Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali; Mitologi di Balik Ritual Menghaturkan hingga Ratusan Babi Guling saat Ngusaba Sumbu

I Putu Mardika • Kamis, 27 Juli 2023 | 14:05 WIB
Tradisi Hindu Bali; Mitologi di Balik Ritual Menghaturkan hingga Ratusan Babi Guling saat Ngusaba Sumbu
Tradisi Hindu Bali; Mitologi di Balik Ritual Menghaturkan hingga Ratusan Babi Guling saat Ngusaba Sumbu

BALI EXPRESS - Desa Adat Timbrah, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Bali memiliki tradisi Usaba Sumbu yang sangat terkenal dengan menghaturkan babi guling jumlahnya hingga ratusan ekor. Rupanya, ada mitologi yang menjadi dasar di balik alasan penggunaan babi dalam ritual Ngusaba.

Menurut catatan kuno Desa Adat Timbrah serta mitos yang diyakini oleh masyarakat desa, bahwa Desa Adat Timbrah dibangun oleh Hyang I Tuduh. Hyang I Tuduh ini dikisahkan menciptakan dengan Mahayunan Mamuji Celeng (Babi).

Jika diartikan Mahayunan berasal dari kata Ayunan yang diartikan sebagai kedamaian. Sedangkan Mamuji yang berasal dari kata Muji yang artinya keinginan. Celeng berasal dari kata ling atau kata-kata. Jadi Desa Timbrah diciptakan atas dasar kata-kata yang mendamaikan

Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Hyang I Tuduh menurunkan empat ekor babi yang bernama I Tabu, I Tumtum, I Jenek, dan I Sari. Babi-babi ini yang diyakini membangun sistem kehidupan (bhuana agung, makrokosmos) di Desa Adat Timbrah.

Berdasarkan awig-awig Desa Adat Timbrah dijelaskan bahwa Ki Sari bertubuh bayu (tenaga), bayu bertubuh kahyangan, kahyangan bertubuh Batara. I Jenek bertubuh panegtegan. I Tumtum berbadan tumpeng pengguru. I Tabu bertubuh tuak. Ta berarti tu, tu berarti tuak.

Berdasarkan atas awig-awig inilah masyarakat Desa Adat Timbrah menganggap babi sebagai sesuatu yang sangat disenangi oleh Tuhan (sesuhunan) mereka. Sehingga babi menjadi salah satu persembahan yang dapat membuat para dewa di Desa Adat Timbrah menjadi senang dan memberikan banyak berkah bagi masyarakat desa.

Kelian Adat Timbrah, I Wayan Gunaksa mengatakan, dalam setahun masyarakat Desa Timbrah melangsungkan beberapa kali upacara besar yang disebut dengan Usaba. Dua diantara Usaba tersebut menggunakan babi guling dalam jumlah yang sangat besar, yakni Usaba Dalem dan Usaba Sumbu.

Pada dua Usaba ini, seluruh warga desa terlibat langsung dan turut menghaturkan babi guling sebagai salah satu bentuk persembahan paling tinggi dalam keyakinan mereka.

“Kami meyakini, persembahan babi guling adalah sebuah ungkapan rasa syukur masyarakat desa atas segala kemudahan dan anugrah yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi,” jelasnya.

Usaba Sumbu adalah Usaba yang berlangsung paling lama dan paling meriah di Desa Adat Timbrah. Usaba Sumbu sendiri dilangsungkan di dua pura, yaitu Panti Kaler dan Pura Bale Agung. Sumbu dimaknai sebagai sebuah poros (pusat) atau sumber kehidupan untuk mencapai sunia (kedekatan dengan Tuhan).

Usaba Sumbu digelar sebagai penyambutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sarana upacara tiang lurus yang dihiasi berbagai perlengkapan yang sudah disucikan berasal dari hasil bumi.

Seperti tiing (bambu), busung (daun kelapa), ental (daun aren/daun lontar), plendo (bagian dalam batang singkong). Sarana itu disusun secara mengerucut yang pada bagian atasnya terdapat manuk dewata yang dipercaya membawa amanah dari persembahan warga.

Sumbu dibangun setinggi sekitar 25 meter. Sumbu berasal dari kata bubu yang mengalami penyesuaian menjadi sumbu yang artinya pusat. Dari sejarahnya Sumbu adalah lambang Buana Agung (Gunung) yang didalamnya berisi segenap makhluk hidup dan unsur alam lainnya pembuatannya menyerupai gunung dengan unsur-unsur yang ada di gunung dibuat dengan menggunakan banyak rangkaian yang sangat rumit.

Sumbu diartikan sebagai persembahan tulus ikhlas, wujud bhakti warga yang ditujukan kepada Tuhan yang Maha Esa. Sarana ini yang meliputi tiing petung, robrob, kukur, rerenteng, bungan langkuas, reringgitan naga sari, sesapi buduh, paku pidpid kedis, kapal, sesapi kempes, sesapi kembung, baling, pepijetan, pipisan, salang, tapung meringgis, tapung buah, kampid, janggar, dan kedis manuk dewata.

Diatasnya terdapat bunga plendo, wayang, jekjekan wayang, kulung- kulung, bongli, anjel dan gada yang terletak paling ujung pada sumbu.

“Wayang yang terdiri dari lima tumpang itu disimbolkan sebagai tokoh-tokoh pewayangan dari cerita Baratayuda dan Ramayana dalam kepercayaan Hindu,” paparnya.

Editor : I Putu Suyatra
#babi guling #bali #desa adat #hindu #timbrah #karangasem #tradisi #usaba sumbu