BALI EXPRESS - Upacara Manusa Yadnya memiliki tujuan yang mendalam dalam memelihara dan membersihkan hidup serta batin manusia dari masa prakelahiran hingga akhir hayat.
Bentuk pelaksanaan upacara Manusa Yadnya bervariasi sesuai desa kala patra di masing-masing daerah, namun makna tetap sama.
Salah satu aspek penting dalam upacara Manusa Yadnya adalah mebayuh oton.
Mebayuh oton merupakan bagian dari upacara manusa yadnya yang berasal dari kata "bayuh," yang mencerminkan keseimbangan dan kenyamanan.
Ida Bagus Putu Widnyana Manuaba, penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, menjelaskan, keseimbangan yang dimaksud adalah harmoni antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
"Menurut Lontar Tenung Rare dan Lontar Wewatekan, setiap individu diwajibkan menjalani mebayuh sekali seumur hidup.
Oleh karena itu, hari kelahiran Hindu didasarkan pada pertemuan dua wewaran dan pawukon, yaitu Pancawara, Saptawara, dan Wuku," ungkapnya.
Upacara ini memiliki variasi unik bergantung pada konsep desa kala patra dan desa mawacara.
Upacara mebayuh oton biasanya dipilih berdasarkan wewaran dan wawukon.
Wewaran yang umumnya digunakan adalah Panca Wara (Umanis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon) dan Sapta Wara (Redite, Soma, Anggara, Budha, Wraspati, Sukra, dan Saniscara).
Sementara Wawukon mencakup berbagai kata seperti Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbereg, Wariga, Warigadean, Julungwangi Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Kelurut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menahil, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Klawu, Dukut lan Watugunung.
Sebagai contoh, jika seseorang lahir pada Pancawara Kliwon, Saptawara Saniscara, dan Wuku Wayang, maka hari kelahirannya disebut Tumpek Wayang. Hari ini dirayakan setiap enam bulan sekali (dua ratus sepuluh hari).
Menurut kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, hari kelahiran seseorang mempengaruhi kepribadian, tingkah laku, nasib, dan kesehatannya, dengan memperhitungkan faktor seperti lintang, dauh, ingkel, dan wewaran.
Dalam pelaksanaan pebayuh oton, terdapat dua cara menurut sastra agama Hindu di Bali.
Pertama adalah pebayuh agung, di mana upakara dilakukan untuk menghormati setiap dewa yang merestui kelahiran (oton), memerlukan persiapan dan material yang lebih besar.
Kedua adalah pebayuh alit. Bentuknya lebih sederhana namun mencakup pembayaran kepada seluruh dewa yang terkait dengan pawetonan.
Upacara mebayuh oton memiliki beberapa fungsi penting.
Pertama, secara religius, upacara ini bertujuan untuk membebaskan manusia dari sifat-sifat buruk yang membayangi mereka sejak lahir.
Setelah mebayuh oton, sifat-sifat buruk dapat dikuasai dan digantikan oleh sifat-sifat yang sesuai dengan norma agama Hindu.
Kedua, upacara ini merupakan warisan budaya lokal yang masih dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat.
Ketiga, upacara ini berperan dalam pembentukan karakter anak, selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karakter anak juga dipengaruhi oleh faktor bawaan sejak lahir.
Makna sejati dari upacara mebayuh adalah sebagai sarana untuk membayar utang (naurin) yang dibawa sejak lahir.
Dalam upacara ini, terdapat serangkaian banten penebusan sebagai simbol pembayaran utang pada kelahiran sang yajamana.
Dengan demikian, bayuh oton adalah sarana untuk membayar utang melalui upakara yang melibatkan seluruh dewa-dewa yang terkait dengan pawetonan.