Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Bukit Indrakila di Bangli; Pura Kahyangan Jagat Tempat Beryoga Para Raja Era Bali Kuna  

I Putu Mardika • Rabu, 16 Agustus 2023 | 11:00 WIB

 

Areal utama mandala Pura Bukit Indrakila di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani Bangli, Bali.
Areal utama mandala Pura Bukit Indrakila di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani Bangli, Bali.

BALI EXPRESS- Jika epos Mahabarata menceritakan Gunung Indrakila sebagai tempat pertapaan Sang Arjuna saat memuja Siwa untuk mendapatkan Senjata Pasupati, maka di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali juga terdapat Pura Bukit Indrakila.

Pura Bukit Indrakila merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang disungsung oleh umat Hindu di Bali.

Hal itu dibuktikan dari para pamedek yang nangkil ke Pura Bukit Indrakila berasal dari berbagai wilayah di pelosok desa di Bali.

Pura ini berada di areal perbukitan di Desa Dausa, atau sekitar 1300 meter di atas permukaan air laut.  Pura Bukit Indrakila ini berjarak kira-kira 40 km dari Kota Bangli ke arah utara, dan jarak tempuh sekitar 45 menit.

Lokasi pura ini dapat dijangkau dengan beragam kendaraan bermotor. Baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Pangempon Pura Bukit Indrakila adalah oleh dua desa dinas, yakni Desa Dausa dan Desa Satra. Terdapat 9 desa adat di wilayah dua desa dinas ini.

Pujawali di Pura Indrakila dilaksanakan setahun sekali dengan perhitungan sasih tepatnya pada Purnama Sasih Kapat dan nyejer selama 5 hari.

Jro Mangku Gede Darmawan selaku pangempon Pura Bukit Indrakila mengatakan pura ini dianggap sebagai Pura Kuna yang sudah ada sejak era Bali Kuno.

Keberadaan sejarahnya pun diakui oleh sejumlah Raja di Bali, baik pada zaman pemerintahan dinasti Singhamandawa pada abad saka 857, maupun masa pemerintahan Paduka Sri Maharaja Ugrasena.

Pada zaman itu, keberadaan Pura Bukit Indrakila diberikan pengakuan atas para tetua pengempon pura bukit yang sudah menjalankan swadharma secara turun-temurun. Sehingga pura keberadaan pura ini memang sudah diapresiasi oleh para raja.

Ada sejumlah prasasti yang menyinggung keberadaan Pura Bukit Indrakila ini. Prasasti tersebut dikeluarkan pada zaman pemerintahan Raja Jaya Sakti di Bali, dari tahun 1133 hingga 1150 Masehi.

Pada zaman itulah diperkirakan Pura Bukit Indrakila dibangun. Konon, pura ini dibangun atas kehendak raja sebagai tempat bermeditasi dan beryoga karena kedudukan seorang raja amat berat dalam memimpin kerajaan terutama untuk memajukan rakyatnya.

“Pura ini tempat beryoga, memohon penggemblengan secara bathiniah, baik para raja, wiku luwih untuk mendalami proses secara kerohanian, sehingga calon raja pun juga digembleng di Pura Bukit Indrakila. Supaya raja memiliki kekuatan bathin dan mental untuk memimpin wilayah,” paparnya.

Selanjutnya pada era pemerintahan Raja Sri Anak Wungsu, Saka 983 sesuai prasasti yang ada, beliau juga memberikan pengakuan kepada Pura Bukit Indrakila bahwa dalam prasasti tersebut, raja memerintahkan siapapun yang bertahta di kemudian hari dan para punggawanya tidak boleh lupa dengan parahyangan Pura Bukit Indrakila.

Kemudian pada masa pemerintahan Sri Jaya Sakti, menyampaikan pula bahwa Pura Bukit Indrakila diberikan wilayah kekuasannya termasuk menyebutkan pasramannya dan pasarnya.

“Di era masa pemerintahan Raja Sri Aji Jaya Pangus yang bertahta pada tahun 1103 Masehi, disebutkan jika Beliau merupakan raja terakhir yang memberikan pengakuan terhadap keberadaan Pura Bukit Indrakila,” kata Jro Mangku Darmawan.

