Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penggunaan Gerabah dalam Upacara Umat Hindu di Bali Memiliki Makna dan Simbol yang Jarang Diketahui

Wibi Leksono • Selasa, 22 Agustus 2023 | 19:41 WIB
Gerabah sangat erat kaitannya dengan upacara keagamaan umat Hindu di Bali.
Gerabah sangat erat kaitannya dengan upacara keagamaan umat Hindu di Bali.

BALI EXPRESS - Sejak zaman purbakala, masayarakat Hindu di Bali telah mengenal gerabah dan mempergunakannya sebagai sarana dalam pelbagai upacara.

Bahkan sampai saat ini pun gerabah masih eksis digunakan oleh umat Hindu dalam Bebantenan (sesaji) dalam tiap Gelaran upacara di Bali. 

Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Drs. I Made Mertanadi, dalam penelitiannya yang berjudul 'Makna Simbolis Gerabah Dalam Upacara Yadnya di Bali' tahun 2010 menyebut, dalam upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali, ada beragam bentuk gerabah yang digunakan.

Antara lain coblong, caratan, pasepan, dandang, paso (pane), payuk pere (jun pere), payuk Siwa Budha, puluk-puluk ari-ari, puluk-puluk pedagingan (pendeman), sesenden, gentong, eteh-eteh pedudusan, dan kumbecarat. 

"Fungsi gerabah adalah sebagai wadah air, api, bunga, biji-bijian, buah, dan daun. Makna gerabah terdiri dari  makna relegi dan makna filosofis," ungkapnya

Makna relegi yaitu sebagai simbol kumunikasi religius antara manusia dengan Tuhan, yang pada hakikatnya manusia dalam bertindak melaksanakan yadnya selalu memikirkan Tuhan.

Makna filosofis yaitu bentuk gerabah dalam upacara yadnya bundar adalah simbol bumi (bhuana agung) dan segala bentuk isinya adalah simbol bhuana alit. 

"Makna yang terkandung adalah sebagai simbol penyatuan wadah dengan isinya, yaitu penyatuan antara bhuana agung (alam makrokosmos) dan bhuana alit (alam mikrokosmos)," tambahnya. 

Sampai saat ini dalam pelaksanaan upacara yadnya, gerabah sebagai pelengkap tetandingan banten di Bali memiliki peranan yang sangat penting seperti Jun Pere, sebagai pelengkap dalam banten prayascita.

Coblong, dalam rangkaian upacara papegat sebagai simbol dari sebuah pemutusan atau keputusan dalam kehidupan ini.

Dulang, sebagai simbol yoni.

Pasepan, sebagai tempat harumnya pembakaran wewangian. Sangku, dalam lontar Yama Purwa Tattwa, digunakan sebagai simbol kantung kemih.

Payuk, dalam pagedong-gedongan medaging toya anyar medaging sekar pitung warna. Juga Caratan sebagai simbol saluran air suci.

Sejatinya, gerabah adalah kerajinan dari tanah liat dengan cara dibakar yang telah ada sejak zaman neolittikum sekitar 2500 SM.

Pengrajinnya disebut dengan para kriyawan yang ahli dalam karya seni tembikar dengan ciri khas masing-masing.

Di Bali pada zaman dahulu disebutkan pada awalnya pekerjaan mengerjakan gerabah ini hanya sebagai kegiatan sampingan diluar pekerjaan pokok sebagai petani yang pembuatannya dilakukan saat menunggu masa bercocok tanam. 

Berdasarkan hasil penggalian yang dilakukan oleh para ahli purbakala di beberapa tempat di Bali, membuktikan bahwa masyarakat Bali / manusia purba sudah mengenal pembuatan barang-barang gerabah dari tanah liat. 

Stupa-stupa kecil dan materai-materai dari tanah liat ditemukan di Pejeng (Gianyar). 

Sedangkan periuk-periuk yang ditemukan diyakini berhubungan dengan kepercayaan seperti halnya sebagai tempat untuk makanan dan minuman. 

Pembuatan gerabah di Bali pada awalnya tersebar di beberapa pedesaan, seperti Banjar Basangtamiang (Desa Kapal) dan Banjar Benoh (Desa Ubung) di Kabupaten Badung, Desa Pejaten di Kabupaten Tabanan, Desa Banyuning di Kabupaten Buleleng, Desa Jasi di Kabupaten Karangasem dan di Desa Pering Kabupaten Gianyar. 

Dari beberapa sentra kriya tersebut yang masih menampakkan aktifitasnya sampai sekarang adalah pembuatan gerabah di Banjar Basangtamiang, Binoh, Pejaten dan Banyuning.

Masing-masing sentra kriyawan tersebut memiliki kekhasan yang berbeda-beda sesuai sumber daya dan budaya masing-masing kriyawan. 

Demikian juga hasil yang didapatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari baik untuk kebutuhan rumah tangga dan untuk kepentingan yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #gerabah #hindu