TABANAN, BALI EXPRESS - Pura Luhur Pekiyisan, Beji Agung Sad Kahyangan Jagad Bali, Luhur Batukaru yang terletak di Desa Babahan, Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan bisa dikatakan menjadi salah satu pura bagi umat Hindu yang unik.
Pasalnya, Pura Beji ini menjadi salah satu tempat pemelastian Ida Betara di Pura Batukaru. Uniknya, pura ini juga sering didatangi para pejabat dan sekaa.
Bendesa Adat Desa Babahan, Made Sukawana, menyebutkan untuk aktivitas pemelastian di pura ini dilakukan 20 tahun sekali.
"Biasanya pemelastian oleh Ida Betara di Batukaru dilakukan 20 tahun sekali, bergiliran dengan pemelastian di Pura Luhur Tanah Lot," jelasnya.
Selain menjadi tempat pemelastian oleh Ida Betara di Pura Batukaru,keunikan lain di pura ini adalah, ada beberapa pura lainnya selain pura Beji tersebut.
Pura tersebut adalah, Pura Ratu Malen yang terletak di sisi barat pura utama Beji Pekiyisan, selanjutnya adalah Pura Taksu Pecalang yang letaknya di sebelah selatan Pura Ratu Malen.
Kedua pura ini juga cukup unik, karena Pelinggih utama di kedua pura ini terbuat dari bongkahan batu alam dan berlokasi di sepanjang aliran sungai Tukad Yeh Ho.
Menurut Sukawana, batu-batu besar yang dijadikan Pelinggih ini, memang sudah ada dari jaman megalitikum.
"Berdasarkan penelusuran sejarah yang dilakukan, ditemukan batu-batu besar di pura ini berasal dari jaman megalitikum, sedangkan dari catatan yang ada, keberadaan pura ini diperkirakan sudah ada sejak abad keempat," ungkapnya.
Jika fungsi pura Luhur Pekiyisan sebagai tempat pemelastian Ida Betara di Batukaru, keberadaan dua pura lainnya, yakni Pura Ratu Malen dan Pura Pecalang juga cukup unik.
Pasalnya kedua pura ini sering didatangi pemedek untuk tujuan tertentu.
Seperti pura Ratu Malen, diakui Kelihan Adat Banjar Babahan Tengah, Nyoman Sarkayasa, sering didatangi oleh pejabat baik dari tingkat Kabupaten bahkan hingga tingkat Pemerintahan Pusat yang berkantor di Jakarta untuk memohon kebijaksanaan.
"Untuk Pura Ratu Malen ini, dikenal sebagai tempat untuk memohon kebijaksanaan, karena perwujudan tokoh Malen itu sendiri adalah tokoh yang bijaksana, sehingga pada hari-hari tertentu seperti Purnama, Tilem kajeng Kliwon dan lain sebagainya pasti ada saja yang Tangkil ke pura ini, untuk memohon kebijaksanaan," jelasnya.
Untuk sarana persembahyangan yang dibawa dalam ritual ini, Sarkayasa menyebutkan tidak ada sarana khusus, biasanya pemedek yang datang ke pura ini membawa sarana persembahyangan berupa pejati dan canang.
Selain itu, dikatakannya pura ini juga tidak memiliki pantangan apa pun, sehingga selain pejati pemedek juga bisa membawa sarana persembahyangan lainnya, seperti sodaan ataupun canang rarapan.
"Di sini tidak ada pantangan apa pun, siapa pun boleh datang kemari untuk bersembahyang, untuk pejabat yang datang cukup banyak, mulai dari tingkat kabupaten sampai pejabat pusat juga pernah datang kemari, bahkan ada yang rutin datang dan menghaturkan Punia," urainya.
Selanjutnya adalah, Pura Pecalang, meski namanya adalah Pura Pecalang, namun pura ini diakui Sarkayasa sering dijadikan sebagai tempat memohon "Taksu Geginan" bagi sekaa pementasan tradisional di Bali, seperti sekaa arja, sekaa drama dan sekaha lainnya.
Dan tentunya nya untuk para pecalang, Pura ini juga sering dijadikan untuk memohon berkat kewibawaan.
"Karena namanya adalah Pura Ratu Pecalang, maka yang sering datang adalah mereka yang ingin memohon berkat kewibawaan. Tidak hanya pecalang, tetapi juga para sekaa drama, sekaa arja dan lain sebagainya, mereka sering memohon Taksu Geginan di pura ini," tambahnya.
Pura ini, pada Hari Kuningan besok (12/8), menyelenggarakan karya Pemlaspasan lan Pecaruan.
"Untuk rangkaian karyanya sudah dilaksanakan sejak seminggu lalu, dan besok (Jumat, 11/8) rangkaian upacaranya dimulai dengan pecaruan dan dilanjutkan dengan upacara Pemlaspasan, mulang pedagingan dan pujawali pada Sabtu (12/8)," tambahnya.
Editor : I Putu Suyatra