Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Peluang Usaha di Bali, Sarati Banten Tak Tergantikan Orang Luar dan Menjanjikan, Limbahnya Juga Bermanfaat

Dian Suryantini • Jumat, 8 September 2023 | 20:56 WIB
Kegiatan sarati saat membuat banten untuk upacara umat Hindu di Bali.
Kegiatan sarati saat membuat banten untuk upacara umat Hindu di Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kebutuhan upacara di Bali semakin tinggi. Terutama kebutuhan Banten sebagai sarana upacara yang biasanya dibuat oleh Sarati Banten. Saat hari itu tiba umat Hindu di Bali akan sibuk. Tentunya yang paling disibukkan adalah tukang Banten atau istilahnya sarati banten.

Saat ini masyarakat Bali cenderung ingin yang praktis dan cepat, maka solusinya adalah membeli sarana upacara. 

Banyaknya permintaan menjadikan sarati banten ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan di Bali. Bahkan tak tergantikan oleh orang luar.

Terlebih di Bali yang kegiatan upacaranya tidak pernah surut.  Atas hal itu pun sarati banten menjadi salah satu profesi yang sibuk. Tentunya profesi ini dapat menambah pendapatan keluarga. 

Ramainya permintaan sarana upacara itu membuat Desa Adat Buleleng berinisiatif membentuk kelompok sarati banten.

Terlebih saat ini Desa Adat Buleleng telah memiliki petunon sebagai tempat kremasi di setra adat Buleleng. 

Kelompok sarati banten dibentuk dengan berkolaborasi bersama 14 Banjar adat yang ada di wilayah desa adat Buleleng.

Pembentukan kelompok ini diawali dari permintaan masyarakat terhadap sarana upacara saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Angka kematian saat itu tinggi dan permintaan sarana upacara mulai meningkat.

"Waktu itu tidak boleh ada kerumunan. Masyarakat mulai berpikir praktis. Mereka meminta bantuan agar mayat dapat dikremasi dengan sesajen yang ada. Disinilah aktifitas sarati mulai meningkat sehingga perputaran ekonomi mulai tumbuh," terang Jro Mangku I Kadek Bayu Hermawan Suryadiasa. 

Jro Mangku asal Banjar Adat Peguyangan ini menyebut, melemahnya covid-19 dan adanya krematorium tentu berpengaruh dengan pendapatan seorang sarati banten. Krematorium menjadi batu loncatan dalam meningkatkan ekonomi seorang sarati. Bahkan saat pandemi lalu, kesibukan sarati banten seakan tak pernah henti. 

Saat ini pun, paska pandemi, pesanan untuk sarana upacara juga bertambah. Tidak saja untuk kebutuhan Pitra Yadnya, namun juga kebutuhan akan upacara Manusia Yadnya dan Dewa Yadnya.

"Dulu sampai kewalahan. Saat itu kami hanya mendapatkan jeda dua hari, hari ini dapat giliran lagi dua harinya lagi dapat. Namun saat ini kami semakin banyak dapat job, tidak hanya untuk kremasi. Banten seperti tiga bulanan, menikah, maupun syukuran rumah juga ramai,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (8/9) siang.

Kini sedikitnya terbentuk 17 kelompok sarati banten. Berbeda dengan masa lalu, aktivitas sarati dalam melayani umat dan kebutuhan akan sesajen pengabenan belakangan ini menjadi setiap hari.

Guna menghindari adanya kecemburuan, desa adat Buleleng membentuk kelompok pada masing- masing banjar adat. 

“Sarati di Desa adat Buleleng kami atur secara bergantian, sehingga tidak ada yang berebut atau saling mendahului.

Dengan penggunaan dari bahan banten, itu selalu silih berganti karena banten yang digunakan semua baru.

“Nah buah yang dipakai dalam pitra yadnya kami kumpulkan untuk eco enzym. Nah ini perputaran yang baik dari segi ekonomi dan lingkungan yang dijaga,” ujar Bendesa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #sarati banten #hindu