GIANYAR, BALI EXPRESS- Tradisi Ngambeng masih dilestarikan oleh penyungsung Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Setiap pujawali, tradisi tak terlewatkan.
Rupanya ada sejumlah aturan khususnya dalam hal berpakaian bagi para pangayah yang mengikuti tradisi Ngambeng. Etika bertamu dan berbicara pun diatur. Etika bertamu atau saat mendatangi rumah warga wajib mengucapkan salam “Om Swastyastu”, dan menyampaikan maksud kedatangan ke rumah tersebut dengan menyatakan diri sebagai pangayah Ngambeng yaitu “tyang Ngambeng”.
Bendesa Pura Samuan Tiga, Gusti Ngurah Made Serana menyebutkan ucapan sederhana tersebut merupakan etika khusus bagi para pangayah Ngambeng. Pakaian yang digunakan para pangayah Ngambeng yaitu pakaian adat ringan atau pakaian adat madya. Pakaian adat yang digunakan bagi anak-anak putra yaitu menggunakan, kain (wastra), selendang, baju kaos, dan ikat kepala (destar/udeng).
Para pangayah Ngambeng menggunakan pakaian adat ringan. Pakaian adat ringan dipilih agar anak-anak lebih leluasa dalam menjalankan tugasnya selama pelaksanaan melaksanakan tradisi Ngambeng. Pakaian adat ringan lumrah digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali dalam kegiatan persiapan pelaksanaan yajna.
Adapun wilayah Ngambeng yang dilakukan oleh anak-anak pangambeng adalah wilayah lima desa adat yang menjadi pangambeng adalah wilayah lima desa ada yang menjadi pengempon Pura Samuan Tiga. Seperti Desa Adat Bedulu yang terdiri dari lima banjar, meliputi Banjar Margabingung, Banjar Batulumbang, Banjar Tengah, Banjar Lebah, dan Banjar Gua. Desa Ada Taman yang terdiri dari dua banjar, meliputi Banjar Taman dan Banjar Pekandelen.
Desa Adat Wanayu yang terdiri dari dua banjar, meliputi Banjar Wanayu, Banjar Mas. Kemudian Desa Adat Tengkulak Kaja yang terdiri dari dua banjar, meliputi Banjar Tengkulak Kaja Kauh dan Banjar Tengkulak Kaja Kangin. Desa Adat Tengkulak Tengah yang terdiri dari satu banjar, yaitu Banjar Tengkulak Tengah.
“Sebelum melaksanakan tradisi Ngambeng, anak-anak yang tergabung dalam kelompok Ngambeng datang ke Pura Samuan Tiga untuk melaksanakan persembahyangan bersama. Mereka datang ke pura dengan membawa sarana persembahyangan ada juga yang hanya datang tanpa membawa sarana apa-apa,” sebutnya.
Mereka melaksanakan persembahyangan bersama sebelum pelaksanaan Ngambeng untuk memohon agar dalam melaksanakan kegiatan mendapat perlindungan agar dilancarkan dalam melaksanakan tradisi Ngambeng.
Selain sembahyang bersama, anak-anak ini juga berikan sedikit pengarahan agar tetap mengutamakan keselamatan dalam menjalankan tradisi. “Hal tersebut mengingat anak-anak akan Ngambeng dengan menyusuri jalan raya dan juga bisa jadi sampai memanjat pepohonan untuk mendapatkan sarana upakara untuk menunjang pelaksanaan Dewa Yadnya di Pura Samuan Tiga,” kata Gusti Serana. (*)
Editor : I Made Mertawan