Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gong Beruk, Gambelan Khusus Iringi Upacara di Banjar Adat Bangle

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 3 Februari 2023 | 17:47 WIB
GONG BERUK : Gambelan Gong Beruk mengiringi prosesi upacara di Banjar Adat Bangle. Ist
GONG BERUK : Gambelan Gong Beruk mengiringi prosesi upacara di Banjar Adat Bangle. Ist
KARANGASEM, BALI EXPRESS-Banjar Adat Bangle, Desa Adat Sega, Kecamatan Abang, Karangasem memiliki gambelan khusus yang keberadaannya berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan masyarakat. Namanya Gong Beruk.

Gambelan Gong Beruk ini juga digunakan untuk mengiringi tarian sakral saat Ngusaba Desa di Pura Pamaksan Banjar Adat Bangle.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti sejak kapan Gong Beruk mulai digunakan masyarakat setempat. Tokoh Banjar Adat Bangle I Wayan Sunu menceritakan bahwa keberadaan Gong Beruk berawal dari tuntasnya pembangunan Pura Pamaksan Bangle. Seluruh masyarakat wajib terlibat melaksanakan upacara mlaspas, Rsi Gana, Mapadagingan hingga ditentukan hari baik untuk pujawali.

Dari berbagai persiapan yang telah dilakukan, masyarakat diingatkan akan kewajiban untuk mengikuti tradisi dari Desa Adat Sega sebagai asal muasal krama Bangle.

Pada saat upacara berlangsung harus diiringi dengan tetabuhan, tarian yang lebih sakral seperti yang ada di Adat Sega. Terompong Beruk disepakati oleh tokoh adat dan sesepuh untuk dilengkapi dengan beberapa perangkat gambelan lain seperti curing/ calung, terompong, riong, gong, kempul, petuk/ kajar, kendang, ceng-ceng dan suling, sehingga menjadi seperangkat Gong Beruk.

“Gambelan seperti curing, terompong, riong, gong, kempul, dan petuk yang sumber bunyinya dibuat berupa bilah dari kayu kunkun. Agar suaranya bagus, kemudian dipergunakanlah beruk (batok kelapa tua) dan labu kering,” ceritanya.

Setelah gambelan Gong Beruk selesai dibuat, maka digunakan untuk mengiringi rangkaian upacara adat, termasuk tarian di Pura Pamaksan Bangle. Momen inilah yang diyakini menjadi tonggak sejarah munculnya Gong Beruk di Banjar Adat Bangle

“Gambelan Beruk akhirnya ditetapkan sebagai musik pengiring dalam upacara di Pura Pamaksan Bangle. Pujawali ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali bertepatan dengan Purnama Katiga,” imbuhnya.

Sejak saat itu, secara turun-temurun Gong Beruk digunakan mengiringi pelaksanaan upacara di Pura Pamaksan Bangle, termasuk wajib mengiringi rangkaian upacara dan tarian sakral.

Di Bangle, sebenarnya memiliki seperangkat gambelan gong kebyar, namun masyarakat selalu menggunakan gambelan Gong Beruk sebagai sarana utama dalam upacara tersebut.

Hal serupa juga dituturkan I Nengah Suparwata selaku sesepuh Sekaa Gong Ambarawa Winangun. Krama Banjar Adat Bangle tidak mau mengganti gambelan Gong Beruk dengan yang lain sebagai musik pengiring prosesi upacara di Pura Pamaksan. Pertimbangannya karena gambelan ini merupakan warisan sakral.

Kemudian bilah sumber bunyi gambelan yang semula terbuat dari kayu kukun diganti dengan bilah yang terbuat dari besi. Daun (bilah) terompong beruk dan curing serta lainnya diganti dengan besi yang sebelumnya dari kayu kukun. Tujuannya agar suaranya lebih keras dan panjang tidak seperti saat masih menggunakan kayu.

“Pergantian bilah itu dilakukan sebelum tahun 1979-an. Memang karena adanya keinginan dan dukungan masyarakat untuk memperbaiki kualitas dan intensitas suara gambelan menjadi lebih keras dan panjang,” kata Suparwata.

Selain perubahan bilah, pelawah atau tungguhan dari gambelan ini juga mengalami perubahan bentuk dari lelengisan (polos), diganti dengan tungguhan yang diukir dan dicat dengan warna emas, sehingga tampilan fisik menjadi lebih mewah dan modern.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Banjar Adat Bangle #balinese #adat #Gambelan Khusus Iringi Upacara #hindu #pura pamaksan Bangle #Gong Beruk