Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pisang dalam Ritual Hindu; Sebagai Tumbuhan Surga, Wajib Ada dalam Persembahan saat Pelaksanaan Yadnya

I Putu Mardika • Minggu, 2 Juli 2023 | 18:21 WIB
POHON SURGA BAGI UMAT HINDU: Pohon pisang di Pelinggih Sanggar Surya yang digunakan dalam upacara yadnya.
POHON SURGA BAGI UMAT HINDU: Pohon pisang di Pelinggih Sanggar Surya yang digunakan dalam upacara yadnya.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pisang menjadi buah yang paling banyak digunakan dalam ritual-ritual umat Hindu khususnya di Bali. Pisang digunakan baik dalam upacara Bhuta Yadnya hingga Dewa Yadnya. Dalam Mitologi, Pohon pisang erat kaitannya dengan Dewi Parwati atau Dewi Uma yang merupakan Sakti dari Dewa Siwa.

Jika ditelisik, bukan hanya bagian buah pisang yang dimanfaatkan dalam ritual. Begitu juga daun, batang hingga pohonnya digunakan dalam upacara panca yadnya. Penggunaan pisang dalam upacara alit, madya dan agung.

Sebut saja bagian Daun Pisang, yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yadnya. Daun ini diyakini merupakan lambang Utpatti (penciptaan) dari Dewa Brahma. Tetapi dapat pula berfungsi sebagai lambang sthiti (pemelihara) dari Dewa Wisnu. Bahkan, bila ditinjau dari warna daunnya, dan dapat pula berfungsi sebagai pralina dari Dewa Iswara.

Daun pisang juga sering digukanakan sebagai bahan pembuatan kojong kwangen. Atau pula sebagai sarana alas (aledan) dari banten atau sesajen yang digunakan. Bahkan, ritual bagi masyarakat Bali Aga, daun pisang menjadi sarana utama dalam persembahan.

Penekun Lontar, Ida Bagus Made Baskara dari Geriya Gunung Kawi Mauaba, Tampak Siring, Gianyar menyebutkan buah pisang menjadi buah yang harus ada di setiap upacara yadnya di Bali.

Menurutnya, buah apel, pir, anggur boleh tidak ada pada banten yang dipersembahkan. Tetapi buah pisang wajib ada sebagai sarana persembahan (banten) yang dihaturkan.

Ida Bagus Baskara menyebut, ada beberapa alasan mengapa buah pisang atau pohon pisang menjadi pohon penting dalam yadnya di Bali. Ada dua mitologi yang menyebutkan tentang keberadaan pisang sehingga wajib digunakan sebagai sarana upacara.

Pertama pada kisah Siwa Purana, diceritakan pada saat Daksa yang notabene adalah ayah dari Dewi Uma melaksanakan upacara Yadnya. Namun, Dewa Siwa tidak hadir pada upacara tersebut.

Namun, Dewi Uma bersedia menghadiri acara itu. Sebagai bentuk kesetiaan terhadap sang Ayah, Dewi Uma pun akhirnya membakar diri hingga sekujur tubuhnya lenyap dan berubah menjadi abu.

“Nah singkat cerita, pada saat itulah Dewa Siwa melihat istrinya membakar diri menjadi abu. Dari abunya itu kemudian diangkat ke Kailash. Rupanya, sebagian organ tubuh beliau yang sudah menjadi abu jatuh ke Bumi. Nah dari abu Dewi Parwati itulah tumbuh menjadi pohon pisang. Sehingga Pohon pisang menjadi penting,” katanya.

Kisah lain juga diungkapkan pada Bamaswari. Disebutkan ketika Dewi Uma melahirkan anak Hyang Kumari. Pada suatu Ketika Hyang Kumari menangis sejadi-jadinya hendak meminta susu kepada Ibunya Dewi Uma.

Tetapi, entah mengapa di tengah menyusui Hyang Kumari itu, Dewi Uma marah sehingga diusir oleh Dewa Siwa. Karena beliau sedang menyusui, sehingga sebagian susunya menetes ke tanah. Dari air susu itu tumbuh menjadi pohon pisang.

“Itulah ketika anak sudah mulai makan sebagai pendamping asi, maka disarankan bayi diberikan pisang. Karena diyakini memberikan nutrisi yang dibutuhkan seorang bayi, karena memiliki kandungan susu,” jelasnya.

Di dalam teks Weda, ada Panca Wreksa atau tumbuhan surga. Salah satunya adalah pohon pisang. Sehingga saat ngadegang Upakara, ada Sanggar Surya, yang menggunakan Pohon Pisang. Pohon tersebut ditempelkan pada Sanggar Surya.

“Sebagai tanaman Sorga, tentu pisang menjadi sarana yang dibutuhkan saat upacara yadnya. Karena dianggap suci,” sebutnya.

Editor : I Putu Suyatra
#dewa wisnu #bali #dewa brahma #yadnya #Banten #hindu #pisang #dewa siwa #Dewi Parwati #Weda