BALI EXPRESS- Rangkaian Purnama Kapat dirayakan dengan penuh suka cita oleh krama Desa Adat Nagasepaha, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali. Salah satunya adalah tradisi Ngigel Desa, Sabtu 30 September 2023.
Tradisi Ngigel Desa ini dilakukan oleh krama Desa Melinggih setiap 2 tahun. Krama Desa Melinggih ini adalah krama Desa Nagasepaha yang tugasnya menari saat piodalan.
Puluhan krama lanang (laki-laki) Melinggih mengikuti tradisi Ngigel Desa di Pura Desa, Desa Nagasepaha sehari usai pelaksanaan piodalan yang jatuh pada Purnama Kapat, Jumat 29 September 2023.
Tarian yang wajib dipentaskan setiap pujawali ini merupakan simbol menek madesa bagi krama Desa Nagasepaha.
Istilah krama melinggih ini sendiri adalah karma yang baru bergabung menjadi warga Desa Nagasepaha (secara ayahan) karena sebelumnya merantau atau baru menikah.
Sebelum dipentaskan, sebanyak 35 penari dari krama Melinggih yang seluruhnya adalah laki-laki dan wajib dirias.
Mereka menggunakan pakaian layaknya penari, dengan riasan yang kreasinya dibebaskan. Secara turun-temurun, warga Desa Nagasepaha rutin melaksanakan tradisi Ngigel Desa ini.
Pelaksanaan tradisi ini dianggap sebagai sujud syukur atas pelaksanaan piodalan di Pura Kahyangan Tiga Desa Nagasepaha yang dilaksanakan pada Purnama Sasih Kapat.
Diiringi tetabuhan tua khas Desa Nagasepaha, mereka menari di hadapan ribuan krama Desa Nagasepaha.
Ada yang menari dengan serius, bahkan ada pula beberapa penari yang mengundang gelak tawa.
Panitia Karya memberikan waktu kurang lebih 5 menit untuk untuk menari. Sebagai tanda sudah dilaksanakan sesolahan, para penari diwajibkan menyentuh api damar yang diletakkan di madya mandala.
Salah satu krama Melinggih, Made Alit Budiarta menjelaskan, sebagai krama Desa Melinggih yang baru, hal ini merupakan suatu tantangan dan tradisi yang wajib dilaksanakan.
Bahkan menurut Alit, pelaksanaan Ngigel Desa ini sebagai uji mental krama Desa Melinggih untuk tampil di hadapan masyarakat.
Pihaknya pun sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari sarana dan prasarana Ngigel Desa, termasuk sempat berlatih menari agar gerakan tidak terlihat kaku. Meski demikian, ia yakin jika tariannya tetap bisa menghibur.
“Ini merupakan tantangan dan tradisi yang wajib kami laksanakan. Persiapan sudah sebelum odalan, baik itu keris hingga busana tetarian. Bahkan sempat pula berlatih menari biar tidak kaku,” terangnya.
Pihaknya pun merasa sangat senang bisa melestarikan drestha yang diwariskan leluhur secara turun temurun.
“Sebagai krama kami pasti bersemangat dan bergembira melaksanakan kegiatan, untuk meningkatkan rasa persatuan dan persatuan dengan sesama krama desa adat,” paparnya. (*)
Editor : I Made Mertawan