Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik; Warna Hitam-putih Kain tenun Gotia Tenganan Pegringsingan, Simbol Rwa Bhineda

I Putu Mardika • Minggu, 25 Juni 2023 | 01:13 WIB
TRADISI UNIK: Kain tenun Gotia (kain dasar putih dengan simbol tambah (+) digunakan sebagai selendang untuk upacara Matruna Nyoman di Tenganan, Karangasem, Bali.
TRADISI UNIK: Kain tenun Gotia (kain dasar putih dengan simbol tambah (+) digunakan sebagai selendang untuk upacara Matruna Nyoman di Tenganan, Karangasem, Bali.

Kain tenun Gotia di Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali sering digunakan dalam tradisi unik daerah setempat. Kain ini memiliki warna dasar putih dan motif garis vertikal dan horizontal berwarna hitam. Warna hitam dan putih dalam kain gotia bisa saja dapat di representasikan sebagai keseimbangan alam atau Rwa Bineda. Rwa Bineda sebagai cerminan adanya dikotonomi dualitas kehidupan yang saling mengisi sebagai contoh kebagikan dan keburukan.

Masyarakat Desa Adat Tenganan Pageringsingan sangatlah percaya terhadap konsep Rwa Bhineda atau keseimbangan alam. Rwa Bhineda adalah pemahaman tentang ‘harmoni’ dari dua unsur yang berbeda dalam sendi-sendi kehidupan

“Kain Gotia juga dipercaya memiliki makna magis dan sakral. Penyeimbang antara dharma (kebaikan) dengan adharma (kejahatan),” kata Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Yudiana yang juga Mantan Perbekel Desa Tenganan Pegringsingan ini.

Tidak hanya memiliki warna hitam dan putih saja. Persilangan antara garis simetris membentuk sebuah motif dengan membentuk tambah (+) dinamakan Tampak Dara yang memaknai keseimbangan dimana segala sesuatu baik pengakarangan rumah selalu selalu berpusat di tengah. Tampak Dara merupakan symbol penyatuan dua litas kehidupan atau Rwa Bhineda.

Tampak Dara dalam masyarakat tenganan sering dituliskan pada sanggah dan di depan pintu rumah sebagai petanda dalam kebudayaan Bali yang konotasinya sebagai simbol keseimbangan dalam kehidupan di alam semesta ini yang harus diterima.

“Masyarakat di Desa Tenganan hanya menggunakan kain gotia hanya pada upacara keagamaan khusus saja. Karena dianggap sakral, maka kain ini tidak untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #kain tenun gotia #Tenganan Pegringsingan #karangasem #tradisi unik