Pura Dalem Sindu, Kelurahan Sanur, Denpasar, Bali, hingga kini masih melestarikan tarian Sakral Tari Sang Hyang Bungung sebagai smbol dari Ratu Alit. Tarian yang tergolong langka ini menggunakan sepotong bungbung atau seruas bambu berlubang sebagai alas belasan Pratima, atau pralingga. Bagi umat Hindu di Bali, tari sakral termasuk tari Bali yang biasa ditarikan dalam rangka upacara keagamaan.
Pratima atau Pralingga yang dibuat berbentuk wajah manusia berjumlah 12, yaitu 6 buah lanang, dan 6 buah istri. Pratima ini dibuat dari pohon jepun yang tumbuh di Pura Dalem Sindu Sanur beberapa tahun sebelumnya pecah perang Puputan Badung 20 September 1906.
Jero Mangku Dalem, I Made Mawan menjelaskan, Sanghyang Bungbung sebagai perwujudan Ratu Alit (Widyadara-Widyadari) yang turun dari Kahyangan ke bumi, dengan menari Janger menghibur Ratu Gede Nusa yang bergelar Bapak Poleng.
Kehadiran Beliau juga diirngi oleh bala pasukan ribuan Wong Samar. Diyakini mereka berpakaian serba poleng membawa pedang, tombak, dan sebagainya, untuk mencari manusia sebagai labaan (kurban) pada sasih keenem.
Sasolahan Sanghyang Bungbung yang ditarikan oleh dua belas orang wanita anak-anak atau orang tua tersebut dengan berpakaian serba putih memundut pelawatan Ida Ratu Alit yang berupa bungbung tersebut menari dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ratu Alit yang bergelar nama bunga yaitu Sekar Jepun, Sekar Gadung, Sekar Pudak, sekar Sandat, Sekar Jempiring, Sekar Soka, Sekar Madori Putih, Sekar Anggrek Geringsing, Widyadari Tunjung Beru, Widyadari Tunjung Bang, Widyadari Tunjung Putih, dan Widyadari Sang Supraba menari untuk memendak, menghibur Ratu Gede Nusa selama enem sasih, mulai sasih Tilem Kapat hingga Purnama Sasih Ke Dasa.
Nyolahan Ida Sanghyang Bungbung atau Nangiang Ratu Alit dilaksanakan selama Sasih Kapat hingga Sasih Kedasa. Beliau yang dipuja sebagai wujud Sanghyang Bungbung (Ratu Alit), selama ngadeg setiap nemu rahina suci Tilem.
“Ratu Alit mapalawatan Sanghyang Bungbung masolah mendak Ida Ratu Gede Nusa setiap Tilem Kapat di Pantai Sindu Sanur, setiap Kajang Kliwon di Pempatan Agung Sindu Sanur, setiap Purnama di Pura Dalem Sindu Sanur,” jelasnya.
Prosesi Sasolahan Sanghyang Bungbung pada waktu Tilem Sasih Kapat dilaksanakan di sore hari di depan Pura Patal. Posisinya persis di pantai Timur Banjar Sindu Kaja. Ritual ini juga disaksikan oleh krama setempat.
Sarana yang dipersembahkan ketika Ida Ratu Alit metangi seperti Pejatian, Sodaan meulam kakul, udang, kelor, kacang ranti,tabya ranti, kacang saur, segaan manca warna dan putih kuning. Sedangkan Banten yang katur leleb di segara adalah Sodaan leleb, ajengan, Rayunan, sanganan 5 dulang, Pejati, salaran ayam Putih, bebek Putih, dan segan manca warna.
Upacara ini dipuput olih Dane Jero Mangku Patal bersama jero mangku Dalem Sindu, dan diikuti jero mangku lainnya. Sarana ini dyakini sebagai ucapan selamat datang (penyanggra) kehadiran Ida Ratu Gede Macaling (Nusa).
Prosesi ini dilakukan dalam rangka menyambut Sasih Kenem. Konon Ida malelungan berjalan mencari kurban (labaan) bersama para wong samar sebagai pengikut setia beliau. “Kehadiran Ida Ratu Gede Nusa, disambut dengan tarian Sanghyang Bungbung (Ratu Alit) di segara dimana kapal poleng niskala beliau berlabuh,” paparnya.
Selanjutnya untuk prosesi Sasolahan Sanghyang Bungbung nemoning rerainan Kajang Kliwon sasih Kelima dimulai sekitar jam 16.00 Wita di sore hari. Krama Banjar Sindu Kaja mempersiapkan sarana dan prasarana untuk kelengkapan pelaksanaan Tedun Masolah Nuju Kajang Kliwon di Pempatan Agung Sindu, Sanur, yaitu tepatnya di bawah pohon beringin di jaba Pura Dalem Sindu, Banjar Sindu Kaja, Kelurahan Sanur.
Para Pemangku Pura Dalem didampingi pemangku istri mepersiapkan pelawatan Ratu Alit (Sanghyang Bungbung) yang melinggih ngadeg pada palinggih Bale Papelik bagian Utara Jeroan Pura Dalem.
Setelah dipersembahkan sodan, pejati, segehan, kemudian diberangkatkan mengikuti sasolahan di perempatan agung. Maka satu persatu beliau diturunkan oleh Jero Mangku Dalem, untuk diusung oleh para sutri, sadeg, menuju pempatan Agung.
Banten yang dipersembahkan, yaitu; Pejatian, Sodaan dan segaan manca warna, serta Putih Kuning dientar oleh Jero Mangku Dalem. Setelah Ida Ratu Alit Sanghyang Bungbung selesai masolah dengan tidak sadarkan diri, menari bersama dengan para patihnya, maka beliau kembali ke Jeroan dan lanjut Ida Masolah tiga kali putaran, matirta (nunas tirta) raris Ida kembali melinggih di Bale Papelik.
“Ida medal masolah adalah untuk menambah keyakinan masyarakat penyungsung, bahwa Ida Ratu Alit masih berada bersama masyarakat untuk menyambut kedatangan Ida Ratu Gede Nusa di hari suci Kajang Kliwon tersebut,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra