BALI EXPRESS - Hari raya Galungan dan Kuningan tidak hanya dirayakan dalam bentuk persembahyangan semata. Tetapi juga ada sejumlah tradisi di Bali yang lahir serangkaian perayaan Kemenangan Dharma melawan Adharma tersebut.
Uniknya, tradisi tersebut dilaksanakan sebagai wujud syukur kepada leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tradisi itu diwujudkan dalam bentuk ritual. Beberapa tradisi yang memeriahkan perayaan Galungan dan Kuningan, di antaranya.
- Tradisi Mesuryak di Bongan Tabanan
Tradisi ini dilaksanakan di Desa Adat Bongan, Kecamatan/Kabupaten Tabanan saat Hari Raya Kuningan. Tradisi ini bertujuan untuk mengantarkan para leluhur kembali ke suargaloka (surga).
Puncak acara dalam prosesi Mesuryak ini dimulai sekitar 08.00 pagi sampai dengan pukul 11.00 Wita.
Sebab, dipercayai, lewat dari jam 12 siang para leluhur telah kembali ke surga tujuannya untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Begitu juga para leluhur yang berada sejak hari raya Galungan hingga Kuningan.
Tradisi Mesuryak merupakan tradisi yang memiliki rangkaian upacara yang harus dilaksanakan. Di samping itu, setiap anggota keluarga yang melaksanakan tradisi Mesuryak harus melemparkan uang ke atas kepala. Sehingga setelah uang jatuh ke bawah, akan dierbut oleh warga Desa Bongan yang ikut hadir dan menyaksikannya.
Setiap anggota keluarga memberi bekal kepada leluhurnya sesuai dengan kemampuan, dari uang logam hingga uang kertas (dalam pecahan rupiah). Uang dilempar dan warga saling berebut.
Tradisi Mesuryak memiliki makna kemakmuran. Tak mengherankan jika acapkali tradisi itu disebut sebagai bagi bagi uang.
- Tradisi Mekotek di Munggu, Badung
Tradisi Mekotek yang dilaksanakan Krama Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi Badung Bali juga dilaksanakan serangkaian hari Galungan dan Kuningan. Tradisi yang juga disebut Ngerebeg dilakukan setiap 6 bulan sekali yaitu setiap Saniscara Wuku Kuningan, pada hari Sabtu yang bertepatan dengan hari Raya Kuningan.
Masyarakat setempat meyakini jika Mekotek tak dilaksanakan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan wabah bagi waga Desa Adat Munggu.
Oleh sebab itu tradisi ini dilakukan untuk menghindarkan dari wabah tersebut.
Peserta dalam tradisi ini dilakukan para remaja hingga orang tua. Tradisi mekotek tidak diperkenankan dilakukan oleh mereka yang mengalami cuntaka seperti ada anggota keluarga yang meninggal atau istrinya melahirkan.
Peserta mekotek harus mempersiapkan kayu pulet yang panjangnya kurang lebih 2,5 meter, berisi jejaitan tamiang, dan daun pandan berduri.
Krama yang terlibat mengenakan pakaian adat madya, sedangkan para pengiring menggunakan pakaian adat ke pura dengan membawa benda-benda pusaka suci, seperti tedung, tameng, tombak, dan banten.
Mekotek dilaksanakan mulai dari pukul 14.00-16.00 Wita. Pertama, para peserta dan pengiring menuju ke Pura Puseh dan Pura Dalem untuk melaksanakan persembahyangan.
Setelah selesai di Pura Puseh dan Desa, peserta dan pengiring menuju Pura Dalem Wisesa, dan mengelilingi Desa Adat Munggu. Kemudian berakhir kembali di Pura Puseh dan Desa.
Dalam perjalanan melewati Pura Khayangan Tiga, peserta mekotek selalu diperciki tirta oleh para pemangku di Pura Khayangan Tiga yang bermakna sebagai keselamatan dan ketenteraman.
Masyarakat Desa Adat Munggu beramai-ramai berjalan mengelilingi wilayah Desa Munggu, diiringi gamelan balaganjur dan nyanyian-nyanyian kidung dan diakhiri dengan menabrakan kayu pulet yang dibawa, kemudian disatukan menjadi bentuk gunung.
Kayu yang disatukan tersebut mengeluarkan suara tek..tek..tek.
- Perang Jempana di Klungkung
Tradisi yang diselenggarakan saat Kuningan adalah Perang Jempana atau Dewa Masraman di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung tepatnya di Pura Panti Timbrah.
Berdasarkan catatan sejarah, konon ritual ini dibawa oleh para pendatang dari desa asal mereka yaitu Desa Timbrah Karangasem.
Puncak perayaan Perang Jempana ini dilaksanakan saat terhadinya aksi saling dorong antar krama yang mundut atau membawa jempana sembari diiringi suara tetabuhan Beleganjur.
Uniknya warga yang terlibat dalam kondisi yang tidak sadar. Setelah itu, barulah jro mangku memercikkan tirta kepada warga yang kondisinya sudah tidak sadar.
- Tradisi Ngelawang
Ngelawang menjadi tradisi yang dilaksanakan serangkaian Galungan dan Kuningan. Prosesi ngelawang menggunakan barong dan keliling wilayah desa untuk menetralisir Sang Kala Tiga Galungan agar tidak mengganggu umat manusia.
Ngelawang dilaksanakan dari pintu ke pintu rumah warga.
Umumnya dilakukan oleh anak-anak dan diiringi dengan Tabuh Bebatelan.
Selain itu, tidak jarang warga yang dikunjungi oleh barong tersebut memberikan persembahan.
- Tradisi Memunjung
Tradisi memunjung dilaksanakan saat Galungan maupun Kuningan. Memunjung berasal dari kata punjung yang berarti menghaturkan banten punjung ke kuburan untuk roh sanak keluarga yang belum diaben.
Memunjung hampir merata di seluruh Bali.
Sarana banten punjung sebagai bentuk perayaan Galungan dan Kuningan kepada roh yang telah meninggal.
Tak jarang umat Hindu juga membawa sesajen berupa makanan kesukaan almarhum semasih hidup.
Setelah dipersembahkan, sarana tersebut kemudian dimakan bersama sanak keluarga lainnya di area kuburan.
Umat Hindu percaya, sebelum diaben, roh tersebut konon masih ngayah di bawah kendali Sang Hyang Prajapati sebagai penguasa kuburan.
Editor : Nyoman Suarna