Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gebog Domas di Pura Penulisan: Tradisi Turun-temurun yang masih Dilestarikan di Bali

I Putu Mardika • Jumat, 22 September 2023 | 05:00 WIB
GEBOG DOMAS: Menurut Kelian Gebog Domas Penulisan, I Wayan Jasa,  pembagian sarana upacara ini didasarkan pada tradisi turun-temurun dari masing-masing daerah gebog.
GEBOG DOMAS: Menurut Kelian Gebog Domas Penulisan, I Wayan Jasa, pembagian sarana upacara ini didasarkan pada tradisi turun-temurun dari masing-masing daerah gebog.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Gebog Domas Penulisan adalah sebuah entitas yang memiliki hubungan erat dengan berbagai desa adat lain di sekitarnya.

Nama Gebog Domas merujuk pada kelompok anggota atau krama yang berasal dari berbagai desa adat dan berjumlah sekitar delapan ratus orang.

Namun jumlah delapan ratus ("domas") ini tidak harus persis tepat delapan ratus, tetapi mencakup angka dari delapan ratus hingga delapan ratus sembilan puluh sembilan ("domas kantos domas sia dasa sia").

Selain anggota krama, istilah "gebog" juga merujuk pada kumpulan alat upacara dan sarana upacara yang digunakan dalam ritual di Pura Pucak Penulisan.

Sarana upacara ini termasuk bambu, busung, pucuk (ental), kelapa, beras, ketan, injin, kacang komak, garam, ayam, itik, telur ayam, dan telur itik, serta berbagai perlengkapan lainnya.

Pembagian sarana upacara ini merupakan kewajiban anggota Gebog Domas untuk memenuhinya.

I Wayan Jasa, ketua Pengurus Pura Puncak Penulisan dan juga Bandesa Adat Sukawana, menjelaskan bahwa pembagian sarana upacara ini didasarkan pada tradisi turun-temurun dari masing-masing daerah gebog.

Sebagai contoh, daerah Desa Adat Geretek di Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng bertanggung jawab atas pucuk (ental), sementara Desa Adat Sambirenteng di Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng bertanggung jawab atas garam.

Selain itu, Desa Adat Les Penuktukan, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, menghaturkan kacang dan busung/daun kelapa muda.

Sementara itu, Desa Adat Selulung memberikan haturan berupa ayam dan telur ayam, dan Desa Adat Kintamani menghaturkan ayam dan itik.

Demikian pula Desa Adat Bantang, menghaturkan beras, sementara Desa Adat Sukawana memberikan haturan berupa beras, ketan, injin, dan kekurangan lainnya, karena mereka adalah pengemong utama Pura Pucak Penulisan.

Baca Juga: Liga 1 Indonesia: RANS Nusantara Incar Hattrick Victory Lawan Persis Solo

Di Pura Puncak Penulisan, atau Puncak Tegeh Koripan, setiap tahunnya dilakukan upacara dengan pengorbanan seekor kerbau cemeng yang dikenal sebagai "Kebo Cemeng," dengan prosesi bangun urip.

Disebut Pucak Tegeh Koripan karena di pura tersebut masyarakat memohon kehidupan yang lebih baik, dengan mengorbankan kerbau demi kesejahteraan dan kemakmuran.

Meskipun wilayah Les Penuktukan, Geretek, dan Sambirenteng tidak lagi menjadi bagian dari Gebog Domas Penulisan, tradisi menghaturkan sarana upacara di Pura Pucak Penulisan tetap dijunjung tinggi dan dilestarikan secara turun-temurun.

Pembagian sarana upacara ini merupakan kewajiban yang dipegang teguh oleh masing-masing daerah pada setiap pelaksanaan upacara di Pura Pucak Penulisan.

Photo
Photo
Editor : Nyoman Suarna
#bali #turun-temurun #upacara #pura pucak penulisan #tradisi #gebog domas