Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dasar Umat Hindu di Bali Buat Penjor Galungan; Tidak Harus Mahal, Tertulis Jelas di Lontar Tutur Dewi Tapini

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 28 Juli 2023 | 13:05 WIB
PENJOR : Penjor yang dipasang di depan rumah umat Hindu di Bali saat Galungan, berbeda dengan penjor dekorasi.
PENJOR : Penjor yang dipasang di depan rumah umat Hindu di Bali saat Galungan, berbeda dengan penjor dekorasi.

BALI EXPRESS - Menjelang perayaan hari suci Galungan dan Kuningan tentu umat Hindu khususnya di Bali menyiapkan sarana dan prasarananya. Salah satunya adalah Penjor.

Tidak jarang umat Hindu yang menghabiskan uang sampai ratusan ribu hingga jutaan hanya membuat penjor Galungan. Hal itu pun bukan berarti salah, namun kembali lagi ke rasa dan kemampuan materi.

Sebab secara filosofinya, ternyata penjor sangatlah sederhana dan tidak membebankan umat. Bahkan jika dibuat dengan sendiri dan bahan seadanya tidak mengeluarkan biaya banyak.

Dimana penjor adalah simbol dari naga basukih, dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran.

Maka dari itu bahan-bahan untuk penjor banyak berasal dari hasil pertanian, seperti plawa (daun-daunan), palawija (biji-bijian seperti padi atau jagung), pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (kelapa, pisang, mentimun).

Keberadaan bahan-bahan pembuat penjor tersebut tentu memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Berdasarkan Lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan :

“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha”

Artinya : Wahai kamu orang-orang bijaksana, yang menyelenggarakan yadnya, agar kalian mengerti proses menjadi kedewataan, maka dari itu sang Bhuta menjadi tempat/tatakan/dasar dari yadnya itu, kemudian semua Dewa menjadi sarinya dari jagat raya, agar dari dewa semua kembali kepada hyang widhi, widhi widhana (ritualnya) bertujuan agar sang Tri Purusa menjadi isi dari jagat raya, Hyang Siwa menjadi Bulan, Hyang Sadha Siwa menjadi windu (titik O), sang hyang parama siwa menjadi nadha (kecek), yang mana kesemuanya ini merupakan simbol dari Ong Kara.

“Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala (buah-buahan), Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan (bambu & jajanan), Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading ( janur kuning), Hyang Sangkara Meraga Phalem (buah pala), Hyang Sri Dewi Meraga Pari (padi), Hyang Sambu Meraga Isepan (tebu), Hyang Mahesora Meraga Biting (semat).”

Dari petikan bait lontar di atas dapat disimpulkan bahan-bahan pembuat penjor terdiri dari :

Bahan-bahan itu pun sangat gampang dicari, dan tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Namun yang membuat penjor memerlukan dana yang lebih, kembali lagi ke rasa dan kreasi pada penjor itu sendiri. Sebab pada umumnya fungsi dan makna penjor seperti yang ada di atas tersebut.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #penjor #Lontar Tutur Dewi Tapini #hindu #galungan