BALI EXPRESS - Banten Biyakaon atau Beakala (salah satu sarana upakara umat Hindu di Bali) menjadi sarana ritual yang sangat sering digunakan dalam upacara panca yadnya. Banten yang identik dengan warna serba hijau ini menjadi sarana pembersihan secara niskala agar menetralisir energi negatif.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, I Gusti Agung Istri Purwati mengatakan, Banten Beyakaon adalah salah satu jenis sarana yang paling seirng digunakan dalam upacara panca yadnya di Bali.
Secara etimologi, Banten Beyakaon terdiri dari dua kata yaitu baya dan kaon. Baya artinya bahaya dan kaon artinya hilang. Jadi bayakaon dijadikan sebgaai sarana untuk menghilangkan segala mala atau kekotoran.
“Dari banten Beyakaon ini bisa digunakan untuk menghindari energi negatif baik yang muncul dari pengaruh alam atau lingkungan sekitar maupun pengaruh manusia, sehingga perlu dinetralisir,” katanya.
Ada sejumlah Unsur unsur penting yang menyusun dari Banten Beyakaon. Banten ini pada bagian alasnya harus menggunakan sidi seperti alat mengayak. Sidi ini memiliki banyak lubang.
Secara filosofis sidi ini bisa menyeleksi hal yang halus dan kasar. Alat inilah mampu menyaring dan memisahkan hal baik dan buruk, sehingga wajib digunakan dalam banten Beyakaon.
Sarana lainnya adalah alas berupa taledan, kulit peras dari pandan berduri yang disimbolkan sebagai benteng pertahanan agar senantiasa membedakan hal-hal negatef dengan hal yang positif.
Selanjutnya ada alat tetatandingan sepeti buah pisang, buah, jajan, tape, bantal dan tebu. Sarana ini wajib ada di banten Beyakaon. Kemudian ada dua buah tumpeng sebagai simbol peras, dengan sanganan, peras tulung sayut, sehingga disebut dengan sorohan alit, sampyan kembang.
Di Banten Beyakaon juga ada nasi metajuh dan nasi metimpuh. Nasi ini adalah simbol purusa pradana. Keduanya diletakkan di sebelah kanan dan kiri. Kemudian rerasmenan seperti kacang, saur, telur, ikan teri.
Uniknya, pada banten Beyakaon juga ditemukan batok kelapa (kau bulu) yang berisi bumbu dicincang. Sarana selanjutnya adalah Ngad Sabet (sabut kelapa yang dijepit) dan sabet itu sapu yang dibuat tiga helas dan ambengan.
Unsur Daun-daunan juga digunakan seperti daun base tulak, dapdap, yang memiliki kekuatan sakti. Sarana beras, daun dapdap, benang merah, uang kepeng, dan dijadikan satu dalam ceper.
Toya anyar, bungkak gadang. “Kenapa tidak menggunakan Nyuh Gading, kok malah Nyug Gadang. Nah bungkak gadang ini memang khusus digunakan untuk upacara yang sifatnya dibawah atau ditujukan untuk Bhuta Bhuti.,” kata Wanita yang akrab disapa Gung Ti ini.
Penggunaan sarana seperti Sampyan peras, penyeneng lengkap dengan benang, beras, cakkcakan dapdap dan lis amu amuan atau lis basang-basang. Isinya ada basang wayah, basang nguda, tangkar iga, dan lawat buah lawat nyuh dan dijadikan satu.
Saat prosesi mebyakaon jika diperhatikan ada penggunaan telor ayam. Telor ini digunakan saat meeteh eteh atau diusapkan di bagian tangan kaki. Dalam konsep ini telor bisa menyerap energi negatif yang ada pada manusia.
“Makanya di dalam biyakaon telor tersebut tidak boleh dilungsur dan disarankan dirarung atau dibuang. Karena telor itu ibarat penyerap energi negative, sehingga harus dibuang agar tidak mengotori kembali,” katanya.
Ia menambahkan, satu set beyakaon yang lengkap biasanya ada pesucian yang juga berisi sigsig, ambo, miik miik, minyak wangi dan dapdap mencak berisi canang sari.
Lalu, kenapa Banten Beyakaon justru tidak menggunakan busung atau janur namun malah menggunakan Slepan atau daun kelapa hijau yang sudah tua? Disebutkan Gung Ti, dalam biyakaon tidak menggunakan janur namun menggunakan selepan atau daun kelapa tua.
“Sebab, upacara beyakon ditujukan kepada bhutabhuti atau di sor. Baik di pelinggih amupun upacara manusa yadnya. Sehingga yang digunakan itu adalah bagian slepan. Kalau daun kelapa yang posisinya sudah tua pasti berada di areal kaki,” imbuhnya.
Editor : I Putu Suyatra