Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Hindu Bali Melapu: Bentuk Komunikasi Masyarakat Bayung Gede untuk Memecah Persoalan di Desa

I Putu Mardika • Selasa, 3 Oktober 2023 | 16:31 WIB
MELAPU: Bendesa Adat Bayung Gede, Kintamani, Bangli mengatakan, tradisi Melapu ini sebagai momentum untuk mesadu arep untuk mencari titik temu atas berbagai persoalan yang ada di desa.
MELAPU: Bendesa Adat Bayung Gede, Kintamani, Bangli mengatakan, tradisi Melapu ini sebagai momentum untuk mesadu arep untuk mencari titik temu atas berbagai persoalan yang ada di desa.

BALI EXPRESS - Tak hanya dikenal dengan tradisi Ari-Ari Megantung, Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Bangli juga memiliki tradisi Melapu.

Tradisi ini merupakan sebuah bentuk komunikasi masyarakat Bayung Gede untuk memecah masalah atau membicarakan berbagai persoalan hingga mencapai kesepakatan.

Bendesa Adat Bayung Gede, Jro Ketut Sukarta mengatakan, tradisi Melapu ini sebagai momentum untuk mesadu arep demi mencari titik temu atas berbagai persoalan yang ada di desa.

Ia menjelaskan, ada tiga tahapan yang harus dilalui dalam proses melapu ini. Yakni mulai dari tahap sebelum Melapu, tahapan saat Melapu dan tahap ketiga yakni sesudah Melapu dilaksanakan.

Proses Melapu sangat erat kaitannya dengan sarana Kulkul (kentongan) dan Kesinoman atau juru arah.

Media Kulkul yang dipukul dapat mengeluarkan bunyi atau suara sebagai suatu pesan yang bermakna pemberitahuan bahwa peristiwa.

Sedangkan Kesinoman merupakan petugas sesuai urutan posisi tegak (jabatan) yang ditunjuk dari kraman ngarep (warga inti) dengan masa tugas setiap 15 (lima belas hari) dengan waktu pergantian setiap hari Tilem (bulan mati).

“Kulkul dan Kesinoman berperan sebagai penyampai pesan kepada warga masyarakat. Setiap warga yang jumlahnya 163 sudah pasti akan mendapatkan bagian tugas sebagai Kesinoman atau juru arah,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelum dan sesudah tradisi Melapu dijalankan, seorang Kesinoman akan meyampaikan pesan berkeliling ke setiap gang-gang desa dan rumah-rumah warga.

Melapu atau rapat yang ada di Bayung Gede memiliki beragam jenis dan tingkatan. Seperti Melapu lingkup atau tingkatan Ulu Apad saing 16 (enam belas), Melapu lingkup Jro Peduluan/Kubayan dengan Jro Bendesa Adat, Melapu lingkup Prajuru, Melapu lingkup De Teruna-De Teruni, Melapu lingkup Desa Pengarep.

“Untuk jangka waktu, misalnya bersifat mendadak, purnama tilem (15 hari sekali), sasih (bulanan), warsa (satu tahun), atau saat upacara dan kegiatan adat. Keterlibatan warga dalam tradisi Melapu juga berbeda-beda,” imbuhnya.

Selain Kesinoman, ada pula peran Jro Kubayan Mucuk atau oleh Jro Bendesa Adat, bahwa tugas dan tanggung jawab seorang Kesinoman juga merupakan tegak (posisi) atau kewajiban tugas berjenjang dalam konsep kepemimpinan Ulu Apad yang tidak boleh ditolak.

Pasalnya, jika tugas seorang Kesinoman ditolak oleh warga atau seseorang dari warga ngarep atau inti, maka seseorang tersebut sudah memutus rantai jenjang konsep kepemimpinan Ulu Apad.

Ia menambahkan, kegiatan mepengarah (mewartakan pesan) ini ada berbagai macam.

Jika mepengarah nguduin, bentuknya mepengarah ke rumah-rumah warga dan harus dapat ketemu dengan pemilik rumah secara langsung atau bertatap muka langsung.

Sebab, mepengarah nguduin ini berkaitan dengan pesan bahan atau sarana prasarana atau kebutuhan upacara yang harus dibawa atau disetorkan ke desa.

Apabila pemilik rumah tidak ada di rumah, maka dapat dititipkan pesan atau pemberitahuan tersebut kepada pemilik rumah yang ada di tebenan (dibawahan-pemilik rumah arah timur atau pemilik rumah arah selatan).

Lalu, bagaimana bahasa saat melapu?

Jro Ketut Sukarta mengatakan bahasa yang digunakan saat melapu adalah Bahasa Bali pada umumya. “Krame desa Melapu mani semengan metambun di bale banjare. Krame desa tedun mani semengan mepupul di bale banjare. Krame pengayah tedun mani semengan makte blakas, metambun di bale dangin. Krame banjar benjang Melapu, makte udud, makte sampat mepupul di setra ne,” imbuhnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #Persoalan #melapu #hindu #bayung gede #tradisi #Komunikasi