Pura Bukit Indrakila terbagi menjadi tri mandala. Pada bagian utamaning mandala terdapat beberapa bangunan palinggih yaitu Meru bertumpang tujuh tempat Lingga Yoni dan arca-arca dari Dewata Nawa Sanga, Bale piyasan sebagai tempat menaruh Lingga Lingga yang berukuran lebih kecil yang berjumlah 33.

“Pada mandala ini tidak sembarangan orang boleh masuk, karena hanya orang orang yang sudah melakukan pawintenan saja yang diperbolehkan masuk untuk melakukan persembahyangan atau mau melakukan meditasi,” imbuhnya.

Pada utama mandala atau Penataran Agung Hyang Api, terdapat beberapa bangunan, yaitu Padma Angalayang, Meru bertumpang 5 sebagai tempat disthanakanya Ida Sanghyang Sinuhun Paduka Aji Sri Ugrasena yang merupakan raja Bali kuno, Gedong, tempat disthanakanya Ida Dalem Giri Putri, Ida Dalem Paum Ida Hyang Kuwera, Gedong tempat disthanakanya Ratu Ayu Manik Mas Maketel, Gedong tempat distanakanya Ida Batara Lempuyang Madya.

Bangunan selanjutnya adalah Meru bertumpang tiga sebagai tempat distanakanya Ida Hyang Giri Tohlangkir, Meru palinggih berbentuk gedong yang berornamen Tionghoa yang disebut dengan palinggih Dalem Buddha / Ratu Kang Cing Wie beserta para Abdi setianya.

Meru bertumpang tiga tempat distanakanya Ida Kebon Tubuh, Meru bertumpang tiga sebagai stana dari Ida Wangsa Pasek, Gedong sebagai stana Ida Betara Simpangan, gedong sebagai stana dari Ida Batara Dalem Slonding, di depan palinggih-palinggih ini terdapat sebuah balai panjang sebagai Bale Pengaruhman Ida Batara dari Kahyangan tiga dari masingmasing Desa Pangempon.

Di sebelah kiri terdapat lagi empat jejer palinggih yang masing-masing berbentuk gedong yaitu pelinggih Gedong Dalem Gandamayu (Ida Pande) di sebelahnya lagi terdapat gedong sebagai shtana Ida Betara Wangsa Arya.

Di sebelahnya lagi terdapat gedong sebagai sthana Ida Bhatara Dalem Pulasari di sebelahnya lagi terdapat gedong sebagai stana Ida Bhatara Cadu Sakti Goa Gong di depan keempat palinggih ini terdapat sebuah balai panjang yang juga merupakan pengaruhman dari Ida Bhatara Kahyangan Tiga dari masing masing desa pangempon.

Di antara Bale Pengaruhman yang sebelah kanan dan di sebelah sebelah kiri di tengah-tengahnya terdapat juga balai panjang yang disebut Pengaruman Bale Cemeng yang merupakan tempat Pengaruman dari Ida Bhatara Bukit Indrakila ketika piodalan berlangsung.

Bale Pengaruman ini berfungsi sebagai tempat pemujaan Ida Bhatara oleh para pamangku/pinandita yang bertugas mengantarkan upacara yadnya.

Di depan Bale Cemeng terdapat Bale Penganteb sebagai tempat para pamangku ataupun kubayan ketika melaksanakan pemujaan sehari-hari di sebelah kirinya terdapat Bale Paduluan, yang khusus ditempati oleh kedulun desa, yang menggunakan sistem hulu apad atau kedudukan prajuru desa adat yang telah disucikan.

Di depan Balai Paduluan terdapat sebuah Balai Pawedaan tempat seorang Sulinggih atau Pandita (Pendeta) di dalam memimpin pemujaan.

Pada Madya Mandala terdapat beberapa bangunan yaitu yang petama ada Gelung Kori, apit lawang, Bale gong, Bale Kulkul dan lain lain.

Pada Nista Mandala digunkan sebagai tempat yang berkaitan dengan kegiatan ritual untuk alam bawah, seperti pecaruan, juga terdapat bangunan Bale Kulkul dan wantilan. Bangunan yang terdapat pada mandala ini yaitu Candi Bentar (apit surang). (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pura Bukit Indrakila #bangli #hindu