Kelian Sekaa Gong Tari Baris Buntal I Nyoman Sama mengatakan, pementasan Tari Buntal selalu dilaksanakan setiap piodalan atau wali di pura yang ada di Desa Adat Pengotan bersamaan dengan 7 Tari Baris lainnya.
Menurut Sama, Tari Baris Buntal merupakan rangkaian dari upacara Dewa Yadnya. Sampai saat ini masih dijaga dan dilestarikan yang dibuktikan dengan dipentaskannya tarian tersebut.
Apabila tarian ini tidak ditarikan dalam sebuah upacara Dewa Yadnya, upacara tersebut belum dianggap selesai. Hal tersebut membuktikan bahwa tarian itu merupakan tarian sakral yang selalu dipentaskan pada saat wali atau piodalan di desa setempat. “Oleh sebab itu, Tari Baris Buntal termasuk ke dalam seni tari wali, karena tari ini wajib dipentaskan saat adanya wali di pura yang ada di Desa Adat Pengotan,” jelas Sama.
Pria yang juga penabuh ini menyebutkan bahwa pementasan Tari Baris Buntal disaksikan oleh pamedek yang datang ke pura untuk melakukan persembahyangan. Terkait dengan tempat pementasannya, biasanya di utama mandala atau jeroan pura.
Areal jeroan, sebut Sama, merupakan tempat semua kegiatan ritual berlangsung, baik itu persembahan sesajen, persembahyangan, termasuk pementasan seni pertunjukan yang merupakan rangkaian dari ritual tersebut.
Dari segi waktu, tarian ini dipentaskan pada waktu yang terpilih sesuai dengan piodalan di pura-pura yang ada di desa setempat. Dipilihnya areal jeroan sebagai tempat pementasan karena tarian tersebut merupakan tarian sakral yang melengkapi ritual keagamaan yang dilaksanakan.
Selain dipentaskan di areal pura, tarian ini juga dipentaskan di tempat lain, namun masih dalam konteks upacara yadnya. Seperti misalnya saat upacara melasti yang dilaksanakan di luar areal pura dan biasanya dilakukan di pesisir pantai atau masyarakat Desa Adat Pengotan sering melakukannya di campuhan.
Di atas campuhan tersebut terdapat sebuah ladang tidak terpakai menyerupai sebuah lapangan yang biasanya menjadi tempat pementasan kedelapan Tari Baris yang ada di Desa Pengotan, salah satunya Baris Buntal. Dalam upacara ritual tersebut, Baris Buntal dipentaskan namun tidak secara utuh, namun hanya bagian 2 saja (pelayon).
“Meskipun dalam pemilihan penari tidak melalui ritual khusus, namun penari Tari Baris ini tidak boleh dalam keadaan sebel ataupun cuntaka yang bisa saja disebabkan karena adanya kematian ataupun hal yang lainnya,” imbuhnya.
Dalam pementasannya, penari memakai busana yang sangat sederhana. Busana yang digunakan didominasi warna merah, putih dan hitam. Jika dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, ketiga warna tersebut merupakan warna suci sebagai lambang atau simbol dari Dewa Tri Murti yaitu Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa.
Warna merah merupakan lambang dari Dewa Brahma sebagai pencipta, warna hitam lambang dari Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan warna putih merupakan lambang dari Dewa Siwa sebagai pelebur. Oleh sebab itu, penggunaan tiga warna tersebut dalam busana Baris Buntal mencerminkan kesakralan yang terkandung dalam tarian itu sendiri.
Adapun busana yang digunakan diantaranya celana panjang bergaris dengan corak hitam, putih dan merah. “Baju lengan panjang dengan corak yang senada dengan celana. Badong awir berwarna-warni kain rembang, lamak, kadutan, udeng berwarna hitam dengan hiasan prada gongseng atau gelang kaki semayut,” ungkapnya. (dik/wan)