Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Upacara Matebusan Umat Hindu di Bali, Salah Satu Sarananya Menggunakan Ayam Hitam

I Putu Mardika • Rabu, 9 Agustus 2023 | 15:00 WIB
Upacara Matebusan umat Hindu di Bali.
Upacara Matebusan umat Hindu di Bali.

BALI EXPRESS- Upacara Matebusan atau nebusin menjadi upacara yang sering dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali.

Umat Hindu di Bali biasanya melakukan upacara matebusan di Pura Dalem atau Pura Prajapati.  

Tujuan Matebusan bagi umat Hindu adalah membayar sesangi atau kaul para leluhur, sehingga menjadi kewajiban pratisentananya untuk membayarkan. Ritual nebusin juga erat kaitannya dengan kondisi sakit keras seseorang.

Hal ini dilakukan agar roh orang yang sakit tersebut segera dikembalikan, karena utang lahir, ataupun pernah mengalami kecelakaan.

Sarati Banten, Jro Ketut Utara mengatakan, bahwa Matebusan atau nebusin diyakini bersumber pada ajaran Tantrayana di Bali. Matebusan berasal dari kata “tebus” yang berarti membayar atau melunasi.

“Ini artinya ada sesuatu yang terlupakan yang belum kita bayar saat berjanji dulu atau masesangi. Atau istilah lainya Matebusan ini mempunyai arti membayar kaul yang dilakukan oleh para orang tua kita dulu, sehingga kita sebagai keturunannya yang membayar,” jelas Jro Utara.

Ia menganalogikan sebagai contoh ada salah satu leluhur terdahulu berjanji sesuatu, namun dalam pelaksanaanya belum dibayar sampai akhir hidupnya, sehingga janji tidak bisa dilaksanakan.

Akibat tidak dilaksanakannya itulah yang membuat keluarga tidak menjadi tenang. Dalam arti ada hal-hal di luar jangkauan manusia terjadi dalam keluarga tersebut.

Tidak jarang ada anggota keluarga yang sakit nonmedis dan tak kunjung sembuh.

Maka tidak jarang di antara mereka mencoba mencari tahu dari paranormal.

Setelah mendapatkan petunjuk yang didapat bahwa ada hal-hal yang dilupakan oleh leluhurnya. Inilah yang harus dibayar melalui upacara Matebusan.

Biasanya sarana yang dipakai dalam upacara panebusan adalah pejati alit. Ini bermakna bahwa apapun yang dilakukan oleh leluhur kita dulu, dalam reinkarnasi berikutnya yang diwarisi adalah memorinya bukan fisiknya.

“Ada juga menggunakan sarana utama yaitu ayam hitam baru beranjak dewasa sebagai penukar. Kemudian juga sarana tebasan atma rauh, kala mara melaradan, pengalang hati, pageh tuwuh serta salaran gede,” papar Jro Utara.

Dalam memorinya yang masih terpendam itulah yang membuat keturunannya seolah-olah mengingat kejadian masa lalu. Untuk melupakan itulah dilakukan upacara matebusan yang lebih besar yang disebut dengan mapegat sor.

Dikatakan Jro Utara, yang melakukan panebusan inilah bagi adalah semua orang, baik secara pribadi maupun sekelompok orang. Ciri yang paling kelihatan untuk orang Matebusan adalah ia sering melamun, berbuat yang aneh-aneh tidak seperti biasanya. (*)

 

 Pesona Batu Cangga di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek. (Urbanasia.com)
Pesona Batu Cangga di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek. (Urbanasia.com)
Wisatawan mengunjungi Gua Mahakarya. (Insiden24.com)
Wisatawan mengunjungi Gua Mahakarya. (Insiden24.com)
Pantai Ropet cocok untuk menikmati sunset. (Travelingyuk.com)
Pantai Ropet cocok untuk menikmati sunset. (Travelingyuk.com)
Pengunjung duduk santai di beranda homestay rumah panggung, Gili Iyang.
Pengunjung duduk santai di beranda homestay rumah panggung, Gili Iyang.
Editor : I Made Mertawan
#bali #hindu #Matebusan #pura