BALI EXPRESS - Tari Sandar adalah sebuah seni tari tradisional Bali yang memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya dan menjalin solidaritas di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta. Ditarikan oleh generasi muda yang dipilih berdasarkan garis keturunan ksatria atau keturunan dari puri, tarian ini dipandang sebagai benteng perlindungan terhadap energi negatif.
Menurut Wayan Mertha, seorang tokoh masyarakat di Desa Adat Kedonganan, Tari Sandar tetap hidup hingga saat ini untuk mempertahankan tradisi dan warisan nenek moyang. Salah satu aspek kunci dari tarian ini adalah busana yang dikenakan oleh para penari, yang disebut Gelungan. Busana ini diawali dengan upacara penyucian menggunakan tirtha panglukatan, dilanjutkan dengan penghaturan pejati/daksina untuk Barong, Rangda, dan Sandar agar pementasan berjalan lancar.
Gelungan Tari Sandar memiliki cecandian berbentuk kulit yang diukir dan dicat dengan warna emas atau prada. Gelungan juga menghias oncer dari bulu merak dan menggunakan benang tebus berwarna putih dan tebal agar tidak jatuh. Telinga penari dihiasi dengan sumpang bunga merak yang diberi daun gegirang.
Tapel Tari Sandar Gede, penari utama dalam pertunjukan ini, mengenakan tapel berwarna merah padam yang mencerminkan sifat keras, garang, bengis, dan berkuku panjang.
Tari Sandar tak terlepas dari pementasan Barong dan prosesi Mepajar di Desa Adat Kedonganan. Berawal dari zaman kerajaan Bali, tarian ini menjadi simbol kekuatan dan kesolidaritasan antar-masyarakat. Meski pernah mengalami peristiwa penting, seperti pemberhentian pementasan, tarian ini kembali hidup dengan pembuatan petapakan Barong yang baru dan Rangda, yang pada akhirnya mengembangkan Tari Sandar.
Bahan kayu untuk petapakan Barong baru diambil dari Pura Tengkulung Desa Adat Tanjung Benoa, yang kemudian diukir menjadi Tapel Barong di Gria Taman Desa Sanur. Petapakan Barong saat ini adalah perwujudan dari Ida Ratu Ayu Manik Mas Mengetel.
Pementasan Tari Sandar berlangsung di perempatan jalan (Catus Pata) sebelah selatan Pura Puseh Desa. Tarian ini menjadi pembuka dalam pementasan Barong Ket dan hanya dipentaskan saat upacara piodalan di Pura, khususnya di Desa Adat Kedonganan. Tari Sandar ini dapat disaksikan setiap hari Kajeng Kliwon, Galungan, dan Kuningan.
Sebelum pertunjukan dimulai, masyarakat Desa Adat Kedonganan mempersiapkan seperangkat gamelan Gong Kebyar untuk mengiringi Tari Sandar. Pamangku pura juga menyiapkan perlengkapan tari, Barong, dan Rangda, serta banten/sesajen sebagai persembahan.
Ngaturang banten pakeling, sebuah upacara penting sebelum pertunjukan, dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan dan Banjar Pengampok (banjar yang mendapat tugas khusus). Banten-banten tersebut dipersembahkan di area pura sebelum para penari dan penari Sandar, Barong, dan Rangda menuju area Catus Pata.
Setelah penari Sandar lengkap dengan busana mereka, pertunjukan dimulai dengan tari Sandar Cenik, Sandar Cenik, Barong, dan Rangda. Setelah pertunjukan selesai, dilakukan upacara pengelebaran peras dan sadeg, yang diberikan labaan berupa tuak, arak, geni atau api, buah-buahan, dupa, bunga, dan tirtha. Upacara ini bertujuan untuk menjaga ketentraman masyarakat dari gangguan para Bhuta Kala.
Pementasan Tari Sandar di Desa Adat Kedonganan pada hari Kajeng Kliwon, Galungan, dan Kuningan memiliki tujuan mengiringi turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Dewa-Dewi dengan fungsi Brahma, Wisnu, dan Ista Dewata. Dipersonifikasikan oleh masyarakat penyusungnya, Tari Sandar dianggap sebagai media perlindungan adat. Ketika tarian ini tidak dipentaskan, masyarakat merasa khawatir akan ketentraman dan kesejahteraan mereka serta Desa Adat yang bisa terancam. Tarian ini dipercaya dapat mencegah penyakit dan pengaruh-pengaruh negatif.
Tari Sandar, dengan segala maknanya, tetap menjadi bagian penting dari tradisi dan warisan budaya yang hidup di Desa Adat Kedonganan, Bali, dan terus diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Editor : I Putu Suyatra