BALI EXPRESS - Ada sejumlah pantangan yang tidak boleh dilakukan saat Soma Pemacekan Agung. Ini ada hubungannya dengan leak.
Di antaranya tidak boleh potong rambut, potong kuku dan keramas. Karena saat ini leak pemoroan sedang menjalani hukuman akibat tak bayar tumbal.
Saat Pemagpag Pemacekan Agung biasanya yang dibahas oleh para leak adalah tentang kantah (tumbal, Red).
Jadi saat ini menjadi ajang rapat secara niskala bagi para leak pemoroan.
Sedangkan saat Pemacekan Agung, biasanya dimanfaatkan oleh para leak yang belajarnya melalui kawisesan, nyastra atau Dharma Weci.
Sore hari saat Soma Pemacekan Agung juga dijadikan ajang untuk menghukum para leak yang belajar pengelakan tanpa menggunakan pakem atau agem-ageman sehingga kerap dilanggar.
“Biasanya ada Bedhawa Pengleakan. Seperti aturan khusus bagi para leak. Misalnya binatang tidak boleh dicetik. Kadang ada tetangga yang iri, lalu babinya yang dicetik. Nah itu tidak boleh. Melanggar aturan dan bisa kena hukuman,” jelasnya.
Menariknya, para leak yang dihukum akan menjalani peradilan. Sehingga dikenal dengan pematut atau pembalik sumpah.
Jro Panca menyebut, biasanya upacara itu dilakukan di Pura Dalem, Prajapati, pemuun.
Di sisi lain, ada sejumlah pantangan yang harus dihindari saat Soma Pemacekan Agung tiba. Di antaranya tidak boleh potong rambut, potong kuku hingga keramas.
Karena diyakini kalau melakukan hal itu bisa disebut kekaranan.
“Artinya bisa badan kita dipinjam, sehingga kelihatan kita seolah bisa ngeleak. Ini harus diwaspadai,” bebernya.
Ia juga tak menampik di masyarakat ada mitos untuk tidak keluar saat sandikala ketika Soma Pemacekan Agung.
Pertimbangannya, karena masyarakat sedang menghaturkan lelabaan atau sesajen. Sehingga energi negatif tidak masuk ke pekarangan rumah.
“Jadi kalau mampu melewati momentum ini, saat Kuningan barulah melakukan perayaan sebagai simbol kemenangan,” ungkapnya lagi.