Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Unik Hindu Bali di Pura Penataran, Penglipuran: Langgar Pantangan, Warga Wajib Gelar Keni Kesipat  

I Putu Mardika • Sabtu, 30 September 2023 | 00:14 WIB

 

 

KENI KESIPAT: Tradisi Keni Kesipat adalah salah satu ritual unik Hindu Bali di Pura Penataran, Desa Penglipuran, Bangli.
KENI KESIPAT: Tradisi Keni Kesipat adalah salah satu ritual unik Hindu Bali di Pura Penataran, Desa Penglipuran, Bangli.

BANGLI, BALI EXPRESS - Selain memiliki rumah adat yang khas dan ikonik, Desa Penglipuran, Kecamatan/Kabupaten Bangli juga memiliki ritual unik Hindu Bali yang disebut Keni Kesipat.

Ritual Hindu Bali yang digelar di Pura Penataran ini sebagai bentuk permohonan maaf secara niskala apabila warga melakukan pelanggaran.

Pura Penataran yang terletak di Desa Adat Penglipuran, Bangli, memiliki aturan  atau larangan yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat ketika berada di areal pura.

Larangan yang berlaku di Pura Penataran didasarkan pada kesepakatan bersama dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat.

Bendesa Adat Penglipuran, Wayan Budiartana menjelaskan, warga dilarang melewati Kori Agung Pura Penataran atau yang biasa disebut gelung bagi masyarakat Penglipuran.

“Larangan yang dimaksud berlaku bagi perempuan hamil dan orang tua yang sudah mempunyai kumpi atau buyut,” katanya.

Kori Agung adalah bangunan suci yang berada di pura, yang letaknya pada tembok (panyengker) bagian depan, yang terbelah atau terpisah di antara kedua sisinya, yang dapat difungsikan menjadi pintu masuk atau pintu keluar bagi umat Hindu yang datang untuk bersembahyang ke pura.

Kori Agung memiliki simbol sebagai pemisah atau memisahkan pamedek atau umat hindu yang hadir ke tempat suci dari kondisi camah atau kotor ke kondisi bersih (suci), baik secara lahir dan batin

Masyarakat Desa Adat Penglipuran sangat memegang teguh adat istiadatnya. Selain itu, adanya beberapa larangan yang terdapat di Pura Penataran, menjadikan pura tersebut berbeda dari pura pada umumnya.

“Masyarakat Penglipuran juga melaksanakan Ritus Keni Kesipat yang bertujuan untuk memohon pengampunan terhadap Tuhan atau Dewa di Pura Penataran karena telah melakukan pelanggaran,” ungkapnya.

Larangan lainnya adalah bagi perempuan yang sudah menikah ketika berada di Pura Penataran, tidak diizinkan duduk, menyentuh ataupun berada di bawah cucuran atap Bale Agung, Bale Deha, Palinggih Ratu Pingit dan Palinggih Ratu Ayu Melasem.

Bale Agung bagi masyarakat Penglipuran merupakan tempat tertinggi, sehingga tidak boleh sembarang orang yang duduk disana.

“Pura Penataran mendapat tempat khusus di masyarakat Desa Adat Penglipuran. Jika ada yang melanggar akan diadakan sebuah ritus pembersihan diri yang disebut Ritus Keni Kesipat,” sebutnya.

Pura Penataran Desa Adat Penglipuran merupakan tempat yang sakral. Ritus Keni Kesipat dilaksanakan di Pura Penataran karena merupakan pura sentral,  yaitu palinggih atau bangunan yang sudah ada dibuatkan kembali di Pura Penataran.

Selain itu, Ritus Keni Kesipat dilaksanakan di Pura Penataran karena hanya di Pura Penataran terdapat larangan-larangan seperti melewati Kori Agung bagi ibu hamil dan orang tua yang mempunyai kumpi atau buyut, dilarang duduk, menyentuh ataupun berada dibawah cucuran atap Bale Deha, Bale Agung, Palinggih Ratu Pingit, Palinggih Ratu Ayu Melasem.

