Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Meurup Urup bukan Mengemis, Ini Faktanya yang Dilakukan Masyarakat Munti Gunung

I Putu Mardika • Sabtu, 30 September 2023 | 17:24 WIB
MEURUP URUP: Tradisi Meurup urup yang dilakukan masyarakat Banjar Munti Gunung, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem bukan mengemis.
MEURUP URUP: Tradisi Meurup urup yang dilakukan masyarakat Banjar Munti Gunung, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem bukan mengemis.

BALI EXPRESS – Tradisi meurup urup bertujuan agar masyarakat tidak melakukan kegiatan mengemis atau meminta-minta tanpa bekerja dan berusaha, sehingga tetap dapat terhindar dari kelaparan karena musim kemarau.

Dikatakan Agung Pasrisak Juliawan, Meurup urup dilakukan karena keadaan yang memaksa masyarakat Banjar Munti Gunung Desa Tianyar Barat untuk bertahan hidup.

Tradisi Meurup urup merupakan salah satu bentuk nilai-nilai rasa hormat dan tangung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.

Akibat mengalami kekeringan pada musim kemarau, masyarakat Munti Gunung terpaksa mencari celah untuk bertahan hidup dengan Meurup urup.

Tradisi Meurup urup yang terjadi secara musiman ini akan berhenti ketika musim hujan telah tiba dan masyarakat Banjar Munti Gunung Desa Tianyar Barat bisa menanam berbagai macam tanaman di tanah pertanian mereka.

Ketika persediaan makanan dianggap mencukupi, tradisi Meurup urup tersebut akan dihentikan.

 “Saat sudah tersedia bahan makanan maka masyarakat Bajar Munti Gunung akan berhenti melakukan kegiatan Meurup urup,” sebutnya.

“Masyarakat Banjar Munti Gunung sangat anti terhadap kegiatan meminta-minta karena dinilai merendahkan harga diri mereka,” ungkapnya.

Tradisi Meurup urup merupakan salah satu bentuk perdagangan barter, yaitu pertukaran antara hasil pertanian masyarakat Munti Gunung dengan masyarakat lainnya, walapun nilainya tidak seimbang.

Dengan demikian, masyarakat Munti Gunung tidak melakukan kegiatan mengemis.

“Begitu musim hujan tiba, masyarakat Munti Gunung akan melakukan aktivitas pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga tidak lagi melakukan aktivitas barter,” paparnya.

Tradisi Meurup-urup dibangun paska  Gunung Agung meletus, sekitar tahun 1963. Saat itu masyarakat Karangasem, terutama Munti Gunung  dilanda krisis sambako.

Semenjak itu masyarakat daerah Tianyar, Pedaan, Paleg dan Bajar Munti Gunung Desa Tianyar Barat terbiasa menukarkan hasil pertaniannya kapada masyarakat lain yang dikenal dengan istilah Meurup-urup.

“Komuditas yang ditukar di antaranya  jagung, garam, dan gula merah. Barang-barang itu ditukar dengan beras, singkong, kelapa, buah-buahan dan uang dari daerah lain,” imbuhnya.

Masyarakat desa lain biasanya memahami proses Meurup-urup ini dengan kegiatan yang bersifat semi-barter dan semi-amal, sehingga barang yang ditukar tidak menggunakan ukuran yang setara..

Editor : Nyoman Suarna
#bali #musim kemarau #mengemis #munti gunung #meurup urup #tradisi