BULELENG, BALI EXPRESS- Desa Adat Buleleng, Bali masih melestarikan tradisi yang disebut Nawur Palebuh.
Tradisi Nawur Palebuh di Desa Adat Buleleng ini khusus bagi krama Tri Datu yang telah meninggal dunia. Sarananya daging babi minimal seberat 100 kilogram.
Adapun banten yang digunakan pada pelaksanaan tradisi Nawur Palebuh ini. Seperti banten pejatian, banten tipat gong, banten prayascita, banten durmanggala, banten pesipatan. banten penek, peras tataban.
Seluruh prosesi Nawur Palebuh dilaksanakan di Pura Desa Adat Buleleng. Semua banten maupun sarana yang digunakan pada tradisi ini disiapkan pada jaba tengah pura
Pratisentananya kemudian membawa adegan keluarga yang telah meninggal yang merupakan mantan anggota krama Tridatu untuk dibawa menuju pura dengan masuk melalui pintu utama pura.
Di jaba tengah pura, adegan yang dibawa oleh keluarga tersebut kemudian disambut dengan beberapa ritual.
Bendesa Adat Buleleng Jro Nyoman Sutrisna mengatakan adegan tersebut kapendak di jaba tengah pura.
Ada pula proses penyucian sarana hewan. Sarana beserta adegan tersebut dibawa mengelilingi bale panjang yang ada di Pura Desa.
“Bale panjang yang ada di Pura Desa Adat Buleleng ini merupakan lokasi yang sering digunakan oleh krama Tridatu untuk melaksanakan paruman," ungkap Sutrisna.
"Proses mengelilingi bale panjang ini dilakukan sebanyak tiga kali, setelah itu dilanjutkan dengan ngaturang banten di Palinggih Gunung Agung di jeroan pura,” tambahnya.
Pada prosesi ini juga sekaligus dilaksanakan natab peras ageng dan perwakilan pihak keluarga ikut menjadi saksi dengan ngedengin peras sebagai tanda bahwa tradisi Nawur Palebuh ini telah dilakukan oleh keluarga krama Tridatu tersebut.
Tahap akhir dari proses pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh ini adalah prosesi penyerahan sejumlah hewan berupa babi dan kerbau kepada kelian krama Tridatu yang selanjutnya dibagi-bagi untuk seluruh krama Tridatu yang berjumlah 40 orang.
Babi dan kerbau yang diterima oleh kelian Krama Tridatu sebagai tanda bahwa orang bersangkutan telah melaksanakan tradisi Nawur Palebuh serta sudah dianggap tidak lagi memiliki utang sekala maupun niskala semasa dirinya menjadi krama Tridatu.
Prosesi ini juga sebagai simbol pembebasan roh terhadap ikatan duniawinya, sehingga roh tersebut dapat menuju kedamaian.
“Pembagian daging babi dan kerbau ini pun sudah diatur, sehingga tidak ada rasa kecemburuan sosial karena semua telah mendapatkan hak yang sama sesuai dengan yang telah disepakati,” pungkasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan