BALI EXPRESS - Dalam praktik agama Hindu di Bali, selain bunga, kewangen juga sering digunakan sebagai sarana persembahyangan.
Kewangen berasal dari kata "wangi" dengan tambahan imbuhan "ka" dan akhiran "an", sehingga menjadi "kawangian", lalu berasimilasi menjadi "kawangen", dan kemudian dilafalkan menjadi kata "kewangen".
Ni Luh Cesi, seorang penyuluh Agama Hindu di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, menjelaskan, wangi berarti harum atau sedap.
Oleh karena itu, kewangen digunakan untuk menghadirkan aroma yang harum dalam persembahyangan, demi menghormati Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dalam kaidah sandi suara, kata "kawangian" berubah menjadi "kawangen" atau "kewangen" setelah disandikan.
Namun, kewangen tidak hanya memiliki makna harum semata, tetapi juga mengandung simbolisme yang dalam.
Kewangen memiliki bentuk yang meniru aksara Ongkara (Omkara), yang merupakan simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Bagian "kojong" kewangen, yang terbuat dari daun pisang dalam bentuk kerucut terbalik, melambangkan angka tiga yang merupakan bagian dari Omkara.
Selain itu, bentuk bulan sabit atau "ardhacandra" pada kewangen melambangkan lubang "kojong". Sedangkan nada atau bintangnya diwakili oleh sampiyan yang berbentuk segi tiga yang menonjol di atas kojong.
Kewangen juga diikat dengan benang tri datu yang terdiri dari tiga warna: merah, putih, dan hitam. Warna merah melambangkan kekuatan utpati Dewa Brahma, warna putih melambangkan kekuatan pralina Dewa Iswara, dan warna hitam melambangkan kekuatan sthiti Dewa Wisnu.
Penggunaan benang tri datu untuk mengikat kewangen melambangkan manifestasi Tuhan dalam tiga kekuatan: Utpati (tumbuh atau lahir), Sthiti (hidup atau berkembang), dan Pralina (mati atau kembali ke asal).
Dengan cara ini, kewangen menjadi sarana simbolis yang dihaturkan sebagai persembahan dalam persembahyangan.
Kewangen yang diikat dengan benang tri datu khususnya digunakan dalam upacara awal.
Upacara ini diharapkan dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan bangunan yang diupacarai, terutama saat upacara melaspas bangunan suci atau rumah.
Namun ada juga kewangen yang diletakkan di jenazah tanpa berisi porosan silih asih. Jenis kewangen ini dikenal sebagai "surat walung kepala" dan tidak berfungsi sebagai sarana persembahyangan.
Kewangen ini diletakkan di kepala, hulu hati, dada, kedua siku, dan kedua lutut jenazah.
Penggunaan kewangen dapat dijelaskan dalam berbagai upacara Hindu di Bali.
Dalam upacara Pitra Yajna, kewangen dijadikan unsur banten untuk Dewa-dewi yang merupakan simbol Tuhan dalam manifestasinya sebagai purusa pradana.
Banten ini ditempatkan di sanggar pesaksi atau Sanggar Surya.
Dalam upacara mendem pedagingan, kewangen digunakan sebagai sarana "penghidup" secara spiritual bagi bangunan atau pelinggih.
Dalam sesayut penawa – sanga, terdapat 9 kewangen yang merujuk kepada dewata di delapan arah mata angin dan pusat, menciptakan konsep Dewata Nawa Sanga yang menguasai seluruh penjuru alam semesta.
Ini adalah lambang bahwa Tuhan memiliki penguasaan penuh atas seluruh penjuru alam semesta.
Penggunaan sesajen pageh urip, yang melambangkan kehidupan yang kuat, kokoh, dan teguh, menghadapi segala cobaan.
Dalam upacara bhuta yajna, seperti caru, setiap binatang yang digunakan sebagai kurban suci diisi dengan kewangen.
Hal ini dimaksudkan untuk menghidupkan binatang secara simbolis dan memastikan bahwa mereka bereinkarnasi dengan lebih utama di masa mendatang.
Editor : Nyoman Suarna