Bendesa Adat Kelecung I Nyoman Arjana mengatakan, sebelum dilakukan penataan seperti saat ini, Pura Beji ini sudah memiliki fungsi religius, yakni sebagai tempat malukat dan nunas tirta bagi masyarakat setempat dan sekitarnya. “Tempat utama dari beji ini adalah bulakan kembar karena ada dua sumber mata air, yakni Yeh Anakan dan Pancuran Mapas Ina, dan sejak dahulu memang sudah digunakan sebagai tempat nunas tirta untuk aktivitas upacara, seperti piodalan dan lainnya,” jelasnya.
Dahulu, sebelum ditata, akses menuju Pura Beji ini memang sulit karena masih jalan tanah. Mulai ditata sejak dua tahun lalu. Kini dilengkapi patung Dewata Nawa Sanga dengan Yayasan Sahaja Sawah sebagai penggagasnya.
Ketua Yayasan Sahaja Sawah Ni Kadek Ariani menyebutkan bahwa fokus dari penataan pura ini adalah penataan untuk melestarikan keberadaan beji sebagai lokasi spiritual dan memang dirancang untuk tujuan wisata religi (panglukatan).
“Harapan kami di yayasan, kawasan suci ini hanya ditujukan untuk orang-orang yang memang ingin melakukan persembahyangan dan panglukatan,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Arini, beji ini juga dirancang sebagai pusat kebudayaan. Salah satunya adalah dengan mendirikan panggung untuk pementasan seni dan budaya. Pura Beji Amerta Gangga kini dilengkapi Patung Dewata Nawa Sanga karya pematung asal Gianyar. Patung itu digarap sekitar 1,5 tahun.
Total ada sembilan patung. Delapan patung setinggi 10 meter, dan satu patung Dewa Siwa setinggi hampir 23 meter. Selain menjadi kawasan tempat suci, keberadaan patung-patung itu juga nantinya menjadi ajang edukasi bagi pengunjung. Terdapat deskripsi di masing-masing patungnya.
“Selain itu, ada juga pancuran air yang muncul dari tangan patung dan bunga teratai di kesembilan patung tersebut, sebagai lokasi panglukatan,” tambahnya.