Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

5 Pura Hindu Bali Paling Unik dan Tak Ada Duanya di Dunia, Kisahnya Bikin Percaya Tak Percaya

I Putu Mardika • Senin, 11 September 2023 | 17:48 WIB
UNIK: Palinggih truk tentara di Pura Puseh, Desa Sangket, Buleleng, Bali
UNIK: Palinggih truk tentara di Pura Puseh, Desa Sangket, Buleleng, Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS - Bali, pulau surga Indonesia, dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau dan juga sebagai rumah bagi ribuan pura Hindu yang mempesona.

Namun, di antara berbagai pura yang tersebar di seluruh pulau, ada lima pura Hindu yang secara unik mencerminkan warisan budaya, sejarah, dan kepercayaan mistis Bali.

Dengan arsitektur yang menakjubkan dan cerita-cerita yang mendalam, mari kita menjelajahi lima pura Hindu ini yang tidak hanya unik di Bali, tetapi juga tak ada duanya di seluruh dunia.

1.  Ritual Kuno untuk Kesejahteraan: Dewa Gede Celak Kontong di Bali

PALINGGIH: Jero Mangku Made Mesin saat menunjukkan Palinggih Dewa Gede Celak Kontong berbentuk kelamin sebagai simbol lingga yoni.
PALINGGIH: Jero Mangku Made Mesin saat menunjukkan Palinggih Dewa Gede Celak Kontong berbentuk kelamin sebagai simbol lingga yoni.

Jelajahi Pura Desa Kayuputih, Buleleng, di Bali, tempat terdapat Palinggih Dewa Gede Celak Kontong yang unik, menjadi simbol kesuburan dengan ritual mistis berbasis mitos penyelamatan desa. Phallus dan yoni berukuran 25 cm yang dikeramatkan oleh masyarakat Bali ini mengandung sejarah panjang dan makna yang dalam

Pura Desa Kayuputih di Desa Kayuputih, Buleleng, memiliki Palinggih Dewa Gede Celak Kontong, yang merupakan simbol kesuburan dengan bentuk phallus dan yoni.

Phallus berukuran 25 cm, hitam, dan menyerupai alat kelamin laki-laki. Ritual dan keyakinan ini berasal dari mitos penyelamatan desa dari kekeringan dan penyakit oleh Dewa Gede Celak Kontong.

Ketika kemaluan Ki Kubayan terpotong dalam ritual, potongannya dipuja, dan hujan turun serta penyakit mereda.

Pemujaan terhadap Dewa Gede Celak Kontong telah ada sejak zaman batu, bersama dengan temuan peninggalan kuno seperti kapak batu dan sarkofagus di Desa Kayuputih.

Ritual pemujaan Dewa Gede Celak Kontong sangat penting dalam pertanian warga Desa Kayuputih, dimulai dengan Purnama Kaenem.

Proses pemujaan melibatkan beberapa pura, termasuk Pura Bale Agung. Hasil pemujaan menghasilkan Tirtha Bebaret, yang diyakini melindungi tanaman dari hama dan meningkatkan pertumbuhan subur.

 2.  Pura Batur Gangsia: Tempat Suci dengan Batu-Batu Ajaib di Bali

DIYAKINI MILIKI KEKUATAN GAIB: Pura Batur Gangsia yang terletak di Banjar Kapas Jawa, Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Bali.
DIYAKINI MILIKI KEKUATAN GAIB: Pura Batur Gangsia yang terletak di Banjar Kapas Jawa, Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Bali.

Terletak di Desa Tinggarsari, Buleleng, Bali, Pura Batur Gangsia memukau dengan ribuan batu segi lima dan segi enam yang menjadikannya tempat suci bersejarah. Mitos tentang 9 ekor kera yang membawa batu-batu ini dan kekuatan gaib yang ditemukan di dalam pura ini menjadikannya unik di mata masyarakat Bali.

Pura Batur Gangsia di Desa Tinggarsari, Kecamatan Busung Biu, Buleleng, Bali, adalah sebuah tempat suci yang terdiri dari batu-batu segi lima dan segi enam yang sudah ada sejak zaman megalitikum.

Pura ini memiliki ribuan batu yang tersusun kuat tanpa perekat, dengan panjang sekitar 2 meter dan diameter 0,5 meter.

Ada mitos lokal yang mengatakan bahwa batu-batu ini dibawa oleh 9 ekor kera, menjadikan pura ini dikeramatkan oleh masyarakat Bali.

