Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Sandar di Desa Adat Kedonganan: Simbol Tradisi Bali dan Benteng Pertahanan Energi Negatif

I Putu Mardika • Sabtu, 9 September 2023 | 21:29 WIB

 

Tari Sandar yang dipentaskan oleh penari di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung  Bali
Tari Sandar yang dipentaskan oleh penari di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung Bali

BALI EXPRESS - Tari Sandar adalah bagian tak terpisahkan dari budaya Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Bali.

Ketika Barong, tarian sakral yang kerap dipentaskan di wilayah ini, tampil di panggung, Tari Sandar selalu hadir sebagai pelengkap yang tak kalah memukau.

Namun, tari ini memiliki makna lebih dalam daripada sekadar hiburan, karena dianggap sebagai benteng perlindungan terhadap energi negatif.

Sejarah Tari Sandar melibatkan akar yang kuat yang dapat ditelusuri hingga ke zaman kerajaan Bali. Pada masa lalu, wilayah Desa Adat Kedonganan adalah bagian dari wilayah Mengwi.

Namun, saat kerajaan Mengwi mengalami kekalahan oleh kerajaan Badung, para ksatria dari Badung dikirim ke berbagai daerah, termasuk Desa Adat Kedonganan, dengan tujuan mempertahankan wilayah mereka.

Para ksatria ini membawa serta petapakan Barong Ket yang ditempatkan di Jroan Desa.

Pada tahun 1960-an, seni Barong berkembang pesat di Desa Adat Kedonganan, didukung oleh gamelan Gong Kebyar yang memukau.

Ini menciptakan solidaritas yang kuat di antara masyarakat setempat. Seiring berjalannya waktu, petapakan Barong ini menunjukkan kekuatan magis yang membuat masyarakat semakin yakin akan keberadaannya.

Namun, setelah beberapa peristiwa penting, petapakan Barong atau yang dikenal sebagai petapakan lingsir Ida Ratu Ayu Sapu Jagat hanya ditempatkan di Gedong Ratu Ayu dan tidak lagi dipentaskan.

Pada saat petapakan Barong lingsir ditempatkan, ini merupakan sebuah prosesi mesimpen yang berarti Ida sesuwunan hanya bersthana di gedong dan tidak lagi ditarikan seperti biasanya.

Ini adalah momen penting dalam sejarah Tari Sandar, karena dari sinilah masyarakat Desa Adat Kedonganan memutuskan untuk membuat kesepakatan untuk menciptakan petapakan Barong yang baru bersama dengan Rangda, dan inilah awal dari berkembangnya Tari Sandar.

Untuk menciptakan petapakan Barong yang baru, mereka mendapatkan bahan kayu dari Pura Tengkulung Desa Adat Tanjung Benoa.

Di lokasi ini, mereka menemukan potongan pohon Taru yang tertimbun tanah, dan setelah meminta ijin kepada sesuwunan yang berada di Pura Tengkulung, mereka mengambilnya. Kayu tersebut kemudian diukir menjadi sebuah Tapel Barong di Gria Taman Desa Sanur.

Dengan demikian, prosesi pasupatian petapakan Barong pun dilaksanakan di Gria Taman, dan petapakan Barong yang ada sekarang adalah perwujudan dari Ida Ratu Ayu Manik Mas Mengetel.

Pementasan Tari Sandar dilakukan di perempatan jalan (Catus Pata) yang terletak di sebelah selatan Pura Puseh Desa Adat Kedonganan.

Tari Sandar selalu menjadi pembuka dalam pementasan Barong Ket, dan hanya dipentaskan selama upacara piodalan di Pura, terutama di Desa Adat Kedonganan. Tari Sandar ini diselenggarakan setiap hari Kajeng Kliwon, Galungan, dan Kuningan.

Sebelum pertunjukan dimulai, masyarakat Desa Adat Kedonganan mempersiapkan seperangkat gamelan Gong Kebyar yang akan mengiringi pementasan Tari Sandar.

Pamangku pura mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan untuk pertunjukan, termasuk perlengkapan Tari Sandar, Barong, dan Rangda. Selain itu, pamangku juga menyiapkan banten dan sesajen untuk dipersembahkan.

Salah satu tahapan penting sebelum pertunjukan adalah ngaturang banten pakeling, yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan dan Banjar Pengampok (banjar yang mendapat tugas khusus).

Banten-banten ini dipersembahkan di area pura sebelum para penari dan penari Sandar, Barong, dan Rangda menuju area Catus Pata.

Setelah semua penari Sandar lengkap dengan busana mereka, pertunjukan dimulai. Pertunjukan ini diawali dengan tari Sandar Cenik, Sandar Cenik, kemudian diikuti oleh Barong dan Rangda.

Setelah pertunjukan berakhir, dilakukan upacara pengelebaran peras dan sadeg (orang yang kerasukan atau penyungsung) diberikan labaan yang berupa tuak, arak, geni atau api, buah-buahan, dupa, bunga dan tirtha.

"Ini bertujuan agar para Bhuta Kala tidak mengganggu ketentraman masyarakat," ungkap I Wayan Mertha, Bendesa Adat Kedonganan.

Tujuan pementasan Tari Sandar di Desa Adat Kedonganan pada setiap hari Kajeng Kliwon, Galungan, dan Kuningan adalah untuk mengiringi turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Dewa-Dewi dengan fungsi Brahma, Wisnu, dan Ista Dewata.

Tari Sandar dipercayai memiliki kekuatan untuk melindungi masyarakat dan komunitas Desa Adat Kedonganan dari bahaya serta pengaruh negatif. Bagi mereka, sebuah prosesi upacara tanpa Tari Sandar akan terasa tidak lengkap. Ia dianggap sebagai media untuk mempertahankan adat dan melindungi ketentraman serta kesejahteraan masyarakat, serta sebagai benteng pertahanan dari bencana dan penyakit.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #sandar #tradisi #tari