BADUNG, BALI EXPRESS - Pura Petitenget, di Jalan Raya Petitenget, Desa Kerobokan, Badung, Bali, adalah tempat suci Hindu yang memiliki akar sejarah perjalanan Dang Hyang Dwijendra.
Dang Hyang Dwijendra adalah tokoh suci umat Hindu asal India yang namanya sangat terkenal di Bali.
Banyak Pura atau tempat suci Hindu di Bali dalam sejarahnya mencantumkan nama Dang Hyang Dwijendra.
Nama "Petitenget" sendiri tampaknya merujuk pada aspek sakral dan misterius.
Menurut Jro Mangku Gede I Made Widrameng, pemangku Pura Petitenget saat diwawancari Bali Expres (Jawa Pos Group) pada tahun 2017, nama "Peti Tenget" berasal dari kata "Peti," yang berarti sakral atau angker.
Peti ini memiliki kaitan kuat dengan Dang Hyang Dwijendra.
Cerita dimulai ketika Dang Hyang Dwijendra melakukan perjalanan bersama Bhatara Pura Masceti menuju barat.
Di tengah perjalanan, ia singgah sejenak di Pura Sakenan, Desa Serangan, Denpasar, dan memberikan amanat kepada warga setempat untuk merawat pura tersebut.
Kemudian, Dang Hyang Dwijendra melanjutkan perjalanannya ke arah barat hingga mencapai hutan di ujung barat Desa Kerobokan.
Di sana, ia berencana untuk beristirahat, tetapi tiba-tiba muncul seorang raksasa besar yang dikenal sebagai Ki Buto Ijo, yang menguasai seluruh hutan di Desa Kerobokan.
Terjadi komunikasi antara Dang Hyang Dwijendra dan Ki Buto Ijo, di mana Dang Hyang Dwijendra menyatakan niatnya untuk moksa di hutan yang dikuasai oleh Ki Buto Ijo.
Maka, Dang Hyang Dwijendra menyerahkan semua perlengkapannya, termasuk sebuah pecanangan berbentuk peti, kepada Ki Buto Ijo.
Ki Buto Ijo kemudian mengamati dan menghormati peti tersebut.
Namun, rencana ini tidak direstui oleh Bhatara Masceti.
Oleh karena itu, Dang Hyang Dwijendra disarankan untuk mencari bukit yang menjorok ke laut yang bentuknya menyerupai perahu yang hendak berlayar ke laut lepas.
Bukit tersebut kini menjadi lokasi Pura Uluwatu, salah satu pura penting bagi Umat Hindu di Bali.
Setelah meninggalkan hutan dan menuju ke Pura Uluwatu untuk melaksanakan moksa, terjadi kejadian aneh di hutan yang dikuasai oleh Ki Buto Ijo.
Seorang yang sedang mencari kayu bakar tanpa sengaja membabat hutan tersebut, dan akibatnya, ia dan warga lainnya jatuh sakit.
Sakit ini menyebar dan menyebabkan penyakit menyebar di masyarakat, menciptakan situasi darurat.
Mendengar tentang kejadian ini, panglingsir Desa Kerobokan datang ke Pura Uluwatu untuk memohon petunjuk kepada Dang Hyang Dwijendra.
Setelah menceritakan tentang wabah di Desa Kerobokan, Dang Hyang Dwijendra menyimpulkan bahwa penyebab wabah tersebut adalah Ki Buto Ijo sendiri.
Dang Hyang Dwijendra meminta agar dibangun tempat pemujaan untuk Ki Buto Ijo sebagai bentuk penghormatan.
Ki Buto Ijo adalah raksasa yang diberikan kekuatan untuk menjaga barang-barang titipan, salah satunya adalah pecanangan berbentuk peti.
Maka, didirikanlah Pura Petitenget di sekitar hutan tersebut.
Hingga hari ini, Pura Petitenget memiliki tiga bagian utama: Pura Masceti, yang didedikasikan untuk Ida Bhatara Masceti, Palinggih Ki Buto Ijo, dan Palinggih Dang Hyang Dwijendra yang terletak di dalam pura.
Piodalan (upacara keagamaan) di pura ini diadakan setiap enam bulan sekali sesuai dengan kalender Bali, tepatnya pada Rabu Wage Wuku Merakih.
Pura Petitenget diyakini memiliki hubungan yang erat dengan Pura Masceti, dengan beberapa menganggap Pura Masceti sebagai pradana (asal) dan Pura Petitenget sebagai purusa (tindak lanjut).
Pura Petitenget tetap menjadi tempat sakral yang penting di Bali, dengan cerita dan tradisi yang mendalam, mengingatkan kita akan akar spiritual dan budaya pulau ini.
Editor : I Putu Suyatra