Bangunan pura mengikuti konsep Tri Mandala dengan beberapa pelinggih, dan pemedek harus bersembahyang di Pelinggih Jro Patih Sakti Nyoman Pegadangan sebelum melakukan persembahyangan.

Meskipun tidak ada catatan sejarah atau prasasti, batu-batu ini diyakini ada sejak zaman Megalitikum dan digunakan untuk membangun candi.

Pura Pengayatan dibangun di atas tebing untuk memudahkan proses pemujaan.

Palinggih bebaturan di Pura Batur Gangsia, Bali, diyakini memiliki kekuatan gaib oleh krama setempat, menghasilkan berbagai kejadian aneh, termasuk mendapatkan batu mulia dari Ida Bhatara.

Pura ini dianggap sebagai tempat suci kesuburan bagi lahan pertanian, dan piodalan tahunan dilakukan pada Purnama ning Kasa.

Prosesi Mendak Ida Batara dan pemujaan tirta di akhir upacara dilakukan untuk keberhasilan pertanian, terutama cengkih dan kopi.

 

3.  Fenomena Gaib di Pura Sangket: Asal-usul Pelinggih Mobil yang Mistis

UNIK: Pelinggih mibil pickup patrol di Pura Dalem Sangket.
UNIK: Pelinggih mibil pickup patrol di Pura Dalem Sangket.

Eksplorasi misteri Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Sangket, Bali, tempat pelinggih berbentuk mobil yang menghadirkan perpaduan historis dan mistis. Di sini, sejarah perjuangan kemerdekaan bertemu dengan ritual pemujaan unik, menciptakan suasana sakral yang tak terlupakan.

Di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, terdapat pelinggih berbentuk mobil, termasuk sedan, kijang pickup, dan truk tentara, dengan detail asesoris seperti ban, lampu, spion, dan nomor polisi.

Mereka dipercayai memiliki makna historis dan mistis.

Historisnya, Desa Sangket adalah markas pejuang saat merebut kemerdekaan tahun 1945. Pelinggih mobil ini dibangun sekitar 7 tahun yang lalu setelah permintaan dari orang yang kerauhan saat pujawali di Pura Desa. Keberadaannya menciptakan kesan sakral di dalam pura.

Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Sangket di Bali memiliki pelinggih unik berbentuk mobil, yang muncul setelah beberapa warga mendengar fenomena gaib seperti suara truk tentara dan pasukan berbaris di malam hari.

Pembangunan pelinggih mobil dilakukan secara swadaya dengan makna filosofis yang berkaitan dengan konsep utpatti (lahir), stiti (hidup), dan pralina (mati).

Selama pujawali, para sutri yang kerauhan sering berdandan ala pasukan TNI. Keberadaan pelinggih ini menambah keunikan pura Kahyangan Tiga.

Tidak ada persembahan khusus untuk pelinggih mobil selama pujawali; sesajen mengikuti pujawali di tiap pura.

4.  Pura Goa Giri Putri: Keajaiban Mistis di Goa Besar Nusa Penida

PURA GOA GIRI PUTRI: Pura Goa Giri Putri di Desa Adat Karangasari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali menjadi salah satu Pura favorit umat Hindu di Bali.
PURA GOA GIRI PUTRI: Pura Goa Giri Putri di Desa Adat Karangasari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali menjadi salah satu Pura favorit umat Hindu di Bali.

Sambangi Pura Goa Giri Putri di Nusa Penida, Bali, yang tersembunyi dalam goa raksasa. Terinspirasi oleh mitologi Hindu, pura ini menawarkan pengalaman sakral dengan enam mandala yang unik dan pemujaan multikultural. Temukan sejarah dan makna mendalam di balik keajaiban pura ini

Pura Goa Giri Putri di Desa Adat Karangasari, Nusa Penida, Bali, adalah tempat pemujaan yang unik dan memiliki sejarah panjang.

Pura ini terletak dalam sebuah goa dan memiliki pintu masuk kecil yang mengarah ke dalam ruangan yang sangat besar, mampu menampung ribuan pemuja. Suasana di dalam goa sangat hening dan sakral, dengan alunan genta dan asap dupa yang menambah kesakralan.

Sejarah pura ini berasal dari mitologi Hindu, dengan nama "Goa Giri Putri" memiliki makna yang mendalam. Menurut Babad Nusa Penida, goa ini terkait dengan Dewa Siwa dan Dewi Parwati yang menjelma menjadi manusia di gunung Puncak Mundhi.

