Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pencak Silat Depok Sruti, Tarian Sakral Hadiah Raden Mas Mekober

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 11 Mei 2023 | 14:50 WIB
PENCAK SILAT: Tari Pencak Silat Depok Sruti dipentaskan saat pujawali di Pura Mas Penyeti. Ist
PENCAK SILAT: Tari Pencak Silat Depok Sruti dipentaskan saat pujawali di Pura Mas Penyeti. Ist
“Pementasan Tari Pencak Silat di Pura Mas Penyeti didasarkan pada petunjuk niskala atau alam gaib, sesuai petunjuk dari sesuhunan para leluhur dan para dewa di Pura Mas Penyeti. Sebab keberadaan Tari Pencak Silat Depok Sruti telah disakralkan dan bagian dari proses upacara piodalan di Pura Mas Penyeti.”Jro Mangku Santra

BULELENG, BALI EXPRESS-Pura Mas Penyeti terletak di Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Setiap piodalan di pura ini dipentaskan tetabuhan yang disebut Gong Kedencong dan pementasan Tari Pencak Silat.

Jro Mangku Santra salah satu pangempon Pura Mas Penyeti mengatakan bahwa berdasarkan penuturan para tetuanya, palinggih yang kini lokasinya dikenal sebagai Pura Mas Penyeti telah ada sejak abad ke-8 yaitu pada saat kedatangan Ida Rsi Markandya ke Bali.

Dari penjelasan secara oral para pendahulunya, keberadaan Pura Mas Penyeti juga erat kaitannya dengan kedatangan seorang pangeran dari Kediri, Jawa Timur. Pangeran tersebut bernama Raden Mas Akati.

Raden Mas Akati merupakan orang yang membawa percampuran (akulturasi) budaya di Pura Mas Penyeti. Kedatangannya ke Bali dan tiba di pura yang saat ini dikenal sebagai Pura Mas Penyeti kira-kira pada abad ke 14-15.

Pada abad ke-16 yaitu pada tahun 1686, Pura Mas Penyeti didatangi oleh seorang keturunan ksatria dari Gianyar dengan nama I Gusti Ngurah Batu Lepang. Ksatria ini datang dari Desa Batuan, Gianyar bersama para pengikutnya. Ia menanamkan beberapa konsep bangunan pura yang belum lengkap dengan didasarkan oleh ajaran agama Hindu yang berkembang saat itu, antara lain mengubah kondisi dan tatanan pura tersebut dengan konsep Tri Mandala.

Semenjak saat itu, akhirnya I Gusti Ngurah Batu Lepang dan para pengikutnya memutuskan untuk menyungsung dan mengempon Pura Mas Penyeti. Hal ini dibuktikan dengan adanya riwayat dari I Gusti Ngurah Batu Lepang yang tertuang dalam babad yang saat ini menjadi warisan bagi para penerusnya.

Para pangempon Pura Mas Penyeti yakni keturunan I Gusti Ngurah Batu Lepang disebut dengan Sri Nararya Kresna Kepakisan, dan sejak saat itu Pura Mas Penyeti disebut sebagai pura kawitan.

Pada abad ke-17 saat pemerintahan I Gusti Ngurah Panji Sakti di Buleleng, berangkat lah anak dari Raden Mas Akati dari kediamannya di Kediri dengan menggunakan perahu yang disertai oleh para pengawal dan pengikutnya.

Nama dari pangeran yang sekaligus anak dari Raden Mas Akati adalah Raden Mas Mekober. Di tanah asalnya Raden Mas Mekober mendengar kabar bahwa ayahnya berada di Pulau Bali. Hal itu membuatnya memutuskan segera berlayar menuju Pulau Bali.

Setibanya di Bali, kedatangan Raden Mas Mekober yang dianggap tamu oleh warga Banjar Tegal akhirnya dijamu dengan luar biasa. Sebagai tanda terima kasih dari Raden Mas Mekober, maka warga dihadiahkan gong dengan nama Gong Kedencong. Pangempon Pura Mas Penyeti juga diajarkan untuk memainkan ini.

Selain itu, untuk mempertahankan warisan tersebut dan untuk mempertahankan desa dari ancaman luar, Raden Mas Mekober mengajarkan sebuah tarian sakral yang disebut Tari Pencak Silat Depok Sruti. Kini, tarian ini sebagai tarian sakral yang dipentaskan tepat pada piodalan di Pura Mas Penyeti.

Awalnya, Pura Mas Penyeti termasuk dalam golongan pura kawitan yang disungsung oleh krama Desa Adat Banjar Tegal. Namun kemudian menjadi pura sungsungan desa adat. Pura Mas Penyeti memiliki beberapa palinggih.

