kekuatan yang mampu membantu dalam konsentrasi pikiran. Dengan melihat lingga simbol dari Dewa Siwa akan membantu pikiran akan mencapai satu titik penyatuan.
Upacara piodalan di pura ini dilaksanakan Saniscara paing wuku Ukir, namun pelaksanaan piodalan hanya diambil sekali dalam setahun. Dalam piodalan di tengah tahun hanya matur piuning saja.
Ia menyebut, sebelum pandemi banyak pamedek yang datang dan terlibat dalam persiapan piodalan, namun saat pandemi piodalan dilakukan terbatas dalam jumlah orang. Piodalan dipusatkan di area utama mandala dengan menurunkan semua pretima.
Selain terdapat beberapa palinggih, arca, pretima maupun Lingga Siwa yang sangat besar, di pura ini juga terdapat patung Dewi Kwan Im di sebelah Lingga Siwa. Di sini juga terdapat beberapa gedong sebagai tempat pemujaan terhadap leluhur.