BALI EXPRESS - Air memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan memegang makna mendalam bagi masyarakat Hindu di Bali.
Dalam pandangan agama Hindu, air tidak hanya sebagai sumber kehidupan fisik, tetapi juga memiliki fungsi sakral dalam berbagai upacara keagamaan yang dikenal sebagai tirta atau air suci.
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Luh Sonia Candra Juwita, menjelaskan konsep ini lebih lanjut.
Menurut Sonia, dalam kitab suci Bhagavad Gita, air suci ini disebut dengan istilah Toyam atau Toya, dan memiliki kekuatan magis serta kekuatan religius yang berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
"Tirta atau Toya adalah air suci yang digunakan khusus dalam upacara keagamaan," jelasnya pada Sabtu (16/9).
Sonia juga menyoroti pentingnya air dalam upacara yadnya (persembahan kepada Tuhan). Dalam Bhagavad Gita III.14, dinyatakan bahwa makhluk hidup ada karena makanan, makanan ada karena hujan, hujan ada karena yajna, dan yadnya ada karena karma.
Hal ini menunjukkan bahwa air adalah sarana yang sangat penting dalam yadnya, di mana manusia memohon anugrah berupa air hujan untuk kesehatan dan keselamatan mereka.
Makna tirta juga berkaitan erat dengan persembahyangan. Setelah menghaturkan sembah, umat Hindu melanjutkan dengan memohon tirta.
Proses ini mencakup penyiraman tirta sebanyak tiga kali, mengonsumsi tirta sebanyak tiga kali, dan mencelupkan tangan ke dalam tirta sebanyak tiga kali. Tiga kali ini melambangkan penyucian Sabda, bayu, dan idep.
Pemercikan tirta pada tubuh manusia memiliki makna penyucian badan atau sthula sarira dengan tirta kundalini.
Meminum tirta melambangkan penyucian dari kotoran dan perkataan, yang dikenal sebagai suksma sarira (Tirta Kamandalu). Sedangkan, mencelupkan tangan ke dalam tirta saat diraup melambangkan kesucian dalam kekuatan hidup (Tirta Pawitra Jati). Ketiga tahap pemercikan tirta ini bertujuan memberikan kesucian pada diri manusia.
Tirta juga memiliki peran sebagai lambang penyucian atau pembersihan. Dalam upacara yajna, semua persembahan harus disucikan terlebih dahulu agar diterima dengan kesucian.
Air suci atau tirta biasanya digunakan sebagai sarana untuk melakukan penyucian ini.
Selain itu, tirta dianggap sebagai pengurip alam karena memercikkannya pada sebuah yadnya menjadikan persembahan itu memiliki nilai spiritual dan menjadi suci.
Tirta juga dianggap mampu memberikan kehidupan pada yadnya yang dipersembahkan serta memiliki elemen magis.
Selanjutnya, tirta berperan sebagai pemelihara. Dalam pandangan Tri Murti, Dewa Wisnu sebagai penguasa air bertugas memelihara (stithi) semua ciptaan Tuhan, sementara Dewa Indra sebagai penguasa hujan memberikan air kehidupan dan kesuburan pada semua makhluk hidup.
Pemeliharaan ini juga menjadi bagian penting dari makna tirta dalam kepercayaan Hindu di Bali.
Editor : I Putu Suyatra