GIANYAR, BALI EXPRESS- Setiap pujawali di Pura Samuan Tiga, Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar senantiasa dirangkai dengan tradisi Ngambeng. Prosesi yang diikuti oleh anak-anak maupun remaja ini bertujuan untuk mencari sarana upacara ke rumah-rumah penduduk di wilayah Desa Bedulu yang menyungsung Pura Samuantiga.
Tradisi Ngambeng spontan dilakukan oleh anak-anak dan remaja 15 hari sebelum pelaksanaan piodalan di Pura Samuan Tiga. Tradisi ini dilaksanakan tanpa adanya perintah ataupun paksaan dari prajuru adat. Tradisi Ngambeng biasanya berlangsung selama 7 hari, dan 8 hari sebelum pelaksanaan piodalan di Pura Samuan Tiga.
Hasil dari Ngambeng ini akan dikumpulkan untuk sarana perlengkapan piodalan di Pura Samuantiga. Tradisi Ngambeng merupakan warisan yang telah dilaksanakan secara turun-temurun dan dilaksanakan sejak dari berdirinya Pura Samuan Tiga.
Bendesa Pura Samuan Tiga Gusti Ngurah Made Serana menjelaskan tradisi Ngambeng merupakan tradisi sakral yang diyakini oleh masyarakat Desa Bedulu memiliki kekuatan magis dalam pelaksanaannya. Berdasarkan cerita yang dituturkan secara turun-temurun membuat masyarakat Desa Bedulu semakin kuat meyakini keberadaan tradisi Ngambeng.
Konon, tradisi ini mulai dilaksanakan ketika masyarakat di Desa Bedulu mengalami kesulitan untuk mendapatkan sarana upacara untuk upacara di Pura Samuan Tiga yang diakibatkan oleh adanya bencana Gunung Batur meletus tahun 1917. “Tradisi Ngambeng dilaksanakan berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik yang diterima oleh pamangku Pura Samuan Tiga Desa Bedulu. Sejak saat itu tradisi Ngambeng dalam upacara Dewa Yadnya di Pura Samuan Tiga dilaksanakan secara turun-temurun sampai sekarang,” jelas Gusti Serana.
Sedangkan laba pura tidak memadai untuk menunjang proses pembangunan di pura tersebut. Serangan hama juga ikut memperburuk situasi pertanian di Desa Bedulu sehingga ikut memperburuk keadaan perekonomian saat itu.
Masyarakat Desa Bedulu sangat meyakini tradisi Ngambeng memiliki kekuatan magis. Terdapat beberapa keyakinan magis yang dirasakan oleh masyarakat dan sudah terjadi sejak lama sampai sekarang.
Salah satunya adanya rasa bahwa ada yang mengendalikan anak-anak sebagai pelaksana tradisi Ngambeng (ngayah Ngambeng). Adanya pengendali ini membuat mereka tidak merasa canggung atau merasa takut untuk memasuki rumah-rumah penduduk Desa Bedulu untuk Ngambeng.
Selain itu, anak-anak yang ingin ikut serta dalam tradisi Ngambeng diyakini telah mendapat perlindungan dari Ida Bhatara-Bhatari di Pura Samuan Tiga. Hal buruk akan terjadi apabila ada anak-anak yang ingin ikut dalam pelaksanaan tradisi Ngambeng tetapi tidak diizinkan oleh keluarga atau orang tuanya dengan alasan keselamatan, keluarga atau orang tua yang melarang itu akan mengalami musibah.
Pangayah Ngambeng tidak akan berani berlaku curang. Apabila ada anak yang berani tidak jujur dalam melaksanakan Ngambeng maka pangayah tersebut akan mengalami gangguan seperti, sakit perut, luka pada tubuhnya, atau kejadian lainnya yang terkadang tidak masuk akal.
Masyarakat yang kedatangan anak-anak yang ngayah Ngambeng tidak akan berani tidak memberikan sesuatu yang dimiliki untuk mendukung upacara yadnya di Pura Samuan Tiga. Hal ini karena masyarakat Desa Bedulu sangat meyakini bahwa apabila menolak atau tidak memberikan apapun kepada anak-anak yang ngayah Ngambeng maka sesuatu yang kurang baik akan dialami.
“Pangayah Ngambeng harus selalu berupaya menjaga etika dalam melaksanakan Ngambeng. Hal buruk akan terjadi apabila selama pelaksanaan Ngambeng melakukan kesalahan berbicara dan bertingkah laku,” imbuhnya.
Tradisi Ngambeng dilaksanakan mulai pagi hari sampai sore hari oleh kelompok anak-anak. Apabila bahan untuk menunjang pembuatan upakara dalam upacara Dewa Yadnya belum dipandang cukup, maka Ngambeng akan dilaksanakan pada malam hari oleh kelompok dewasa.
Kelompok dewasa ini biasanya kelompok yang ditugaskan oleh panitia karya. Kelompok dewasa yang ditunjuk biasanya sekaha gong, sekaha angklung, atau sekha yang ngayah nunceg di Pura Samuan Tiga. “Anak-anak datang ke Pura Samuan Tiga untuk melaksanakan persembahyangan. Anak-anak datang secara spontan tanpa diminta untuk ikut ngayah Ngambeng,” sebutnya. (*)
Editor : I Made Mertawan