Jumlah palinggih lebih banyak berada di utama mandala atau jeroan. Kemudian pada bagian tengah atau madya mandala terdapat banyak fasilitas penunjang, seperti bale pewaregan, balai pebatan, kamar mandi dan lain sebagainya. Sedangkan pada bagian luar atau nista mandala terdapat empat palinggih dan kemudian juga terdapat parkir yang cukup luas.

Dijelaskan Mangku Santra, Pura Mas Penyeti pujawalinya dibagi menjadi dua, yaitu Pujawali Alit dan Pujawali Agung. Pujawali Alit setiap 6 bulan sekali, tepatnya pada Buda Umanis Wuku Prangbakat. Sedangkan pujawali setiap lima tahun sekali dilaksanakan mengacu pada acara panca wali krama di Pura Agung Besakih.

Proses pelaksanaan Pujawali Agung, dihaturkan banten sekar pada dua palinggih panggungan sekar yang ada. Ida Bhatara yang distanakan di Pura Mas Penyeti tedun (diturunkan).

Menariknya, setiap piodalan yang dilaksanakan, baik alit maupun agung tetap mementaskan Tabuh Gong Kedencong yang sudah berusia ratusan tahun itu. Gambelan ini hanya menggunakan beberapa alat, yaitu dua buah kendang/gupek, satu pasang nong-nang serta kecek, kempul dan tawa-tawa masing-masing satu buah.

Selain Gong Kedencong juga ada Tari Pencak Silat Depok Sruti. Tarian ini diyakini menjadi bagian terpenting pasca-berdirinya Pura Mas Penyeti. “Konon tarian ini karena merupakan hadiah yang diberikan kepada warga pangempon Pura Mas Penyeti dan selanjutnya Pencak Silat ini senantiasa terus dilestarikan dan dipentaskan apabila dilaksanakan piodalan di Pura Mas Penyeti,” sebutnya.

Pementasan Pencak Silat dilaksanakan di bagian madya mandala, setelah selesai tahapan upacara piodalan. Tarian ini hanya khusus dipentaskan di Pura Mas Penyeti.

Tarian Pencak silat ini juga sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Siwa sebagai pencipta tari atau dewa tari itu sendiri. Proses pementasan tari diawali menghaturkan segehan dan persembahan terhadap alam.

“Pementasan Tari Pencak Silat di Pura Mas Penyeti didasarkan pada petunjuk niskala atau alam gaib sesuai petunjuk dari sesuhunan para leluhur dan para dewa di Pura Mas Penyeti. Sebab keberadaan Tari Pencak Silat Depok Sruti telah disakralkan dan bagian dari proses upacara piodalan di Pura Mas Penyeti,” katanya.

Prosesi pementasan tarian ini harus diawali dengan mapiunung, mendak dan juga ngalinggihang sebagai penghormatan yang ditujukan ke hadapan para dewa, dengan harapan pementasan Tari Pencak Silat dapat berjalan dengan lancar dan penuh dengan kedamaian.

Selain itu, sebelum melakukan pementasan harus diketahui pula hal- hal apa saja yang patut dipersiapkan seperti mengetahui makna dari ajaran pencak silat itu, serta jurus-jurus yang akan dimainkan pada saat pementasan itu dilaksanakan, seperti mengamalkan ajaran Tri Dharma yaitu Dharma Papineh, Dharma Tetimbang, dan Dharma Laksana.

“Ketiga Dharma ini dimaknai bahwa setiap orang yang mempelajari ilmu Pencak Silat Depok Sruti ini wajib untuk mengamalkan pikiran yang baik, pertimbangan yang baik, serta perbuatan yang baik. Hal ini merupakan bagian yang terpenting agar ilmu yang didapat tidak digunakan ke dalam hal-hal yang negatif,” paparnya.

Pementasan tari Pencak Silat Depok Sruti diyakini dapat mendidik para generasi muda agar hidup disiplin, rajin, bersih. Selain itu mendidik anak agar memiliki jiwa bhakti dan ngayah, saling menghargai dan menghormati.

“Anak-anak muda akan memiliki pemikiran dewasa dengan dihargai dan diikutkan dalam rangkaian piodalan di Pura Mas Penyeti melalui ikut serta menarikan Tari Pencak Silat Depok Sruti,” kata Jro Mangku Santra.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #Pencak Silat Depok Sruti #Pura Mas Penyeti Tidak Boleh Makan Daging Babi #hindu #pura #Tarian Sakral Hadiah Raden Mas Mekober