JEMBRANA, BALI EXPRESS- Serangkaian peringatan HUT ke-12 Kota Negara dan HUT Kemerdekaan RI ke-78, sebanyak lima sekaa joged bumbung klasik tampil apik menghibur masyarakat Jembrana, Sabtu 5 Agustus di Gedung Kesenian DR Ir. Soekarno, Kelurahan Dauhwaru, Jembrana, Bali.
Kelima sekaa jogeg bumbung itu merupakan perwakilan dari masing-masing kecamatan di Jembrana. Setiap sekaanya dikatakan memiliki ciri khas masing-masing.
Selain itu jogged bumbu, ditampilkan pula kendang mabarung dari Desa Dangintukadaya dan Kelurahan Lelateng, Jembrana. Kesenian ini merupakan khas Jembrana yang kini keberadaan mulai terbatas.
Area panggung terbuka Gedung Kesenian DR Ir. Soekarno dipadati masyarakat yang sangat antusias untuk menyaksikan pertunjukan joged bumbung klasik dan kendang mebarung ini.
Kemeriahan semakin terasa ketika masyarakat diajak serta untuk ikut ngibing (menari) bersama penari jogeg bumbung.
Meski dikatakan joged bumbung klasik, namun para penabuhnya tidak serta merta didominasi oleh bapak-bapak saja. Namun anak-anak muda pun tampil apik membawakan tabuh klasik tersebut.
Pagelaran kesenian kendang mabarung dan parade joged bumbung klasik dalam rangka memperingati HUT Kota Negara dan HUT Kemerdekaan RI ini terselenggara atas kerja sama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana bersama dengan Yayasan Seni Joged Bumbung Klasik Kabupaten Jembrana.
Kelima sekaa joged bumbung klasik yang tampil di antaranya Sekaa Puri Galuh dari Desa Pekutatan, Sekaa Gargita Swara Jaya atau lebih dikenal dengan Legu Poleng asal Desa Yehembang, sekaa Semara Gita dari Banjar Sebual, Desa Dangin Tukadaya, Sekaa Ghora Yowana Budaya dari Kelurahan Lelateng dan terakhir sekaa Sekar Kembang dari Desa Manistutu.
Kepala Dinas Parbud Jembrana Anak Agung Komang Sapta Negara mengatakan pagelaran kesenian kendang maabarung dan parade joged bumbung klasik dalam rangka HUT Kota Negara dan HUT Kemerdekaan RI menampilkan sekaa dengan ciri khasnya masing-masing.
“Kami tampilkan 5 sekaa joged bumbung klasik dari masing-masing kecamatan yang memiliki ciri khas. Hari ini kami pusatkan di gedung kesenian Ir Soekarno, kami undang perwakilan kecamatan untuk menghibur masyarakat Jembrana disini,” ujarnya.
Pihaknya menyampaikan sekaa joged bumbung klasik di Jembrana telah memiliki suatu perkumpulan sebagai wadah para seniman untuk menyalurkan kreativitasnya. Selain itu juga dengan adanya suatu wadah bagi para seniman, pemerintah daerah dapat lebih mudah untuk menginventarisasi sekaa yang ada.
“Joget bumbung di Jembrana telah memiliki yayasan, sehingga dengan memiliki wadah seperti ini lebih mudah bagi kami untuk melestarikan budaya serta memberikan ruang untuk terus tampil. kami selalu libatkan sekaa kesenian melalui yayasan sehingga ada pemerataan dan memberikan ruang yang sama bagi setiap sekaa untuk untuk menampilkan keseniannya,” sambungnya.
Pagelaran ini, menurutnya juga sebagai upaya dalam memperkenalkan kembali joged bumbung asli yang diwariskan oleh para pendahulu sebagai suatu budaya belum terkena modernisasi.
“Kami juga memperkenalkan kepada masyarakat bahwa inilah cikal bakal joged bumbung yang saat ini telah berkembang di masyarakat dengan berbagai kreasinya. Sehingga anak muda tahu bahwa joged bumbung yang sebenarnya adalah seperti ini,” imbuhnya.
Pihaknya pun mengatakan bahwa pembinaan terhadap sekaa kesenian sangat penting untuk dilaksanakan agar budaya-budaya yang ada tidak bergeser dari aturan yang sudah ada atau bahkan tidak pantas untuk dipertontonkan kembali.
Ini sebagai upaya untuk melestarikan budaya Bali sesuai dengan pakemnya.
“Salah satu tugas kami di Dinas Parbud adalah pembinaan, jadi bagaimana kesenian itu berjalan sesuai dengan pakemnya. Sehingga dapat mengatur kesenian itu agar tidak tampil diluar pakem yang ada, bukan semata-mata untuk menghibur bahkan sampai vulgar. Kesenian itu boleh menghibur tapi jangan sampai kebablasan,” pungkasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan