Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali Peninggalan Rsi Markandeya di Taro: Setiap Watugunung Dilarang Masuk Pura dan Merajan

I Putu Mardika • Sabtu, 16 September 2023 | 15:18 WIB

 

Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya

GIANYAR, BALI EXPRESS - Keberadaan Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, tidak bisa dilepaskan dari kaitan sejarah perjalanan suci sang Maha Yogi Ida Maha Rsi Markandeya.

Setelah merabas hutan, beliau disebutkan membangun parahyangan untuk memberikan wejangan-wejangan mengenai ajaran Dharma untuk menuntun peri kehidupan masyarakat agar hidup rukun.

Dikatakan Perbekel Desa Taro, Wayan Warka, Beliau juga mengajarkan tata cara bercocok tanam dan berbagai ritual-ritual penting dalam kehidupan beragama Hindu yang masih dilestarikan sampai saat ini.

Sistem pertanian Subak yang sangat tersohor ini diyakini pertama kali diajarkan di salah satu dusun yang ada di Desa Taro yaitu Dusun Puakan.

Adapun ritual-ritual keagamaan yang masih tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat dipercayai telah ada semenjak abad ke-7 atau saat kedatangan beliau ke tanah Bali.

Ritual-ritual unik itu misalnya tegen-tegenan, negtegin, nyaciin, mebegal-begalan dan banyak lagi tradisi unik yang sangat kental dengan simbolisasi religius.

Legenda yang masih kerap dipercayai oleh masyarakat Desa Taro sampai saat ini terkait dengan Wuku Watugunung. Hal ini masih menjadi keramat, khususnya di Desa Adat Taro Kaja itu masih diyakini.

“Jadi setiap Wuku Watugunung, masyarakat ataupun tamu tidak diperbolehkan masuk ke tempat persembahyangan baik ke Pura maupun Merajan,” jelasnya.

Masyarakat hanya diperbolehkan sembahyang dari luar, bisa disebut dengan cuntaka.

Hal ini masih sangat dipercayai dan dilakukan sampai saat ini.

“Karena pada zaman dulu terdapat sebuah musibah yang menimpa beberapa banjar di desa tersebut diantaranya banjar Puakna, Taro Kaja, Taro Kelod, Pakuseba dan Patas. Desa Taro ini memiliki 14 banjar, namun dari 14 banjar ini penerapan hal ini tidak sama,” paparnya.

Maha Rsi Markandeya adalah seorang tokoh suci yang perjalanan spiritualnya telah tercatat di Desa Taro, Gianyar, Bali.

Nama "Taro" berasal dari kata "taru," yang berarti pohon, dan merupakan tempat di mana Ida Rsi Markandeya melanjutkan perjalanan rohaninya.

Markandeya lahir di India pada abad ke-4, dan dengan restu Siwa, ia melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, Kalimantan Timur, hingga mencapai Pulau Jawa dan akhirnya Bali.

Selama perjalanan ini, ia diberi gelar "Maha Yogi Markandeya," yang menggambarkan kekuatannya sebagai pertapa yang tidak tergoyahkan.

Setelah berada di Indonesia, ia menghadapi berbagai cobaan dan mengalahkan kejahatan di beberapa tempat, termasuk Gunung Damalung, Gunung Dieng, dan Gunung Raung. Markandeya melihat sinar yang mengarah ke Gunung Agung dan kemudian mengumpulkan pengikutnya untuk mencari sinar tersebut.

Dengan restu Dewa Siwa, ia mendapatkan kekuatan untuk mengenali Gunung Agung sebagai puncak Himalaya di India.

Selama perjalanan, ia membantu penduduk setempat dan membagi-bagikan tanah untuk perkebunan subak. Tempat ini sekarang dikenal sebagai Desa Puakan.

Peninggalan Markandeya, termasuk batu, emas, lingga yoni, dan arca kayu, dijaga dengan suci di Pura Gunung Raung di Desa Taro.

Salah satu peninggalannya yang disakralkan adalah tombak yang disebut "Ratu Madeg," yang diyakini akan menyebabkan kebakaran hutan jika miring ke salah satu arah mata angin.

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #Rsi Markandeya #hindu #sejarah #tradisi #desa taro