BALI EXPRESS - Tirta Empul yang terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar menjadi tempat penglukatan yang begitu dikenal oleh masyarakat Bali.
Rupanya mitos Tirta Empul erat kaitannya dengan kisah Mayadanawa dan disuratkan dalam Lontar Usana Bali.
Pura Tirta Empul berdiri sejak tahun 1178. Posisi pura berada di sebelah istana kepresidenan, Istana Tampaksiring.
Jejak pura keramat ini dimulai dari penemuan mata air pada tahun 962 Masehi. Sejak itu, didirikan tempat permandian dekat dengan mata air.
Tempat permandian tersebut kini menjadi tempat pembersihan “pengelukatan” Pura Tirta Empul.
Keberadaan Pura Tirta Empul tidak terlepas dari kisah Mayadanawa. Hal ini terungkap dalam Lontar Usana Bali.
Lontar tersebut secara umum menceritakan tentang pertempuran raja Mayadanawa dengan Bhatara Indra dan pasukannya (sebagai simbolisasi dharma melawan adharma).
Dalam cerita tersebut tergambarkan tentang asal mula terciptanya Tirta Empul.
Jero Mangku Lingsir Pura Tirta Empul, Dewa Gede Mangku Wenten menjelaskan, dikisahkan pada awalnya para dewa (Dewata Nawa Sanga) turun ke bumi dan berstana di parhyangan-parhyangan untuk menjaga keseimbangan dunia.
Dalam hal ini, Mpu Sangkulputih ditugaskan untuk menyelenggarakan pemujaan di parhyangan sehingga tercipta suatu keseimbangan dunia.
Bhatara Pasupati yang datang dari Gunung Mahameru kemudian memberikan sabda ketika Mpu Sangkulputih sedang melakukan pemujaan.
Diceriterakan Sang Putranjaya datang ke Bali atas perintah dari Bhatara Pasupati demi menjaga Pulau Bali sebagai tempat para dewa.
Perjalanan Beliau diiringi oleh Bujangga dari Ampel Gading.
Mpu Sangkulputih telah tiba di Besakih pada sasih Kartika, dan di tempat tersebut beliau kemudian mendirikan pertapaan sebagai tempat untuk menghubungkan diri dengan para bhatara.
Di Bali pada waktu itu diperintah oleh Sang Ratu Jayapangus, dan beliau memerintah dengan baik serta selalu memperhatikan parhyangan-parhyangan di Bali.
Kondisi ini kemudian berubah drastis semenjak beliau digantikan oleh putranya yang bernama Sang Mayadanawa.
Pada saat pemerintahan Sang Mayadanawa, parhyangan-parhyangan tidak lagi dihiraukan. Sang Mayadanawa bahkan melarang rakyatnya untuk sembahyang di parhyangan-parhyangan tersebut.
Dikisahkan pemerintahan kerajaan Bedahulu di bawah Sang Mayadanawa memiliki wilayah yang sangat luas hingga wilayah Sasak, Bugis, Sunantara, Madura, dan Blangbangan.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sang Mayadanawa bersikap angkuh, sombong dan bahkan mengaku dirinya sebagai dewa (Tuhan).
Menyaksikan hal tersebut, para bhatara di Besakih menjadi sedih sehingga Mpu Sangkulputih bersama Bhatara Mahadewa dan Dewi Danuh menghadap kepada Bhatara Pasupati di Gunung Mahameru.
Dengan demikian, Bhatara Mahadewa bersama Bhatara Indra memberikan senjata untuk membinasakan Sang Mayadanawa, kemudian para bhatara, dewa dan danawa turun ke Bumi dari Keindraan untuk menandingi Sang Mayadanawa yang angkuh itu.
Pasukan Mayadanawa dipimpin oleh Sang Yaksa, Sena Yaksa, Sena Kala Dharma Wilsila dan Patih Sura Punggung. Semuanya adalah patih Mayadanawa yang sakti-sakti.
Peperangan sengit terjadi di antara kedua belah pihak. Pasukan Mayadanawa banyak yang gugur termasuk para patihnya, sedangkan Sang Mayadanawa bersembunyi.
Pasukan Bhatara Indra dengan komandan perangnya Rajawong dan Sena Raja Brahma terus mengamuk, namun Sang Mayadanawa sangatlah sakti.
Dia tidak dapat dibunuh dengan senjata dan setiap darahnya menetes ke bumi Sang Mayadanawa hidup kembali.
Dikisahkan, berkat daya upaya dari Sang Kalawong, Mayadanawa menciptakan sungai yang airnya beracun. Akibatnya banyak pasukan Bhatara Indra yang mati karena minum air beracun tersebut.
“Menyikapi hal tersebut, Bhatara Indra lalu menciptakan obat untuk menetralisir racun itu. Air sungai yang beracun itu kemudian dipastu (disucikan) oleh Bhatara Indra sehingga menjadi obat. Sungai tersebut kemudian disebut sebagai toya empul (Tirta Empul),” paparnya.
Pasukan Bhatara Indra yang meninggal itu kemudian dapat dihidupkan kembali dan penyerangan pun dilanjutkan.
Sang Kalawong terus dikejar oleh bala tentara para dewa, dan akhirnya lehernya dapat dipenggal hingga mati. Pada akhirnya Sang Mayadanawa pun dapat dibunuh dan darahnya mengalir menjadi sungai yang diberi nama toya Patanu.
Air sungai yang telah dialiri oleh darah Sang Mayadanawa kemudian dikutuk oleh Bhatara Indra bahwa apabila ada orang yang minum atau mandi di sungai tersebut niscaya akan kena sakit kulit yang tidak bisa diobati.
Persawahan yang diairi oleh aliran air sungai tersebut hasil padinya akan berbau busuk bagaikan bau bangkai dan tidak bisa dimakan.
Dikisahkan kemudian, setelah Sang Mayadanawa meninggal, pasukan Bhatara Indra dijamu oleh Mpu Sangkulputih di Besakih dan setelah itu Ida Bhatara moksa.
Mpu Sangkulputih amat senang hatinya. Beliau juga mencapai moksa seperti Ida Bhatara.
Setelahnya pemerintahan dipegang oleh Sri Aji Jayakasunu, dan atas petunjuk dari Bhatara Mahadewa maka setiap hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dunggulan (hari rabu Kliwon, wuku Dunggulan) dibuatkan sesajen selengkapnya yang dihaturkan kepada para bhatara di parhyangan.
Editor : Nyoman Suarna