BALI EXPRESS - Rangkaian Usada Dalem tiap dua tahun sekali pada Tilem Kadasa di Desa Adat Saren, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali, tidak hanya dilaksanakan ritual ngamumu. Krama setempat juga melaksanakan tradisi Terteran, tradisi perang api menggunakan sambuk (sabut kelapa). Usaba Dalem adalah salah satu ritual yang dilaksanakan umat Hindu di Bali.
Ritual Terteran sendiri dilaksanakan di depan Pura Sangsegan dengan menggunakan jalan raya yang terbentang dari utara ke selatan sebagai kalangan (arena pentas). Hal ini dikarenakan pura itu tidak memiliki jaba tengah dan jaba sisi, hanya memiliki jeroan saja.
Sebelum melaksanakan Terteran, sambuk sebagai sarana utama dalam tradisi ini wajib diupacarai saat Tilem Sasih Kedasa. Selanjutnya sambuk dijajarkan di sepanjang jalan depan Pura Sangsegan.
Bendesa Adat Saren Jro I Wayan Sukiana mengatakan Terteran sudah dilestarikan sejak dahulu sebagai rangkaian dari Usaba Dalem. Terteran mengikuti upacara. maksudnya, jika Usaba Dalem tidak dilaksanakan, demikian pula dengan Terteran.
Sebelum pelaksanaan tradisi ini, krama terlebih dahulu melaksanakan upacara pacaruan. Tujuannya untuk menetralkan kekuatan negatif menjadi positif dan membersihkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Terteran sendiri merupakan simbolis dari penyucian diri dari segala kekotoran duniawi sebelum melaksanakan Usaba Dalem.
“Kami meyakini, dengan melakukan Terteran ini menetralisir energi negatif serta pengaruh negatif dari kekuatan bhuta kala yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat Desa Adat Saren,” katanya belum lama ini.
Dalam pelaksanaanya, Terteran tidak diiringi dengan gamelan apapun. Penggunaan busana tidak terikat oleh suatu aturan. Namun karena berkaitan dengan upacara, maka mereka yang terlibat memakai pakaian adat.
Terteran dimulai sekitar pukul 18.00. Pengayah dibagi menjadi dua kelompok yaitu kaja (utara) dan kelod (selatan). Kelompok yang terdiri dari anak-anak diperkenankan terlebih dahulu untuk berperang api, dilanjutkan dengan orang dewasa.
Perang dimulai ketika orang-orang meneriakkan kata “lis” yang artinya semua pengayah sudah siap dengan sambuk yang berisi api di kedua tangan dan mulai menembak. Ketika diteriakkan “batur” maka semua pengayah harus menyudahi pertarungan dan mencari sambuk.
Setidaknya ada tujuh gerakan yang secara spontan keluar dari para pengayah. Seperti mengayunkan sambuk, nguntuk (sikap membungkukkan badan dan memasang kuda-kuda), bedut atau nyabat (melempar lawan dengan sambuk yang berisi api), mekelid (menghindari lemparan lawan).
Sambuk yang digunakan dalam tradisi ini adalah yang sudah kering dan mudah terbakar oleh api. Sambuk memiliki sifat ringan serta tekstur halus di bagian luar, dan kasar di bagian dalamnya. “Dengan sifatnya itu diharapkan api atau mala yang ada di dalam manusia hilang dengan cepat, selain itu sambuk memiliki sifat yang ringan, dan tidak terlalu keras sehingga dalam penggunaannya tidak terlalu berbahaya, meskipun resiko cedera masih ada,” jelas Jro Sukiana.
Penonton juga turut menyemangati para pengayah dengan berseru yang membuat pengayah semakin bersemangat. Ditambah suara yang dihasilkan dari sambuk saat dilemparkan silih berganti oleh pengayah kemudian mengenai punggung pengayah ataupun meleset mengenai jalan aspal kian menambah kesemarakan terteran.
Percikan api yang dihasilkan saat sambuk dilemparkan mengenai lawan atau jalan aspal, sangat memanjakan mata penonton yang menyaksikan karena menghasilkan percikan yang indah, apalagi dilaksanakan pada malam hari.
“Percikan api yang dihasilkan tampak seperti kembang api yang indah membuat penonton terpaku saat menyaksikannya. Cahaya api terlihat sangat jelas karena saat pementasan berlangsung semua lampu di sekitarnya dipadamkan. Nah ini yang membuat penonton rela berjubel,” tuturnya.
Editor : I Putu Suyatra