Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wajah Penari Sakral Tari Baris Buntal Harus Dibedaki Pamor

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 6 April 2023 | 14:18 WIB
PAMOR DI WAJAH: Penari Baris Buntal menggunakan pamor di wajahnya. Ist
PAMOR DI WAJAH: Penari Baris Buntal menggunakan pamor di wajahnya. Ist
BANGLI, BALI EXPRESS-Tari Baris Buntal, salah satu tarian sakral yang ada di Desa Adat Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Tarian ini wajib ditarikan saat piodalan di pura desa yang ada di Desa Adat Pengotan. Apa uniknya tarian ini?

Dalam pementasannya, Tari Baris Buntal dilengkapi dengan properti berupa sebuah tombak yang panjangnya kira-kira 1,5 meter berwarna hitam putih dan perisai kecil. Masyarakat setempat menyebutnya tamiang.

Selain itu, penari Taris Buntal juga menggunakan pamor (kapur sirih) yang dioleskan pada bagian wajah, tepatnya di hidung, dahi, dan kedua pipi.

Kelian Sekaa Gong Tari Baris Buntal I Nyoman Sama mengatakan, penari di Bali percaya penggunaaan pamor ini memiliki makna yang dalam, yaitu sebagai penyucian dan penetral, dan masyarakat Bali percaya bahwa dengan penggunaan pamor tersebut diyakini bisa terbebas dari segala ikatan status sosial, seperti perbedaan kasta dan halangan.

Pamor juga dianggap benda suci karena sering digunakan sebagai bahan untuk membuat sesajen dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Salah satunya adalah pembuatan porosan yang merupakan lambang dari Tri Murti menggunakan pamor sebagai simbol dari Dewa Siwa, daun sirih sebagai lambang dari Dewa Wisnu, dan buah pinang sebagai lambang dari Dewa Brahma.

“Selain menggunakan coretan pamor pada wajah, penari Tari Baris Buntal ini juga menggunakan dedaunan yang diselipkan pada kedua telinga. Dedaunan tersebut bisa saja berupa daun pidpid ataupun daun gegirang,” jelasnya.

Penggunaan daun pidpid sejatinya sudah sejak dahulu, dan difungsikan sebagai hiasan di telinga penari. Namun seiring berjalannya waktu karena daun ini mulai susah untuk ditemui masyarakat menggantinya dengan menggunakan daun gegirang atau daun apa saja yang sekiranya bisa digunakan sebagai hiasan di telinga penari

Ia menambahkan, Tari Baris Buntal diiringi dengan gambelan Gong Gede yang dibawakan oleh sekaa gong desa setempat. Gong Gede memang sering dijumpai saat adanya piodalan di pura untuk mengiringi prosesi ritual yang dilaksanakan.

Sama mengatakan, Tari Baris Buntal menggunakan iringan Gong Gede dengan tahapan gending, yaitu bebatelan (bagian 1), pelayon (bagian 2), dan bebatelan (bagian 3 dan 4). “Selain di pura, misalnya pada saat melasti, maka kedelapan tari baris termasuk Baris Buntal hanya diiringi dengan Gong Bebonangan. Tarian yang dipentaskan juga tidak secara utuh, seperti halnya saat dipentaskan di pura, melainkan hanya bagian inti atau bagian 2 (pelayon) saja,” ungkapnya.

 
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #tari sakral #adat #hindu #Tari Baris Buntal #Upacara Dewa Yadnya Belum Tuntas #tradisi