Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali saat Kuningan; Dewa Masraman, Tradisi dari Karangasem Lestari di Klungkung

I Putu Mardika • Sabtu, 5 Agustus 2023 | 16:05 WIB
Tradisi Dewa Maserama di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung adalah salah satu tradisi Hindu Bali saat Hari Raya Kuningan.
Tradisi Dewa Maserama di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung adalah salah satu tradisi Hindu Bali saat Hari Raya Kuningan.

BALI EXPRESS - Sepuluh hari setelah Galungan, adalah Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu di Bali. Biasanya setiap Kuningan ada banyak tradisi Bali yang unik digelar. Salah satunya adalah Dewa Masraman.

Dewa Masraman, adalah tradisi Bali yang unik di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung dan digelar setiap Hari Raya Kuningan atau 210 hari sekali.

Salah satu tradisi Bali saat Kuningan ini sendiri digelar di Pura Panti Timbrah. Lalu bagaimana sejarah Dewa Masraman bisa digelar di pura tersebut?

Tradisi Dewa Maserama di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung adalah salah satu tradisi Hindu Bali saat Hari Raya Kuningan.
Tradisi Dewa Maserama di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung adalah salah satu tradisi Hindu Bali saat Hari Raya Kuningan.

Berdasarkan catatan sejarah, konon ritual ini dibawa oleh para pendatang dari desa asal mereka yaitu Desa Timbrah Karangasem.

Kedatangan mereka ke Desa Paksebali Klungkung dikaitkan dengan peristiwa perang Karangasem-Klungkung pada Tahun 1750.

Mereka semua ditugaskan oleh Raja Karangasem di perbatasan dua kerajaan. Kebanyakan dari mereka adalah wangsa, trah, soroh (klan) Pasek Bugbug.

Pasca perang  dengan kekalahan dari pihak Kerajaan Karangasem para pendatang dari Timbrah menyatakan kesetiaannya kepada Ida Dewa Agung Raja Klungkung.

Kemudian mereka diberikan tempat untuk menetap. Untuk mengingat nama tempat asalnya, tempat yang diberikan Raja Klungkung diberi nama Banjar Timbrah.

Para pendatang yang menetap membawa serta warisan budayanya berupa sebuah tempat pemujaan Pura Panti yang dilengkapi dengan tradisi Megibung.

Tradisi megibung ini melibatkan anak-anak muda (Sekaa Teruna) untuk memohon kesuburan dan kesejahteraan berkah dari para dewa.

Jro Mangku I Made Mustika selaku Pemangku di Pura Dadia Panti Timbrah
Jro Mangku I Made Mustika selaku Pemangku di Pura Dadia Panti Timbrah

Jro Mangku I Made Mustika selaku Pemangku di pura Dadia Panti Timbrah mengatakan Tradisi Dewa Masraman dilaksanakan setiap 210 hari pada hari Saniscara Kliwon Wuku Kuningan yang bertepatan pada Hari Raya Kuningan.

Diyakini, tradisi ini diperkirakan telah berlangsung selama sembilan generasi sejak leluhur generasi yang sekarang menetap di banjar Timbrah.

Prosesi Dewa Mesraman yang dilaksanakan di Pura Panti Timrah Desa Paksebali diawali dengan pembuatan Penjor.

Pada hari pertama, masyarakat Paksebali menuju Pura Panti Timrah membuat dua penjor yang dihiasi dengan burung Manuk yang terbuat dari daun lontar.

Makna dari penjor yang dibuat memiliki makna “purusa dan pradhana” dan arti dari burung manuk yang dipakai hiasan penjor yaitu memiliki arti dari kata manuk yaitu “manah (budhi)” yang dihias pada penjor yang akan ditanam, dikukuhkan, atau diletakan di madya mandala Pura Panti sebelum masyarakat melaksanakan rangkaian tradisi Dewa Mesraman.

“Seluruh masyarakat sebelum melaksanakan Tradisi Dewa Mesraman memiliki manah atau kesungguhan hati dalam melaksanakan rangkaian Tradisi Dewa Mesraman dari awal sampai akhir rangkaian upacara,” ungkapnya.

Pada hari kedua diadakan matur piuning dan nedunang pratima di gedong tempat disimpannya pratima simbol Dewa.

Kemudian dilanjutkan acara nunas paica (berkah) dan magibung.

Masyarakat berkumpul di masing-masing tempat disimpannya pratima, selanjutnya secara bersama-sama masyarakat akan melaksanakan upacara nedunang.

Tradisi Dewa Maserama di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung adalah salah satu tradisi Hindu Bali saat Hari Raya Kuningan.
Tradisi Dewa Maserama di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung adalah salah satu tradisi Hindu Bali saat Hari Raya Kuningan.

Setelah upacara nedunang selesai, ketujuh jempana yang didalamnya sudah berisi pratima yang sudah dihias akan diusung oleh masyarakat yang akan menuju pura, ketujuh pratima akan ditempatkan (melinggih) di pengaruman.

Setelah ketujuh pratima simbol Dewa melinggih di pengaruman, masyarakat akan melanjutkan kegiatan nunas paica dan magibung.

Prosesi ini dilakukan pada sore hari sekira pukul 14.30 – 15.30 wita, di Madya Mandala Pura Panti Timrah.

Pelaksanaan nunas paica ini hanya dilakukan oleh anak – anak yang belum beranjak dewasa.

Makanan atau paica yang disediakan berupa lawar, nasi dan sate yang beralaskan dengan klangsah.

Selanjutnya dilaksanakan Upacara mesucian. Seluruh masyarakat akan berkumpul di madya mandala Pura Panti Timbrah untuk melaksanakan upacara mesucian ke sungai unda.

Mesucian ini bertujuan untuk memohon air suci untuk membersihkan jiwa dan raga para masyarakat dusun Timrah sebelum melakukan rangkaian upacara puncak Dewa Mesraman. Pada upacara Puncak Dewa Mesraman.

Setelah selesai mesucian, jempana akan diusung kembali ke pura Panti Timrah akan dihaturkan banten segehan agung, pejati penyambleh dengan memotong ayam kecil, untuk mendapatkan darahnya.

Kemudian setelah jempana sampai di madya mandala Pura masyarakat yang mundut (membawa jempana) akan mesolah (menarikan jempana) Upacara Ngemantukang dilakukan pada pukul 19.00 wita.

“Di Madya Mandala Pura Panti seluruh joli akan masuk ke utama mandala pura dan seluruh pratima simbol Dewa akan di tempatkan di utama mandala,” paparnya

Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #dewa masraman #hindu #tradisi #galungan #kuningan