Upacara Keni Kesipat dilakukan apabila seseorang melakukan pelanggaran terkait dengan tabu atau larangan-larangan di Pura Penataran. 

Apabila seseorang melanggar akan dinetralisasi agar orang yang melakukan pelanggaran dan lingkungan suci kembali.

Ritual ini merupakan bagian dari Guru Piduka karena sama-sama merupakan upacara permohonan maaf, namun berbeda dari segi sarana maupun prosesnya.

“Ritus Keni Kesipat dilakukan oleh masyarakat Penglipuran karena pelanggaran terhadap larangan pada tempat-tempat yang dikeramatkan di Pura Penataran, seperti di Bale Agung, Bale Deha, Kori Agung, Palinggih Ratu Pingit, dan Palinggih Ratu Melasem,” paparnya.

Mohon Maaf Bawa Panyeneng

Pelanggaran terhadap larangan terjadi karena tidak sengaja dilakukan oleh masyarakat Penglipuran, Bangli, Bali.

Ketika terjadi pelanggaran, maka di pura menjadi leteh atau kotor sehingga untuk mengembalikan kesucian pura, maka dilakukan Ritus Keni Kesipat.

Upacara Keni Kesipat dilakukan secara individu terkait dengan upacara besar di Pura Penataran seperti purnama, tilem, ngusaba yang dipimpin oleh Jro Kubayan. Sarana yang dipergunakan saat upacara ada dua, yaitu sebelum melakukan Keni Kesipat orang yang melakukan pelanggaran.

Mereka akan pergi ke rumah Jro Kubayan dengan tujuan menyampaikan bahwa akan melakukan Ritus Keni Kesipat dengan membawa pangolem, kemudian akan ditentukan kapan orang yang melanggar melakukan Ritus Keni Kesipat. Saat melakukan Ritus Keni Kesipat masyarakat akan membawa sarana berupa panyeneng.

“Secara khusus Ritus Keni Kesipat sebagai permohonan maaf kepada Dewa Brahma karena telah melakukan pelanggaran di tempat-tempat yang dikeramatkan,” imbuh Budiartana

Menurutnya, spirit dari upacara ini adalah menjaga kesucian pura. Krama berupaya menjaga keselamatan agar terhindar dari musibah, baik secara sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Selain itu, menjadi momentum melakukan introspeksi diri agar masyarakat tidak melakukan pelanggaran yang sama di Pura Penataran.

Msyarakat Penglipuran melakukan hal ini,  sebut Budiartana, bertujuan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam atau lingkungan sehingga terjalin keharmonisan.

Ia menambahkan,  upacara ini kian menumbuhkan sikap taat dan jujur, meskipun pelanggaran dilakukan secara individu dan bersifat sangat pribadi atau tidak ada yang tahu, namun mereka yang melanggar akan mengakui kesalahannya.

“Pelaksanaan Ritus Keni Kesipat sebagai wujud nyata dari pembentukan karakter masyarakat agar selalu taat aturan,” tutupnya.

 

CERUK PUNDI: Glofish ramai jadi primadona pembeli lantaran warna mencolok dan perawatannya mudah.
CERUK PUNDI: Glofish ramai jadi primadona pembeli lantaran warna mencolok dan perawatannya mudah.
PUISI REGGAE: Aziz beraksi bersama Slayer Rasta Reggae Steady membawakan puisi Kupanggil Namamu karya WS Rendra dalam Ghun-tèngghun Konser Musikalisasi Puisi Multigenre 7 Penyair Nasional.
PUISI REGGAE: Aziz beraksi bersama Slayer Rasta Reggae Steady membawakan puisi Kupanggil Namamu karya WS Rendra dalam Ghun-tèngghun Konser Musikalisasi Puisi Multigenre 7 Penyair Nasional.
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #unik #panglipuran #hindu #pura