Selain itu, Dewi Kwam In juga turun ke bumi dan bergelar Ratu Syahbandar.

Pura Goa Giri Putri memiliki enam mandala atau area dengan berbagai pelinggih, masing-masing memiliki fungsi dan tujuan persembahyangan yang berbeda.

Pemujaan dilakukan dengan keyakinan akan mendapatkan berbagai berkah dan perlindungan dari dewa-dewa yang dipuja di sana, termasuk Dewi Kwam In yang merupakan perwujudan dewi dalam kepercayaan lain di luar Hindu.

Pura ini juga mencerminkan konsep multikultural, di mana berbagai keyakinan dan kebudayaan seperti Budha dan kebudayaan Cina dihormati dan dipuja di sini.

Pura Goa Giri Putri menjadi simbol multikultur yang dijalankan oleh umat Hindu di Desa Adat Karangasari.

Pura ini memiliki peran penting dalam masyarakat, terutama bagi para petani rumput laut dan nelayan, yang memohon cuaca baik untuk pekerjaan mereka.

Selain itu, pengunjung juga datang untuk memohon perlimpahan rejeki dan perlindungan.

5.  Pura Sabang Daat: Keunikan Pura Hindu di Bali Tanpa Palinggih

Pura Sabang Daat, Pura Unik di Tengah Hutan Tanpa Palinggih
Pura Sabang Daat, Pura Unik di Tengah Hutan Tanpa Palinggih

Telusuri Pura Sabang Daat, pura Hindu tak seperti yang lain di Bali. Terletak di tengah hutan, pura ini mempertahankan tradisi kuno tanpa bangunan palinggih khas. Temukan makna sakral, upacara berkah, dan kekuatan spiritual di dalamnya.

Pura Sabang Daat adalah sebuah pura Hindu yang sangat unik karena terletak di tengah hutan dan tidak memiliki bangunan palinggih khas seperti pura Hindu lainnya. Pura ini terletak di perbatasan Kabupaten Gianyar dan Bangli, Bali, di Desa Pakraman Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar.

Nama "Sabang Daat" mengandung makna khusus. "Sabang" berarti pertemuan orang penting, sementara "Daat" merujuk pada tempat sakral atau pingit. Artinya, pura ini digunakan untuk pertemuan yang bersifat sakral.

Pura Sabang Daat tetap mempertahankan tradisinya sejak didirikan sekitar tahun 2000 SM, dan meskipun tidak memiliki palinggih yang mencolok, konon ada bangunan Padmasana yang megah dengan ornamen emas yang mengesankan.

Meskipun sulit dilihat secara sekala, para pendeta atau sulinggih yang datang ke sini menggambarkan bangunan ini sebagai sangat megah dan besar.

Pura ini memiliki jeroan dan jaba sisi, dengan lingga yoni di jeroannya. Hal yang menarik adalah ketinggian jeroan ini lebih rendah daripada pinggirnya, meskipun aliran air seharusnya membawa tanah ke jeroan.

Pura Sabang Daat dikelola oleh 35 desa pakraman, termasuk dari wilayah Ubud dan Kintamani. Sasuhunan dari 35 desa berkumpul di sini untuk matur piuning sebelum melanjutkan upacara di desa masing-masing.

Tempat ini sangat sakral, dan melanggar pantangan dapat membawa dampak buruk seperti hujan saat upacara.

Selama ini, tidak ada yang berani melanggar pantangan tersebut. Upacara di pura ini dipimpin oleh pemangku setempat, dan penggunaan gambelan, genta, atau sulinggih yang memimpin upacara tidak diizinkan.

Pura Sabang Daat dianggap sebagai tempat untuk memohon berkah, penyembuhan, dan bahkan keturunan bagi pasangan yang belum memiliki anak.

Warga setempat meyakini bahwa pura ini memiliki kekuatan spiritual, dan banyak yang mengaku sembuh setelah melakukan ritual tirta di sini.

Menurut mereka, nunas tirta dan memohon keturunan biasanya didasari oleh firasat dan petunjuk yang diterima secara niskala.

Pura Sabang Daat adalah contoh unik dari keberagaman budaya Hindu di Bali yang tetap mempertahankan tradisi kuno tanpa harus memiliki bangunan suci yang klasik.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #hindu #pura #sejarah